OLAHRAGA

BELAJAR KEHIDUPAN MELALUI FILOSOFI SEPAKBOLA

Oleh : Buralimar
(Peminat Sosial dan Olahraga)

Sepakbola itu olahraga penuh filosofi, bukan sekadar adu otot atau papan taktik.

Ia tontonan yang bisa bikin kecewa semalaman lalu membuat kita bahagia tanpa alasan keesokan harinya, karena di dalamnya ada cermin kehidupan yang sangat jujur.

Kita belajar pertama dari susunan pemain. Formasi mengajarkan pembagian tugas dan amanah. Tidak semua orang boleh maju, tidak semua orang harus bertahan.

Ada yang ditakdirkan menjaga kedalaman, ada yang diminta menusuk ke depan. Dalam hidup, itu sama dengan peran di rumah atau di kantor.

Jika semua ingin jadi penyerang, siapa yang menutup celah saat masalah datang dari belakang.

Kerjasama lalu menuntut kesetaraan ego. Di lapangan ada tipe seperti Andrea Pirlo pemain Italia yang terkenal yang tenang, mengalirkan bola tanpa banyak bicara, ada juga tipe seperti Cristiano Ronaldo pemain Portugal yang emosional dan mengejar target pribadi dengan ambisi terbuka.

Keduanya bisa hidup berdampingan asal mau mengoper dan melengkapi. Ada yang harus menjaga gawang seperti Gianluigi Buffon(Italia) yang memulai debut pada 1997, bermain di lima Piala Dunia, dan menjadi kiper utama Italia saat juara 2006 dengan hanya kebobolan dua gol sepanjang turnamen dan meraih Sarung Tangan Emas sebagai kiper terbaik.

Ada yang tugasnya mencetak gol. Semua dikolaborasikan agar tujuan tercapai, bukan agar satu nama bersinar sendirian.

Dari bangku pelatih kita melihat bahwa sebaik apa pun taktik, hasil kadang di luar dugaan.

Johan Cruyff dengan Sepak Bola Total mengajarkan bahwa sepakbola dimainkan dengan kepala dulu, baru kaki membantu, dan ia mengingatkan, sepak bola adalah permainan kesalahan, siapa yang membuat paling sedikit kesalahan, dia yang menang.

Dimulai dari kepala maksudnya dipikirkan duku baru ditendang ke arah mana. Pep Guardiola tidak sibuk menghitung trofi di akhir musim, ia berkata fokusnya adalah memastikan tim meraih hasil di pertandingan berikutnya, bukan memikirkan klasemen orang lain.

Carlo Ancelotti menang dengan cara berbeda, ia merawat manusia sebelum merawat skema.

Strategi untuk menang dalam kehidupan yang bisa kita ambil dari mereka sederhana, berpikir sebelum bereaksi, kurangi kesalahan yang tidak perlu, dan selesaikan pertandingan hari ini sebelum mengkhawatirkan besok.

Pemain juga memberi contoh sikap. Ada yang harus jatuh bangun berkali-kali di panggung yang sama. Lionel Messi kalah di final Copa America 2007, 2015, dan 2016, sebelum akhirnya mengangkat trofi pada 2021, ia juga kalah final Piala Dunia 2014 dari Jerman dan baru menebusnya delapan tahun kemudian pada 2022.

Ia sendiri merangkumnya, kamu harus berjuang untuk meraih mimpimu, kamu harus berkorban dan bekerja keras untuk itu, dan segala yang kulakukan, kulakukan untuk sepak bola, demi meraih mimpiku.

Di sisi lain ada pendatang baru yang langsung mengubah sejarah. Kylian Mbappé memenangkan Piala Dunia 2018 bersama Prancis saat baru berusia 19 tahun, ia mencetak empat gol sepanjang turnamen dan dinobatkan sebagai pemain muda terbaik setelah final.

Jauh sebelumnya, Pelé melakukannya lebih muda lagi, ia memenangkan tiga gelar Piala Dunia pada 1958, 1962, dan 1970, menjadi satu-satunya pemain yang melakukannya dan yang termuda memenangkannya pada usia 17 tahun, ia juga menjadi pemain termuda yang tampil dan mencetak gol di final Piala Dunia, dengan enam gol di turnamen 1958.

Semua kisah itu kembali ke sikap diri. Sepakbola memang permainan yang penuh kesalahan, dan siapa yang paling sedikit salahnya biasanya menang.

Ekspektasi diri yang berlebihan sering menjadi musuh tak terlihat, kita menyimpan tekanan sendiri lalu menyalahkan wasit, cuaca, atau nasib.

Padahal Cruyff juga pernah berkata, setiap kekurangan punya kelebihannya, yang artinya setiap kekurangan bisa diputar menjadi keunggulan jika cara pandang digeser.

Rubah paradigma itu terasa nyata dalam hidup sehari-hari di mana pun kita bekerja.

Di kantor, kita tidak perlu selalu menjadi pencetak gol, kadang peran kita adalah Buffon yang menahan dua peluang berbahaya agar tim tidak runtuh.

Di rumah, kita belajar seperti Guardiola, pertandingan hari ini selesai, besok ada tugas baru, jangan membawa kekalahan tadi malam ke meja makan.

Saat bisnis seret atau rencana tidak sesuai harapan, ingat Messi yang kalah tiga final beruntun tapi tetap datang latihan, karena ia tahu kerja keras bukan jaminan menang cepat, tapi jaminan tetap layak bertanding.

Filosofi sepakbola pada akhirnya mengajarkan ketahanan mental. Hidup keras, tekanan datang dari atasan, dari cicilan, dari komentar orang.

Sepakbola tidak menawarkan jalan pintas, ia menawarkan ritme, ada babak pertama, ada jeda, ada babak kedua.

Jika kita menerima bahwa kesalahan itu bagian dari permainan, bahwa peran itu amanah, dan bahwa fokus terbaik adalah pada laga berikutnya, maka kecewa tidak lagi melumpuhkan dan bahagia tidak lagi membuat lupa diri.***

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *