MEMBASUH CERMIN DIRI, MERAWAT KESUCIAN NURANI
Oleh: Buralimar, Warga Batam

Setiap pagi, ketika mentari menyapa, manusia sibuk bersolek di depan cermin kaca. Memoles rupa, memilih wewangian terbaik, memastikan raga tampak prima tanpa cacat cela.
Kita cemas ketika kolesterol meninggi, panik saat detak jantung berdegup tak berirama, lalu sigap mencari penawarnya. Namun di balik dinding dada yang bidang, ada sebuah kerajaan sunyi yang sering luput dari perhatian.
Kita lupa, ada kesehatan lain yang jauh lebih rapuh — tempat bersemayamnya rasa dan rahasia. Seringkali ia kita biarkan membusuk oleh waktu. Padahal raga yang kekar pun bisa runtuh, bukan karena serangan kuman, melainkan karena keroposnya dinding kejiwaan yang digerogoti rayap tersembunyi bernama penyakit ruhani.
Sejak berabad-abad lalu kearifan kuno mengingatkan: mens sana in corpore sano — di dalam tubuh yang sehat terdapat jiwa yang kuat. Namun pepatah Latin ini kerap kita maknai secara timpang. Kita hanya memanjakan jasmani, sambil membiarkan rohani kelaparan.
Padahal jangkar sejati dari seluruh tabiat manusia berada di ruang terdalam kehidupannya.
Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:
“Ketahuilah, di dalam tubuh manusia ada segumpal daging. Jika ia baik, maka baik pula seluruh tubuhnya. Jika ia rusak, maka rusak pula seluruh tubuhnya. Ketahuilah, segumpal daging itu adalah hati.” — HR. Bukhari dan Muslim.
Hati adalah rajanya. Dan seluruh anggota tubuh hanyalah prajurit yang tunduk pada perintahnya.
Sungguh menarik melihat bagaimana benteng hati ini runtuh di era digital, di mana jemari begitu ringan mengetikkan kata demi kata. Media sosial kini menjadi telaga yang menelanjangi isi dada kita sendiri.
Jika hati bersih, bening, dan dipenuhi kedamaian, maka yang mengalir melintasi linimasa adalah perkataan yang santun, untaian nasihat yang menyejukkan, serta unggahan yang bersih.
Sebaliknya, jika di dalam dada berkecamuk kesombongan, iri, dengki, kemarahan, dan dendam yang tak berkesudahan, maka yang tumpah ke ruang publik hanyalah caci maki, sinisme, dan unggahan yang buruk.
Sungguh tragedi spiritual yang menggelikan, ketika seseorang merasa menjadi hakim atas dosa orang lain, sementara hatinya sendiri dipenuhi nanah egoisme yang akut.
Sebagian dari kita mendadak menderita kebutaan massal — ketidakmampuan mendeteksi kebaikan orang lain, meski sekecil debu. Di mata hati yang buram, tak ada lagi ruang untuk keluhuran sesama, seolah surga hanya diciptakan untuk dirinya sendiri.
Betapa mudahnya kita menjadi saleh di atas panggung kata-kata. Mahir menasihati ke sana kemari bagai pujangga suci, namun lumpuh saat harus mempraktikkannya di tengah badai urusan dunia yang menyilaukan mata.
Menata hati dan membuang rasa merasa lebih baik, harus dimulai dengan menyapu kotoran di rumah sendiri, secara perlahan, sebelum kita sibuk mengoreksi debu di halaman tetangga.
KH Abdullah Gymnastiar — yang akrab disapa — melantunkan syair yang sangat dalam:
Jagalah hati, jangan kau kotori. Jagalah hati, lentera hidup ini.
Syair itu adalah alarm lembut yang mengingatkan kita: kehilangan kendali atas hati sama saja dengan memadamkan cahaya pemandu di dalam kegelapan.
Penyakit kejiwaan yang lahir dari kebencian pribadi dan rasa iri adalah racun yang paling berbahaya. Ia membunuh pemiliknya, sebelum sempat menyentuh musuhnya.
Ketenangan dunia dan akhirat tidak akan pernah bisa dibeli dengan kepintaran berdebat atau kepiawaian menjatuhkan martabat sesama.
Mari sampaikan kebenaran dengan untaian hikmah yang santun, tanpa pernah merendahkan atau menyerang pribadi orang lain.
Sebab pada lembar terakhir kehidupan yang kelak kita bawa menghadap Sang Pencipta, bukanlah tepuk tangan manusia atas kemenangan ego kita. Melainkan sepotong hati yang selamat, qalbun salim , hati yang bersih, yang kembali dengan tenang membawa kedamaian hakiki. (***)


