Dari Bintan, Wamendukbangga Ajak Masyarakat Wujudkan Generasi Bebas Stunting

BINTAN, katasiber – Pemerintah terus memperkuat upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia (SDM) di tengah momentum bonus demografi yang kini tengah dialami Indonesia.
Hal tersebut ditegaskan Wakil Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Wamendukbangga)/BKKBN RI, Ratu Ayu Isyana Bagoes Oka saat mengunjungi Rumah Bahagia Bintan di Kabupaten Bintan, Senin (25/5/2026).
Menurut Ratu Ayu, bonus demografi merupakan peluang besar yang harus dimanfaatkan secara maksimal melalui peningkatan kualitas manusia sejak dini. Ia menyebut, komitmen pemerintah dalam pembangunan SDM sejalan dengan visi besar Presiden RI, Prabowo Subianto.
“Sesuai Asta Cita keempat, Presiden RI Prabowo Subianto betul-betul memiliki komitmen yang kuat terkait peningkatan kualitas sumber daya manusia di Indonesia,” ungkapnya.
Indonesia saat ini memasuki masa di mana jumlah penduduk usia produktif lebih besar dibanding usia nonproduktif.
Kondisi tersebut dinilai menjadi peluang strategis untuk mendorong pertumbuhan ekonomi dan pembangunan nasional. Namun, menurutnya, peluang itu hanya dapat dimanfaatkan jika kualitas SDM terus diperkuat, terutama melalui pembangunan keluarga dan pencegahan stunting.
Ratu Ayu menjelaskan, Kementerian Kependudukan dan Pembangunan Keluarga/BKKBN menjalankan pendekatan siklus hidup dalam program pembangunan keluarga. Pendekatan itu dimulai sejak tahap perencanaan keluarga, pendampingan ibu hamil, ibu menyusui hingga balita.
“Ini dilakukan dengan berbagai program seperti Taman Asuh Sayang Anak dan Genting,” jelasnya.
Selain program pendampingan keluarga, Kemendukbangga/BKKBN juga melakukan pendataan keluarga bekerja sama dengan Badan Pusat Statistik guna memetakan keluarga prioritas penanganan stunting. Pendataan tersebut bertujuan agar intervensi pemerintah dapat dilakukan secara tepat sasaran.
“Kami punya pendataan keluarga yang berkolaborasi dengan BPS RI supaya diketahui mana yang masuk kategori C1, C2 dan C3 yang diprioritaskan bagi keluarga risiko stunting,” imbuhnya.
Ia menegaskan, keluarga berisiko stunting menjadi perhatian utama pemerintah, terutama keluarga dengan kondisi “4 terlalu”, yakni terlalu muda, terlalu tua, terlalu banyak anak, serta jarak kelahiran yang terlalu dekat.
Selain itu, faktor lingkungan seperti kondisi rumah, sanitasi, dan ketersediaan jamban juga menjadi fokus perhatian.
“Hal-hal seperti ini yang harus diedukasi sehingga anak bebas stunting dan ini juga yang ingin dilakukan oleh Presiden Prabowo Subianto,” katanya.
Ratu Ayu juga mengapresiasi capaian Provinsi Kepulauan Riau yang berhasil menekan angka prevalensi stunting hingga berada di bawah rata-rata nasional.
Meski demikian, ia menegaskan berbagai program penanganan stunting akan terus diperkuat agar hasilnya semakin optimal.
“Untuk angka prevalensi stunting di Kepri sudah di bawah angka prevalensi stunting nasional. Mudah-mudahan ini bisa terus ditingkatkan karena program untuk mengatasi stunting akan terus dilakukan,” ujarnya.
Dalam kesempatan tersebut, Ratu Ayu turut menyinggung program Makan Bergizi Gratis yang digagas Presiden Prabowo Subianto.
Program tersebut diprioritaskan bagi ibu hamil, ibu menyusui, dan balita sebagai langkah pencegahan stunting sejak dini, terutama pada periode 1.000 hari pertama kehidupan.
“Ini akan dilakukan terus karena sejak 1.000 hari pertama kehidupan merupakan masa yang paling krusial bagi pencegahan stunting pada balita,” tambahnya.
Usai kegiatan, Ratu Ayu kembali menegaskan bahwa pelayanan keluarga berencana (KB) menjadi salah satu program unggulan Kemendukbangga/BKKBN dalam mendukung pembangunan keluarga berkualitas. Program tersebut, menurutnya, terus mendapat respon positif dari masyarakat karena memberikan manfaat nyata bagi kehidupan keluarga Indonesia.
“Kita sudah melakukan pelayanan KB yang menjadi salah satu tugas dari Kemendukbangga/BKKBN. Di dalam satu tahun ada beberapa program andalan seperti pelayanan KB ini,” katanya.
Ia pun optimistis, melalui sinergi berbagai program pembangunan keluarga, pelayanan KB, serta percepatan penurunan stunting, kualitas SDM Indonesia akan semakin meningkat dan mampu menjawab tantangan bonus demografi di masa depan. (bs)


