OPINI

Raja Ali Haji hingga ke Gibran

Robby Patria, Ketua Satu PENA Kepri/ Dosen Prodi Sejarah di FKIP UMRAH/Dewan Pakar ICMI Pusat

Raja Ali Haji menyusun tata bahasa dan kamus Melayu jauh sebelum bahasa Indonesia lahir. Satu setengah abad kemudian, remaja Jakarta lebih akrab dengan pujangga Khalil Gibran.

Di Festival Sastra Raja Ali Haji, 28-30 Oktober 2026, dua peserta dari Jakarta mengakui sesuatu yang tidak enak didengar: anak-anak di kota mereka lebih mengenal Khalil Gibran daripada Raja Ali Haji. Remaja itu tentu juga mengenal Gibran yang lain, Gibran Rakabuming Raka, yang kini menjabat wakil presiden.

Pujangga yang menyusun kaidah bahasa yang kita pakai setiap hari justru asing bagi generasi yang memakainya.

Pengakuan itu muncul dalam gelar wicara bertajuk “Reka Citra Sang Pujangga”. Hasan Aspahani, menjelaskan mengapa Raja Ali Haji layak disebut pahlawan di bidang bahasa: ia sudah menulis tentang linguistik dan menyempurnakannya sejak 1846.

Bang Husnizar Hood menambahkan bacaan dari tradisi dan karya itu sendiri. Sebagai moderator, saya pulang dengan satu pertanyaan. Kalau tokohnya sebesar itu, mengapa karyanya sepi dari ruang kelas dan rak toko buku?

Raja Ali Haji (1808-1873) tumbuh di Pulau Penyengat, pusat intelektual Kesultanan Riau-Lingga. Ia menulis Syair Abdul Muluk (1846), Gurindam Dua Belas (1847), tata bahasa Bustan al-Katibin (1850), dan kamus Kitab Pengetahuan Bahasa (1858).

Ia juga menulis Tuhfat al-Nafis, sejarah raja-raja Melayu dan Bugis. Dalam satu orang terkumpul penyair, ahli tata bahasa, penyusun kamus, sejarawan, dan ulama.

Kajian terbaru menegaskan bahwa gurindam hanyalah satu bagian kecil dari jangkauannya. Sebuah artikel di Journal of Al-Tamaddun (2021) menyebut bahwa ia menulis tentang budaya, sejarah, politik, fikih, dan bahasa, serta berperan sebagai pemikir keagamaan dan politik.

Menyebut Raja Ali Haji sebagai “penulis Gurindam Dua Belas” sama seperti menyebut Leonardo da Vinci sebagai “pelukis Mona Lisa”.

Negara sudah mengakui bobot itu. Lewat Keppres Nomor 89/TK/2004, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono menetapkannya sebagai Pahlawan Nasional, dan gelar itu dianugerahkan pada Hari Pahlawan, 10 November 2004. Ia juga dijuluki Bapak Bahasa.

Barat membacanya lebih dulu
Para peneliti asing sudah lama memperlakukan karya ini sebagai sumber serius. Virginia Matheson dan Barbara Watson Andaya menyunting dan menerjemahkan Tuhfat al-Nafis menjadi The Precious Gift (Oxford University Press, 1982).

Pada 1979 keduanya juga menulis kajian tentang pemikiran Islam dan tradisi Melayu dalam tulisan-tulisan Raja Ali Haji. Matheson menelusuri pula Penyengat sebagai pusat keislaman Riau abad ke-19, dan Barbara serta Leonard Andaya memakai tradisi sejarah Riau-Lingga ketika menulis tentang dunia Melayu.

Jan van der Putten, peneliti Belanda, dan Al Azhar menyunting surat-surat Raja Ali Haji kepada sarjana Belanda Hermann von de Wall, yang terbit di Leiden dengan judul Di Dalam Berkekalan Persahabatan (1995).

Van der Putten juga menulis tentang Raja Ali Haji sebagai penyusun kamus dan tentang syairnya. Surat-surat itu memperlihatkan seorang intelektual pribumi yang berkorespondensi tentang bahasa dengan sarjana Eropa, bukan sekadar informan. Henk Maier, dalam We Are Playing Relatives (2004), memosisikan tradisi tulis Melayu sebagai kesusastraan yang hidup.

Thomas Barnard, dalam bunga rampai Contesting Malayness (2004), membahas identitas Melayu lintas batas, wilayah tempat Raja Ali Haji berdiri.

Ada satu perbandingan yang menarik dan jarang dibicarakan. Mohd Tarmizi Hasrah, peneliti Malaysia, membandingkan cara Raja Ali Haji dan William Marsden menganalisis tata bahasa Melayu. Marsden adalah sarjana Inggris yang menerbitkan A Dictionary and Grammar of the Malayan Language pada 1812.

Hasrah menyimpulkan bahwa Raja Ali Haji memakai paradigma linguistik Arab, sedangkan Marsden memakai paradigma Barat.

Artinya, dua tradisi ilmu bahasa yang berbeda sama-sama dipakai untuk mendeskripsikan bahasa Melayu pada abad yang sama. Raja Ali Haji bukan penerima pasif ilmu Eropa.

Ia bekerja dengan perangkat intelektualnya sendiri dan menghasilkan karya yang sepadan.

Para peneliti Melayu dan Indonesia membangun landasannya lebih awal. Harimurti Kridalaksana menulis tentang sumbangan Bustan al-Katibin dan Kitab Pengetahuan Bahasa dalam ilmu bahasa. Bahkan Kridalaksana membuat rajah tokoh sastra dunia dimulai dari sebelum Masehi hingga Raja Ali Haji dari Indonesia di tahun 1846.

Hashim Musa menempatkan kamus itu dalam tradisi keilmuan bahasa Islam dan sebagai kamus ekabahasa tertua di alam Melayu.

Taib Osman menulis tentang Raja Ali Haji sebagai tokoh peralihan atau pujangga klasik terakhir. Hasan Junus, dari Riau, menyusun buku tentang Raja Ali Haji dan karya-karyanya.

Ada ironi yang pahit di sini. Karya ini disunting, ditafsirkan, dan dibandingkan di Oxford dan Leiden, sementara di negeri sendiri banyak anak sekolah belum pernah membaca satu bait pun. Kekaguman asing tidak menggantikan tanggung jawab kita.

Mengapa Gibran menang?
Kahlil Gibran dikenal bukan karena lebih agung, melainkan karena lebih mudah dijumpai. Ia diterjemahkan, dicetak ulang, dikutip di media sosial, dan hadir di toko buku mana pun.

Raja Ali Haji tidak punya kemewahan itu, dan sejarah terbitnya menjelaskan sebabnya. Kitab Pengetahuan Bahasa selesai disusun pada 1858, tetapi baru terbit pada 1927 lewat Matba’ah al-Ahmadiah, atas prakarsa Raja Haji Umar, cucu Raja Ali Haji.

Kamus itu butuh sekitar tujuh puluh tahun untuk sampai ke tangan pembaca. Naskahnya, menurut kajian Ellya Roza, kini tersimpan di Yayasan Indra Sakti di Penyengat.

Remaja tidak bisa mencintai buku yang tidak bisa mereka beli dan tidak bisa mereka unduh.

Jadi persoalannya bukan selera generasi Z. Persoalannya akses, dan akses adalah urusan kebijakan.

Pertama, terbitkan yang belum terbaca. Banyak karya Raja Ali Haji hanya kita kenal judulnya. Pemerintah pusat dan daerah, bersama Perpustakaan Nasional dan perguruan tinggi, perlu menyusun program penerbitan: edisi kritis dengan alih aksara Jawi ke Latin, catatan yang jelas, terjemahan ke bahasa Indonesia kontemporer, dan versi digital yang gratis.

Naskah yang tersimpan di satu yayasan kecil atau di tangan peneliti belum bisa disebut warisan bangsa. Ia baru menjadi warisan ketika bisa dibaca siapa saja.

Kedua, Sejak pelajaran bahasa Indonesia dipisahkan dari sastra, guru mengajar tata bahasa tanpa teks yang hidup. Siswa menghafal imbuhan, tetapi tidak merasakan bagaimana bahasa dipakai untuk menasihati, menghibur, dan melawan.

Akibatnya, Gurindam Dua Belas dikenal di Kepulauan Riau, yang sering membacakannya, tetapi belum tentu di Makassar atau Kalimantan.

Gurindam itu cukup pendek untuk dibaca dalam satu jam pelajaran dan cukup dalam untuk dibahas sepanjang semester. Salah satu pasalnya mengajarkan agar kita menilai orang dari budi dan bahasanya. Itu ukuran yang masih relevan di era komentar daring yang kasar.

Ketiga, selesaikan kamusnya. Hasan Aspahani menantang agar pekerjaan Raja Ali Haji yang belum tuntas, terutama kamus Melayu, dilanjutkan.

Penelitian sudah menunjukkan jalannya: jurnal-jurnal di Malaysia mulai membahas penyusunan kamus lanjutan yang mengikuti metode Kitab Pengetahuan Bahasa. Badan Bahasa, perguruan tinggi, dan komunitas bahasa daerah patut menyambutnya.

Menyelesaikan kamus itu cara paling jujur menghormati sang pujangga, sekaligus memperkaya bahasa Indonesia dengan kosakata Melayu yang nyaris hilang.

Keempat, hadirkan dalam bentuk yang akrab bagi anak muda. Gurindam bisa dipentaskan, dijadikan podcast, komik, animasi, atau musik.

Festival hanya berarti bila gemanya keluar dari ruang seminar. Pemerintah daerah bisa mendukung dengan beasiswa penulisan, residensi sastra di Penyengat, dan program kunjungan sekolah dari luar Kepri.

Gurindam Dua Belas terpahat di dinding kompleks makam Raja Ali Haji di Penyengat. Peziarah yang datang bisa membacanya satu per satu.

Namun batu tidak bisa menggantikan kelas, buku, dan guru.
Memuliakan pahlawan lewat nama jalan, patung, dan upacara tahunan itu mudah. Yang sulit adalah membaca karyanya dan menjalankan isinya.

Raja Ali Haji tidak menulis untuk dipajang. Ia menulis agar orang berbicara dengan jujur, memegang janji, dan memakai bahasa dengan adab.

Pahlawan yang hanya dikenang namanya belum benar-benar dihormati. Hormat yang sebenarnya adalah membaca karyanya, mengajarkannya, dan menyelesaikan pekerjaan yang ia tinggalkan.***

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *