OPINI

Menjemput Berkah Pariwisata Olahraga: Pelajaran dari Piala Dunia untuk Kepri

Oleh: Yuli Seperi, Alumni S1 Geografi Universitas Gadjah Mada dan
S2 Perencanan Pengembangan Pariwisata Batam Tourism Polytechnic

Kemegahan Piala Dunia 2026 yang saat ini sedang berlangsung di tiga negara
Amerika Serikat,

Meksiko, dan Kanada menjadi bukti nyata bahwa sepak bola bukan sekadar permainan sebelas lawan sebelas di lapangan hijau.

Lebih dari itu, ia adalah magnet universal yang mampu melampaui batas-batas geopolitik, status sosial, dan sekat ekonomi.

Selama dua pekan terakhir, layar kaca kita terus disuguhi pemandangan luar biasa dari tribun-tribun stadion yang dipadati oleh lautan manusia.

Menariknya, atmosfer riuh tersebut tidak hanya didominasi oleh suporter dari negara-negara mapan dengan tradisi sepak bola kuat.

Gelombang pendukung dari negara yang mungkin jarang kita dengar namanya dalam percaturan global seperti Tanjung Verde, hingga negara-negara Afrika dan Karibia yang masih berjuang dengan kemiskinan seperti Republik Demokratik Kongo dan Haiti, turut hadir dalam jumlah yang masif.

Kehadiran fisik para pendukung yang rela menyeberangi samudra ini menjadi mesin penggerak ekonomi yang luar biasa dan sumber devisa instan yang sangat besar bagi sektor pariwisata negara penyelenggara.

Fenomena mobilitas manusia berskala raksasa ini bukanlah sebuah kebetulan. Franco dkk. (2024) dalam studi ilmiahnya menjelaskan bahwa rasa nasionalisme dan semangat patriotisme yang mendalam dari seorang warga negara untuk menyaksikan langsung tim nasionalnya berlaga merupakan faktor psikologis utama yang mengalahkan segala kalkulasi biaya perjalanan.

Momentum psikologis inilah yang kemudian dikapitalisasi menjadi keuntungan ekonomi. Sebagaimana ditulis oleh Mortada (2024), ajang mega-event seperti Piala Dunia selalu memicu lonjakan pertumbuhan pariwisata jangka pendek yang sangat signifikan.

Efek ini didorong oleh eksposur media internasional yang masif serta promosi budaya secara cuma-cuma yang menjangkau miliaran pasang mata di seluruh dunia.

Tidak hanya itu, keuntungan non-material yang tidak kalah penting adalah perbaikan citra wilayah (destination branding). Pengalaman langsung yang positif terkait aspek keamanan dan keramahan tuan rumah mampu mengikis kekhawatiran global yang selama ini menghantui.

Hal ini telah dibuktikan melalui riset Lepp dan Gibson (2011) saat Piala Dunia 2010 di Afrika Selatan yang berhasil mengubah persepsi negatif masyarakat dunia tentang isu keamanan di sana, serta dikuatkan kembali oleh penelitian Hayder dkk. (2025) pasca Piala Dunia Qatar 2022 yang menyimpulkan bahwa kepuasan penonton terhadap jaminan keamanan berbanding lurus dengan tingginya minat mereka untuk berkunjung kembali di masa depan.

Namun, sejarah juga mencatat bahwa euforia sport tourism berisiko runtuh menjadi fatamorgana jika tidak dikelola dengan bijak.

Begitu peluit panjang tanda berakhirnya kompetisi ditiup dan para suporter kembali ke negara masing-masing, sebuah kota atau negara sering kali dihadapkan pada ancaman kelesuan ekonomi pasca-event.

Oleh karena itu, Jinghan (2026) mengingatkan dengan tegas bahwa untuk mempertahankan pertumbuhan pariwisata dalam jangka panjang, diperlukan perencanaan strategis yang matang, pengelolaan sumber daya yang efektif, serta manajemen warisan infrastruktur (legacy management) yang visioner agar fasilitas yang dibangun tidak berakhir menjadi “gajah putih” yang mubazir.

Catatan krusial inilah yang mendesak untuk direfleksikan dan diadaptasi ke dalam lanskap pariwisata di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).

Sebagai wilayah kepulauan yang strategis, Kepri sebenarnya memiliki modalitas yang kuat dalam mengawinkan sektor olahraga dan pariwisata.

Sayangnya, jika kita memetakan kondisi riil di lapangan, denyut nadi sport tourism yang mapan dan rutin digelar setiap tahun seperti Bintan Triathlon, Tour de Bintan, dan Mandiri Bintan Marathon, masih sangat timpang karena hanya tertumpu di Kabupaten Bintan.

Sementara itu, kabupaten dan kota lainnya di Kepri seolah berjalan di tempat tanpa adanya agenda olahraga tahunan yang terselenggara secara kontinyu dan konsisten.

Ironisme tata kelola pariwisata kita semakin terlihat jelas pada tahun 2026 ini.

Di saat mata dunia sedang tertuju pada kompetisi-kompetisi global, Kepri sebenarnya dipercaya menjadi tuan rumah untuk ajang berskala internasional, yaitu turnamen bola basket 3×3 FIBA Women yang dijadwalkan bergulir pada bulan Juli besok.

Sebuah kompetisi resmi yang diikuti oleh para pebasket putri terbaik dari berbagai belahan dunia seharusnya menjadi panggung emas bagi daerah.

Namun apa yang terjadi? Hajatan besar ini justru sunyi, sepi dari gemuruh pemberitaan, dan nyaris tanpa promosi yang berarti di ruang publik.

Ketika sebuah event dunia yang sudah berada di depan mata dilewatkan begitu saja tanpa strategi komunikasi yang masif dan agresif, kita tidak hanya kehilangan potensi devisa dari kunjungan atlet dan pendukungnya, tetapi juga kehilangan momentum berharga untuk mengenalkan destinasi wisata, keunikan seni, serta kekayaan budaya lokal ke panggung global.

Kita gagal memanfaatkan pemicu jangka pendek yang seharusnya bisa menjadi batu loncatan bagi pertumbuhan ekonomi daerah.
Untuk memecah kebuntuan dan ketimpangan ini, sudah saatnya Pemerintah Provinsi dalam hal ini Gubernur Kepri, duduk bersama dengan para Bupati dan Wali Kota. Dibutuhkan sebuah komitmen politik dan eksekutif yang kuat untuk melahirkan sekaligus menyelenggarakan minimal satu event olahraga pariwisata berskala besar setiap tahunnya di masing-masing wilayah.

Memanfaatkan tren gaya hidup sehat masyarakat modern yang sedang digandrungi, kompetisi lari jalan raya (road race atau marathon) dapat menjadi pilihan paling rasional dan efektif.

Olahraga lari adalah olahraga rekreasi dengan basis massa terbesar saat ini. Jika para Bupati dan Wali Kota jeli melihat pasar, mereka harus memanfaatkan kegemaran masyarakat ini menjadi agenda tahunan resmi daerah.

Dengan kemasan acara yang profesional, penyediaan total hadiah yang besar, serta promosi yang gencar, ajang ini dipastikan mampu menjaring ribuan pelari penghobi (heavy-traveling runners) tidak hanya dari kota-kota besar seperti Jakarta, tetapi juga dari Singapura dan Malaysia.

Faktor kedekatan geografis dan aksesibilitas yang kita miliki di Kepulauan Riau sebenarnya adalah kekuatan utama (core strength) yang selama ini belum dioptimalkan secara maksimal.

Tentu saja, kesuksesan mendatangkan ribuan pelari mancanegara dan nusantara ini wajib dibarengi dengan kesiapan fisik di lapangan.

Kuncinya terletak pada keberanian pemerintah daerah untuk menempatkan perbaikan dan pemeliharaan infrastruktur jalan sebagai prioritas utama pembangunan.

Logikanya sangat sederhana namun berdampak panjang: infrastruktur jalan yang mulus dan aman mungkin hanya digunakan selama satu atau dua hari untuk kepentingan jalur perlombaan, namun fasilitas publik yang berkualitas tersebut akan dinikmati dan memfasilitasi mobilitas ekonomi masyarakat lokal selama 364 hari berikutnya dalam setahun. Investasi ini tidak akan pernah sia-sia.

Ketika para pelari penghobi atau atlet rekreasi ini merasa puas dengan profesionalisme kepanitiaan, keindahan lanskap, serta keamanan trek yang mereka lalui, secara psikologis akan terbangun ikatan emosional yang positif terhadap daerah tersebut.

Kepuasan inilah yang akan mendorong mereka untuk kembali berkunjung di masa liburan berikutnya, tidak lagi sebagai peserta lomba, melainkan sebagai wisatawan reguler yang membawa serta keluarga dan teman-teman mereka.

Secara tidak langsung, para pencinta olahraga ini akan bertransformasi menjadi duta promosi berjalan yang sangat efektif melalui kekuatan testimoni digital di media sosial mereka.

Pada akhirnya, kita harus menyadari bahwa sport tourism bukan sekadar tren sesaat, melainkan instrumen strategis yang jika dikelola dengan perencanaan yang matang dan promosi berkelanjutan, mampu menggerakkan ekonomi kerakyatan dari sektor perhotelan, UMKM kuliner, hingga transportasi lokal.

Sama halnya dengan pelajaran berharga yang dipamerkan oleh kemegahan Piala Dunia 2026, event olahraga pariwisata adalah kunci pembuka pintu bagi kedatangan wisatawan secara masif sekaligus panggung terbaik untuk menunjukkan jati diri sebuah daerah kepada dunia.

Pertanyaan mendasar yang tersisa kini adalah: apakah kita di Kepulauan Riau hanya akan puas duduk manis di depan layar kaca, sekadar menjadi penonton pasif yang mengagumi kesuksesan bangsa lain tanpa mau memetik pelajaran berharga yang tersimpan di dalamnya?

Jawabannya kini sepenuhnya berada di tangan komitmen, visi, dan keberanian eksekusi para Bupati, Wali Kota, serta Gubernur yang memimpin Provinsi Kepulauan Riau saat ini.**

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *