BETTER LATE THAN NEVER

“Hidup bagaikan garis lurus, tak pernah kembali ke masa yang lalu… Setiap langkah hilanglah jatah, menikmati hidup di dunia.”( Bimbo)
Waktu sering kali digambarkan bagai sungai yang mengalir deras, tak pernah berkompromi, dan enggan menengok ke belakang.
Di dunia yang bergerak serbacepat ini, ada sebuah dogma yang terus mendikte telinga kita: “Peluang adalah emas, dan menundanya berarti kehilangan.”
Kita dituntut untuk selalu sigap, mengambil keputusan terbaik pada kesempatan pertama, demi menjaga sebuah citra kesempurnaan di mata sesama.
Namun, bukankah kita manusia yang kerap rapuh? Di antara deru ambisi dan riuh tuntutan zaman, ada kalanya jiwa ini tersesat dalam kabut kelalaian. Alpa dan lupa adalah jubah kemanusiaan yang paling purba.
Terkadang, bukan karena kita tak mau melangkah, melainkan situasi, kondisi, serta badai psikologis di dalam dada sedang melumpuhkan jemari untuk bertindak pada detik pertama.
Ketika kita gagal mengeksekusi sebuah tanggung jawab di awal waktu, dunia seolah bersiap menyudutkan.
Ada ketakutan universal yang menghantui: takut dihujat, takut dihardik, dan cemas akan badai perundungan yang siap meruntuhkan marwah serta harga diri.
Pada titik krusial inilah, sebuah kebijaksanaan klasik hadir bagai oase di tengah gurun: Better late than never—lebih baik terlambat daripada tidak sama sekali.
Memang benar, jika sebuah kebajikan atau pekerjaan dilakukan pada kesempatan pertama, hasilnya mungkin akan jauh lebih megah. Namun, mengutuki diri atas keterlambatan tidak akan pernah mengubah masa lalu.
Mengambil langkah maju—meski langkah itu sedikit tertatih dan terlambat—adalah sebuah pembuktian jiwa kesatria. Di dalamnya ada denyut niat baik yang tulus dan pancaran tanggung jawab yang utuh.
Tindakan nyata yang menyusul kemudian, jauh lebih mulia daripada diam membeku dalam rasa bersalah yang sia-sia.
Secara psikologis, memaksa diri untuk bangkit dan menuntaskan apa yang tertunda memang terasa amat berat. Itu memerlukan energi spiritual yang besar untuk melawan rasa enggan dan malu. Namun, ketika langkah terlambat itu akhirnya diambil, sebuah keajaiban batin terjadi.
Ada rasa lapang yang luar biasa—sebuah kebahagiaan universal dan kepuasan batin yang hakiki. Hidup ini terlalu singkat untuk dihabiskan dengan meratapi kesempatan awal yang terlewat.
Keberanian untuk memperbaiki keliru dan mencoba lagi setelah gagal adalah bentuk nyata dari eksistensi diri. Dalam sudut pandang religius yang universal, Tuhan tidak pernah menuntut hamba-Nya untuk menjadi makhluk yang tak pernah salah. Pintu perbaikan selalu terbuka lebar selama hayat dikandung badan.
Setiap niat baik untuk memperbaiki keadaan, sekecil apa pun dan kapan pun dimulainya, adalah sebuah ibadah nyata yang bernilai luhur di mata Sang Penebus Waktu.
Seolah menggemakan kebenaran ini, mari kita merenungkan untaian kalimat puitis dari sastrawan besar Pramoedya Ananta Toer yang pernah menulis, “Kesalahan tidak selalu berarti kekalahan.
Justru di dalam kesalahan, manusia menemukan jalan baru menuju kebenaran yang lebih sejati.” Senada dengan itu, sang pujangga legendaris Jalaluddin Rumi juga bersenandung lewat syairnya yang penuh magis, “Ketuklah, dan Dia akan membukakan pintu.
Menghilanglah, dan Dia akan membuatmu bersinar seperti matahari. Jatuhlah, dan Dia akan mengangkatmu ke surga.”
Pada lembaran hidup yang terus berputar, keterlambatan bukanlah akhir dari sebuah cerita, melainkan sebuah jeda sebelum babak baru yang lebih matang dimulai.
Jangan biarkan ketakutan akan penghakiman dunia menghentikan langkah kaki kita untuk berbuat baik. Jika hari ini kita mendapati diri berada di titik yang terlambat, ketahuilah bahwa menindaklanjutinya sekarang tetaplah sebuah kemenangan atas ego diri sendiri.
Hiduplah dengan penuh kesadaran bahwa manusia tumbuh melalui proses memperbaiki diri.
Ketika tugas diselesaikan, ketika janji ditepati walau waktu telah bergeser, jiwa akan merasakan kebebasan yang sejati. Mari terus berjalan, terus mencoba, dan terus memperbaiki diri, karena esensi hidup terletak pada keberanian untuk memulai kembali.
Mengakhiri tulisan ini Iwan Fals pernah bernyanyi “Rasa sesal di dasar hati, diam tak mau pergi… Haruskah aku lari dari kenyataan ini?”
(Batam, 19 Oktober 2026)
Penulis : Buralimar


