Dermaga Apung Jagoh: Harapan Baru di Ujung Laut Lingga

LINGGA , katasiber – Sore itu, langit di atas perairan Jagoh tampak teduh ketika kapal yang membawa Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, perlahan merapat di Dermaga Apung HDPE Pelabuhan Jagoh, Kabupaten Lingga. Waktu menunjukkan pukul 16.20 WIB.
Di ujung dermaga, Wakil Bupati Lingga Novrizal telah menanti bersama jajaran pemerintah daerah dan masyarakat.
Bukan sekadar seremoni, momen itu menjadi simbol perubahan bagi warga pesisir.
Dermaga apung berbahan High Density Polyethylene (HDPE) yang baru diresmikan tersebut kini menjadi wajah baru transportasi laut Jagoh—lebih kokoh, lebih aman, dan lebih adaptif terhadap karakter laut Kepulauan Riau.
Menjawab Tantangan Geografis
Sebagai provinsi maritim yang terdiri dari ribuan pulau, konektivitas laut adalah urat nadi kehidupan masyarakat Kepulauan Riau. Aktivitas ekonomi, pendidikan, kesehatan, hingga distribusi logistik sangat bergantung pada kelancaran transportasi laut.
Dermaga apung HDPE di Jagoh dibangun dengan anggaran sekitar Rp2,73 miliar.
Dengan spesifikasi ponton berukuran 9 x 4,5 meter, gangway sepanjang 13,5 meter dan lebar 1,7 meter, serta trestle 4,5 x 3 meter, infrastruktur ini dirancang mengikuti pasang surut air laut.
Fleksibilitas inilah yang menjadi keunggulan utama dibandingkan dermaga beton atau kayu konvensional.
Material HDPE dikenal tahan terhadap korosi air laut dan tidak mudah lapuk. Selain lebih awet dan minim perawatan, proses pembangunannya juga relatif cepat dan ramah lingkungan karena tidak memerlukan pondasi permanen besar di dasar laut.
Bagi masyarakat Jagoh, kehadiran dermaga ini berarti kemudahan sandar kapal dalam berbagai kondisi cuaca, serta proses naik turun penumpang dan bongkar muat barang yang lebih aman dan nyaman.
Lima Dermaga, Satu Semangat Konektivitas
Hingga kini, Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau telah membangun 19 dermaga apung di berbagai kabupaten/kota.
Lima di antaranya berada di Kabupaten Lingga: Penuba, Benan, Senayang, Jagoh, dan Tanjung Buton Daik.
Keberadaan lima titik ini menjadi tulang punggung mobilitas antar pulau di Lingga.
Wilayah selatan Kepri yang sebelumnya menghadapi keterbatasan akses kini perlahan terkoneksi lebih baik, membuka ruang bagi pertumbuhan ekonomi lokal, khususnya sektor perikanan, perdagangan, dan pariwisata bahari.
Data menunjukkan rasio konektivitas Kepri meningkat dari 0,59 poin pada 2024 menjadi 0,70 poin pada 2025.
Kenaikan 0,11 poin ini bukan sekadar angka, melainkan cerminan semakin terbukanya akses masyarakat terhadap layanan dan peluang ekonomi.
Infrastruktur yang Menghidupkan Ekonomi
Dalam sambutannya, Gubernur Ansar menegaskan bahwa pembangunan dermaga apung bukan hanya tentang membangun fisik infrastruktur.
“Kepri adalah provinsi maritim. Maka konektivitas laut menjadi urat nadi pembangunan kita,” ujarnya.
Akses yang semakin baik akan memperlancar distribusi hasil tangkapan nelayan, memudahkan mobilitas pedagang, serta mendukung kunjungan wisatawan ke pulau-pulau eksotis di Lingga.
Infrastruktur yang tepat sasaran akan menghadirkan efek berganda—menggerakkan ekonomi sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat.
Kehadiran gubernur di Lingga juga dirangkai dengan Safari Ramadan dan Safari Subuh, mempertegas bahwa pembangunan tidak hanya menyentuh aspek fisik, tetapi juga memperkuat silaturahmi dan pembinaan sosial kemasyarakatan.
Membangun hingga ke Pulau Terluar
Peresmian Dermaga Apung HDPE Pelabuhan Jagoh menjadi bukti komitmen Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau untuk terus hadir hingga ke wilayah terluar.
Pembangunan yang merata dan berkeadilan menjadi visi yang terus dipegang.
Di atas dermaga yang mengapung mengikuti irama ombak itu, tersimpan harapan masyarakat Jagoh dan Lingga—harapan akan akses yang lebih mudah, ekonomi yang lebih hidup, dan masa depan yang lebih sejahtera.
Dermaga ini bukan sekadar tempat bersandar kapal. Ia adalah jembatan harapan di atas laut, yang menghubungkan pulau-pulau kecil dengan cita-cita besar Provinsi Kepulauan Riau sebagai daerah maritim yang maju dan terkoneksi. (bs)


