Tak Sekadar Berlomba, Bohari Berlayar Demi Warisan Melayu

BINTAN – Di tengah riuh angin laut dan hamparan biru perairan pesisir Bintan, ratusan perahu kecil berwarna-warni menari mengikuti arah angin.
Layar-layar mungil itu bukan sekadar permainan, melainkan simbol warisan budaya yang terus dijaga. Di antara ratusan peserta, ada satu sosok yang tak pernah absen: Bohari (40), atlet perahu jong asal Dompak, Tanjungpinang.
Bagi Bohari, perahu jong bukan hanya hobi atau ajang kompetisi. Lebih dari itu, jong adalah bagian dari jati diri Melayu yang harus terus hidup.
Ia tak pernah melewatkan setiap perlombaan, baik di Kepulauan Riau maupun di luar daerah. Menang atau kalah bukanlah tujuan utama semangat melestarikan budaya menjadi alasan ia terus berlayar.
“Yang penting jong tetap ada, tetap dimainkan,” begitu prinsip yang ia pegang.
Sabtu (4/4/2026) lalu, Bohari kembali ikut ambil bagian dalam Jong Race Festival 2026 di Pantai Lagoi Bay.
Bersama 691 perahu jong dari 45 komunitas, ia ikut meramaikan salah satu agenda budaya tahunan terbesar di Kabupaten Bintan.
Festival ini bahkan melibatkan peserta dari Malaysia dan Singapura, menandakan bahwa pesona jong telah melintasi batas negara.
Dari kejauhan, perairan Lagoi Bay tampak seperti lukisan hidup. Perahu-perahu kecil melaju tanpa awak, hanya mengandalkan angin dan keterampilan pembuatnya.
Setiap jong memiliki karakter, warna, dan desain unik cerminan kreativitas sekaligus kecintaan terhadap tradisi.
Wakil Bupati Bintan, Deby Maryanti, menegaskan bahwa festival ini bukan sekadar perlombaan.
Lebih dari itu, Jong Race Festival adalah upaya menjaga warisan budaya Melayu yang telah lama hidup di pesisir Bintan.
“Ini bukan hanya kompetisi, tapi juga bentuk pelestarian budaya masyarakat Melayu,” ujarnya.
Ia juga menekankan pentingnya mengenalkan tradisi jong kepada generasi muda agar tidak tergerus perkembangan zaman.
Pemerintah daerah pun aktif menggelar kegiatan serupa di berbagai wilayah seperti Tembeling dan Teluk Bakau sebagai bagian dari penguatan identitas budaya lokal.
Tak hanya bernilai budaya, festival ini juga menjadi magnet wisata. Ribuan pengunjung datang menyaksikan perlombaan, menikmati kuliner khas Melayu, hingga mencoba berbagai permainan tradisional.
Dampaknya pun terasa bagi masyarakat sekitar, terutama dalam menggerakkan ekonomi lokal.
Kepala Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Bintan, Arief Sumarsono, menyebut bahwa Jong Race Festival telah masuk dalam agenda nasional melalui program Karisma Event Nusantara (KEN) 2026.
Hal ini semakin memperkuat posisi festival sebagai salah satu ikon budaya yang patut diperhitungkan di tingkat nasional.
Menariknya, festival ini tak hanya menyuguhkan lomba. Pengunjung juga diajak menyelami proses pembuatan perahu jong mulai dari merakit, mengecat, hingga mencoba langsung memainkan jong di pesisir pantai.
Ada pula pameran sejarah jong yang memperkaya wawasan tentang tradisi maritim Melayu.
Di tengah kemeriahan itu, Bohari tetap fokus pada layar kecilnya. Dengan penuh harap, ia memperhatikan arah angin, memastikan perahunya melaju sebaik mungkin.
Namun lebih dari sekadar hasil lomba, ada kebanggaan tersendiri saat melihat jong tetap hidup dan dicintai banyak orang.
Bagi Bohari, setiap lomba adalah langkah kecil menjaga warisan besar. Di tangannya dan di tangan para pecinta jong lainnya—tradisi itu terus berlayar, melintasi waktu, menembus generasi. (bas/batampos)


