Wagub Kepri di Tengah Diplomasi Laut ASEAN–AS: Menjaga Gerbang Maritim Nusantara dari Batam

BATAM, katasiber – Di sebuah ruang pertemuan di Premiere Hotel, Batam, Rabu (10/12), suasana tampak lebih hangat dari biasanya. Para perwira, diplomat, dan perwakilan dari berbagai negara ASEAN serta Amerika Serikat duduk berdampingan, menandai dimulainya ASEAN–US Maritime Exercise (AUMX) II, sebuah latihan bersama yang mengusung misi besar: memperkuat keamanan maritim kawasan.
Di antara jajaran tamu kehormatan, hadir Wakil Gubernur Kepulauan Riau, Nyanyang Haris Pratamura. Kehadirannya bukan sekadar memenuhi undangan, tetapi membawa suara dari sebuah provinsi yang setiap jengkal lautnya menjadi denyut nadi perairan Asia Tenggara.
Kepri: Lautan Luas yang Menyimpan Tanggung Jawab Besar
Ketika berbicara di sela kegiatan, Wagub Nyanyang tampak menegaskan sesuatu yang ia yakini penting sejak lama. Baginya, Kepulauan Riau bukan sekadar provinsi; Kepri adalah gerbang maritim Nusantara, wilayah yang 98 persen terdiri dari lautan dan berbatasan langsung dengan empat negara sekaligus—Singapura, Malaysia, Vietnam, dan Kamboja.
“Letak geografis ini membawa peluang besar sekaligus tantangan yang kompleks. Sebagai wilayah yang berbatasan langsung dengan banyak negara, kami menghadapi tanggung jawab besar dalam menjaga stabilitas kawasan,” ujar Wagub dengan nada serius.
Ia lalu memaparkan tiga tantangan yang menjadi denyut kehidupan maritim Kepri:
Menjaga kedaulatan laut, termasuk memberantas praktik illegal fishing yang kerap mengusik ruang hidup nelayan lokal.
Menjamin keamanan jalur pelayaran internasional, terutama Selat Malaka dan Selat Singapura—dua koridor laut tersibuk di dunia.
Mitigasi bencana dan perlindungan lingkungan, sebuah tantangan yang kian mendesak di tengah perubahan iklim.
Tiga poin ini bukan teori semata. Bagi masyarakat pesisir di Kepri, itu adalah realitas sehari-hari—dari nelayan yang melaut sebelum fajar, hingga petugas patroli yang berjaga di tengah gelombang malam.
AUMX II: Kolaborasi untuk Laut yang Lebih Aman
Di tengah dinamika itu, AUMX II hadir sebagai jembatan kerja sama. Latihan bersama yang diinisiasi Konsulat AS di Medan ini, bagi Nyanyang, memiliki makna khusus. “Inisiatif seperti AUMX II sangat kami hargai, karena secara langsung meningkatkan keamanan kawasan, interoperabilitas, dan kesiapsiagaan bersama,” ujarnya.
Latihan ini menjadi ruang bertemu bagi berbagai kepentingan maritim: diplomasi, kesiapsiagaan bencana, teknologi navigasi, hingga penegakan hukum laut. Dari Batam, mata banyak negara tertuju pada bagaimana ASEAN dan AS merajut kolaborasi yang semakin erat.
Potensi Kepri yang Menanti Untuk Dikelola
Meski sarat tantangan, laut Kepri menyimpan potensi ekonomi yang luar biasa. Nyanyang menyinggung peluang investasi di sektor maritim, pariwisata bahari yang terus tumbuh, hingga kekayaan perikanan yang bisa mendorong kesejahteraan masyarakat.
“Atas nama masyarakat Kepri, kami berterima kasih atas kepercayaan menjadikan Batam tuan rumah AUMX. Ini bukan hanya kehormatan, tapi juga peluang untuk menunjukkan potensi besar yang kami miliki,” tuturnya.
Harapan untuk Masa Depan Laut yang Lebih Aman
Menutup pernyataannya, Wagub menyampaikan harapan agar hubungan kerja sama antara Indonesia—khususnya Kepri—dengan Amerika Serikat terus tumbuh dalam koridor saling menghormati dan menguatkan. “Semoga ke depan hubungan ini semakin erat dan memberi manfaat bagi keamanan dan kemakmuran kawasan,” katanya.
Di Batam, tempat berbagai kepentingan maritim bertemu, AUMX II bukan hanya latihan. Ia adalah simbol bahwa laut bukan sekadar batas negara—tetapi ruang bersama yang harus dijaga bersama. (bs)


