TANJUNGPINANG

Pulau Penyengat Menjaga Jejak Bahasa Indonesia, Museum dan Monumen Bahasa Nasional Mulai Dibangun

Pulau Penyengat Menjaga Jejak Bahasa Indonesia, Museum dan Monumen Bahasa Nasional Mulai Dibangun.f-ist

TANJUNGPINANG- Bahasa Nasional di Pulau Penyengat bukan sekadar bangunan. Ia menjadi penanda perjalanan panjang bahasa Melayu hingga menjadi bahasa Indonesia, sekaligus penghormatan kepada Raja Ali Haji yang meninggalkan warisan besar bagi bangsa.

Di sebuah pulau kecil yang sarat sejarah di Kepulauan Riau, perjalanan bahasa Indonesia hendak ditulis kembali dalam bentuk yang lebih nyata.

Pulau Penyengat, yang selama berabad-abad menjadi salah satu pusat kebudayaan Melayu, kini bersiap memiliki Museum dan Monumen Bahasa Nasional. Pembangunannya resmi dimulai setelah Menteri Dalam Negeri Republik Indonesia Tito Karnavian didampingi Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad dan Wakil Gubernur Nyanyang Haris Pratamura melakukan groundbreaking, Kamis (24/9/2026).

Sirene yang ditekan Tito menjadi penanda dimulainya pembangunan sebuah kawasan yang diharapkan tidak hanya menjadi destinasi wisata sejarah, tetapi juga ruang belajar tentang perjalanan bahasa yang menyatukan Indonesia.

Bagi Tito, kisah bahasa Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perjalanan bahasa Melayu.

Jauh sebelum Indonesia berdiri sebagai negara merdeka, bahasa Melayu telah digunakan luas sebagai bahasa pengantar dalam perdagangan dan pergaulan masyarakat di kawasan Nusantara.

Bahasa itu relatif mudah dipelajari dan kemudian berkembang luas di berbagai wilayah.

Perjalanan tersebut mencapai salah satu titik penting ketika para pemuda mengikrarkan Sumpah Pemuda pada 28 Oktober 1928.

“Bertumpah darah satu, tanah air Indonesia, berbangsa satu, bangsa Indonesia, menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia,” demikian ikrar yang menjadi salah satu tonggak penting perjalanan bangsa.

Yang menarik, ketika ikrar itu diucapkan, Indonesia belum menjadi sebuah negara yang merdeka.

Dari sanalah bahasa kemudian tidak hanya menjadi alat komunikasi, tetapi juga menjadi bagian dari identitas dan persatuan bangsa.

Penyengat dan Warisan Raja Ali Haji
Di tengah perdebatan mengenai asal-usul bahasa Melayu, Pulau Penyengat memiliki satu kekuatan yang sulit diabaikan: jejak sejarah dan karya Raja Ali Haji..

Nama Raja Ali Haji begitu lekat dengan perkembangan bahasa dan kesusastraan Melayu. Dari Pulau Penyengat, lahir karya-karya yang hingga kini menjadi bagian penting dari khazanah intelektual Melayu, salah satunya Gurindam Dua Belas.

Bagi Tito, keberadaan Raja Ali Haji dan karya-karyanya menjadi bukti sejarah yang memperkuat posisi Penyengat dalam perjalanan bahasa Melayu.

“Pertanyaan kritisnya, dari mana bahasa Melayu itu berasal? Jejaknya banyak dan teorinya juga banyak.

Tetapi yang paling jelas dan ada buktinya adalah Raja Ali Haji, dengan Gurindam Dua Belas, yang pusatnya berada di Pulau Penyengat ini,” ujar Tito.
Karena itu, pembangunan Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Penyengat dinilainya memiliki makna lebih dari sekadar pembangunan fisik.

Bangunan tersebut nantinya diharapkan menjadi ruang yang mempertemukan sejarah, pendidikan, kebudayaan dan pariwisata.

“Ini bisa menjadi bukti fisik dan bahan pelajaran bagi rakyat Indonesia, khususnya generasi muda, sekaligus menjadi penghargaan kepada Raja Ali Haji,” kata Tito.

Pesan itu terasa penting. Sebab sejarah bahasa tidak cukup hanya dibaca dalam buku pelajaran. Ia membutuhkan ruang yang dapat dikunjungi, dilihat, dipelajari dan dirasakan generasi setelahnya.
Pulau Penyengat menjadi ruang tersebut..

Membawa Sejarah Bahasa ke Generasi Muda.

Museum yang akan dibangun di kawasan itu direncanakan memuat sejarah dan perjalanan bahasa Melayu hingga menjadi bahasa Indonesia.

Dengan demikian, masyarakat nantinya tidak hanya melihat Pulau Penyengat sebagai kawasan peninggalan sejarah Kesultanan Riau-Lingga, tetapi juga sebagai salah satu tempat untuk memahami perjalanan bahasa yang digunakan oleh bangsa Indonesia.

Tito bahkan melihat cakupan museum tersebut dapat melampaui batas Indonesia.

Bahasa Melayu hingga kini digunakan dan memiliki hubungan sejarah yang kuat dengan masyarakat di sejumlah negara, termasuk Malaysia, Singapura dan Brunei Darussalam..

Karena itu, museum tersebut berpeluang menjadi ruang yang mempertemukan sejarah dan kebudayaan masyarakat serumpun.

Di sisi lain, keberadaan museum juga membuka peluang pengembangan wisata sejarah dan budaya di Kepulauan Riau.

Dalam perjalanan menuju Pulau Penyengat, Tito mengaku telah mendapat penjelasan dari Gubernur Ansar mengenai rencana pengembangan museum dan isi yang akan ditampilkan di dalamnya.

Ia optimistis kawasan tersebut dapat berkembang menjadi salah satu tujuan wisata sejarah dan budaya yang menarik..

“Saya yakin ini akan menjadi objek wisata yang menarik dan akan terus dikembangkan,” ujarnya.

Lebih dari Sekadar Monumen
Pada akhirnya, monumen adalah benda. Tetapi nilai sebuah monumen terletak pada cerita yang diwariskannya.

Museum dan Monumen Bahasa Nasional di Pulau Penyengat diharapkan menjadi pengingat bahwa bahasa Indonesia memiliki perjalanan panjang sebelum akhirnya menjadi bahasa persatuan.

Ia juga menjadi penghormatan terhadap tokoh-tokoh yang meletakkan dasar penting dalam perkembangan bahasa dan kebudayaan Melayu.
.

Di antara nama-nama tersebut, Raja Ali Haji menempati tempat khusus.

Dari pulau kecil ini, karya seorang pujangga Melayu menembus zaman. Gurindam Dua Belas tidak hanya menjadi karya sastra, tetapi juga bagian dari jejak intelektual yang membuat nama Penyengat terus dikenang.
Kini, jejak itu hendak diperkuat melalui sebuah museum dan monumen. (bs)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *