Kisah Antologi Puisi Kawan Awak
Oleh : Robby Patria, Koordinator Prodi Sejarah di FKIP UMRAH

Banyak buku besar lahir dari rencana panjang. Antologi Puisi Kawan Awak lahir dari obrolan iseng di grup WhatsApp Perhimpunan Penulis Kepulauan Riau (PPK) di mana Husnizar Hood sebagai ketua dan saya sekretaris dan penyair Indonesia Dato Rida K Liamsi sebagai penasihat bersama Dato Huzrin Hood. Dan bendahari Dato Rendra Setyadiharja.
PPK baru memiliki struktur yang diresmikan kementerian terkait. Belum memiliki struktur besar. Setidaknya lebih dari 100 penulis plus penyair Kepulauan Riau bergabung dalam WA group itu.
Para anggota Perhimpunan Penulis Kepri sedang membicarakan dua kata yang mereka pakai tiap hari, kawan dan awak, lalu sadar bahwa dua kata itu ternyata lentur sekali.
Di banyak kawasan Melayu, awak bisa berarti “aku”. Di tempat lain ia berarti “kamu”. Kawan pun begitu. Ia bisa menyapa orang kedua, bisa menunjuk “kami”, bisa juga berarti “kita”.
Dalam percakapan antarteman, batas-batas pronomina itu kabur, dan tak ada yang merasa terganggu.
Bahasa Indonesia baku punya tabel yang rapi untuk orang pertama dan kedua, tunggal dan jamak. Bahasa lisan Melayu tampaknya tidak terlalu peduli pada tabel itu.
Dari kekaburan inilah Dato Prof Abdul Malik menginisiasi beberapa puisi atau pantun soal awak di group disatukan dalam sebuah buku.
Inilah awal lahirnya 88 penulis menyumbang puisi mereka dan terkumpul 137 puisi. Buku ini dibedah di Tanjungpinang pada 28 Oktober 2026, bertepatan dengan Hari Sumpah Pemuda, oleh Abdul Malik dari Universitas Maritim Raja Ali Haji, serta Ridarman Bay. Saya sendiri menjadi moderator acara itu di UMRAH.
Kenapa dipilih 28 Oktober, karena inilah momentum Indonesia memiliki bahasa persatuan yakni bahasa Indonesia yang berasal dari bahasa Melayu Kepulauan Riau.
Saat buku puisi ini dirancang, saya merasa ada sesuatu yang layak dibicarakan, jauh melampaui urusan di Kepri.
Pada 1917, kritikus Rusia Viktor Shklovsky menulis bahwa tugas seni adalah mengembalikan rasa pada benda yang sudah terlalu sering kita lihat.
Ia menyebutnya ostranenie, pengasingan. Kata yang dipakai setiap hari lama-lama kehilangan bobot. Puisi memutar kata itu sedikit, dan tiba-tiba kita memperhatikannya lagi.
Itulah yang terjadi pada kawan dan awak. Sebelumnya keduanya hanya alat. Dalam puisi, ketika satu kata bisa berarti “aku”, “kamu”, dan “kita” sekaligus, pembaca tak lagi bisa duduk manis sebagai penonton.
Ia harus menebak, dan dalam menebak itu ia ikut masuk ke dalam puisi. Roman Jakobson menyebut ini fungsi puitik bahasa: perhatian bergeser dari apa yang dikatakan ke bagaimana ia dikatakan.
Saya kira ini yang membuat antologi Puisi Kawan Awak berhasil mengangkat bahasa percakapan tak resmi menjadi bahasa sastra tanpa mematikan kehangatannya. “Banyak simbol matematika, kecanggihan AI, dan biologi muncul dalam puisi,” kata Abdul Malik.
Mengapa suara banyak orang itu penting?
Mikhail Bakhtin pernah berargumen bahwa bahasa yang sehat adalah bahasa yang ramai. Ia menyebutnya heteroglosia yakni banyak suara, banyak lapisan, saling bersahutan, tak ada yang sepenuhnya menang.
Antologi dengan 88 penulis hampir otomatis begitu. Ada yang menulis tentang laut, ada yang tentang kota, ada yang tentang pertemanan, ada pula yang menyisipkan kritik sosial, politik, dan ekonomi. Saya sendiri mengambil tema rindu. Tiga puisi yang saya buat tak jauh dari tema.
Yang menarik, tema maritim muncul berkali-kali dalam rancangan buku ini, termasuk dalam gambar sampulnya yang menampilkan perahu, pantai, dan orang-orang yang menjala.
Metafora yang tumbuh dari lingkungan sendiri punya kejujuran yang sulit ditiru oleh penyair yang meminjam citraan dari tempat lain. Di sampul, ada tagline yang menyentuh: Kawan, awak sama awak, jangan sampai ditelan ombak. Sebuah peringatan sekaligus ajakan, dan hanya mungkin lahir dari orang yang tahu betul rasanya laut.
Puisi itu Penting
Setiap kali ada acara sastra, selalu ada yang bertanya, untuk apa semua ini? Dunia sedang sibuk. Puisi tak menurunkan harga beras.
Indonesia memiliki Chairil Anwar, di masa perjuangan dan Wiji Thukul di era Reformasi yang menyuarakan kritik lewat puisi. Namun Tukul hilang jejak sampai hari ini entah kemana nasibnya.
Puisi Tukul keras terhadap kekuasaan Suharto. Ada tiga sajak Thukul yang populer dan menjadi sajak wajib dalam aksi-aksi massa, yaitu Peringatan, Sajak Suara, serta Bunga dan Tembok.
Itulah kekuatan puisi.
Bahkan Aristoteles dalam Poetics, ia menyebut tragedi dan sastra membawa katarsis, pelepasan dan pemurnian emosi lewat pengalaman membaca atau menonton.
Psikologi modern punya versi yang lebih terukur. James Pennebaker, peneliti dari Universitas Texas, menemukan lewat serangkaian studi sejak 1980-an bahwa orang yang menuliskan pengalaman emosionalnya secara jujur cenderung mengalami perbaikan kesehatan dan suasana hati dibanding yang tidak.
Menulis puisi adalah salah satu bentuk paling padat dari praktik itu.
Lalu ada argumen yang lebih politis. Percy Bysshe Shelley, dalam A Defence of Poetry, menyebut penyair sebagai pembuat hukum dunia yang tak diakui.
Ia tak bermaksud bahwa penyair menulis undang-undang. Maksudnya, cara orang membayangkan yang adil dan yang pantas dibentuk oleh imajinasi lebih dulu, baru kemudian oleh aturan.
Martha Nussbaum, filsuf Amerika, mengembangkan gagasan serupa dalam Poetic Justice: sastra melatih “imajinasi naratif”, kemampuan membayangkan hidup orang lain dari dalam.
Warga yang tak bisa melakukan itu akan kesulitan berempati, dan negara yang warganya kesulitan berempati akan kesulitan berlaku adil.
Dengan kerangka itu, antologi yang mempertemukan 88 suara penulis dalam satu buku bukan kegiatan sampingan. Ia latihan kecil untuk mendengarkan banyak orang sekaligus.
Buku puisi warna warni
Satu hal praktis yang patut dicatat dan tak biasa dalam buku puisi yakni antologi ini memadukan puisi dengan ilustrasi dan pilihan warna yang disengaja.
Abdul Malik menjelaskan alasannya sederhana, yaitu memudahkan pembaca mengapresiasi puisi dan membuat tampilannya lebih estetis. Pujangga asal Lingga yang pernah jadi wakil bupati Bintan Mastur Taher menyebutkan peluncuran buku puisi kali ini unik dan wow.
“Belum pernah dibuat orang lain. Bagus sekali,” kata Mastur yang saat itu tampil memukau sambil berteriak membaca puisinya yang penuh dengan kritik terhadap kekuasaan.
Di tengah kebiasaan membaca yang makin pendek dan visual, ini keputusan yang cerdas.
Puisi tak harus tampil murung di halaman putih untuk dianggap serius. Menariknya saat peluncuran, buku antologi menggunakan media AI sehingga membuat hadirin yang memenuhi ruangan acara tertawa melihat wajah wajah mereka ketika
membaca puisi diubah dengan AI.
Musliha misalnya, mahasiswa S3 di UNY ini karena puisinya tema soal mantera, maka diilustrasikan membaca puisi di antara awan awan di tebing jurang.
Memang dosen Prodi Sastra di FKIP UMRAH jni sedang gandrung soal syair mantra. Kami menyebutnya bentar lagi jadi dukun sastra.
Kemudian animasi AI ditutup dengan video pembacaan puisi karya Abdul Malik. Akhir video gunung meletus dan kemudian suasana menjadi tenang. “Inilah klimaksnya,” kata Prof Malik memberikan alasan mengapa harus ada letusan Merapi dalam animasi tersebut.
Memang bedah buku sudah lewat, kursi sudah dirapikan. Pertanyaan yang tertinggal adalah apakah gagasan ini bisa ditiru di tempat lain.
Prof Malik tak habis habis mendorong tahun depan akan dibuat lebih besar lagi bisa menembus 1000 halaman dan masuk MURI.
“Apalagi sudah mendapatkan respon bagus dari pimpinan UMRAH. Nanti kita tagih tahun depan,” kata Malik sambil tertawa.
Melalui buku Kawan Awak menjadi pertanda baik literasi di Kepri masih tumbuh.
Para penulis Kepri menunjukkan bahwa kadang tak perlu proyek besar untuk memulai.
Cukup satu obrolan, satu kata yang dilihat ulang, dan keberanian untuk menganggapnya cukup layak dijadikan puisi.
Hasilnya 137 sajak, 88 penulis, dan satu pengingat lama yang terasa baru bahasa paling kuat saat ia dipakai bersama-sama.***


