Situmeang dan Lumbangaol Marpadan

“Togu urat ni bulu, toguan urat ni padang, togu nidok ni uhum, toguan nidok ni padan”. Sepenggal kalimat ini sangat mengakar dalam kehidupan masyarakat Batak.
Karena pengertian secara umum peribahasa ini bukan membandingkan akar bambu dengan akar semak tumbuhan, melainkan pesan moral tentang Padan (ikatan, perjanjian, kesepakatan, sumpah).
Dalam peribahasa ini, ada dua kata utama yakni Uhum (Hukum) dan Padan (Sumpah). Ketetapan hukum itu sudah kuat. Masih lebih kuat lagi ketetapan Sumpah.
Karena itulah, nenek moyang Batak dari berbagai marga memilih Bersumpah daripada ketetapan hukum. Padan inilah yang tidak bisa dilanggar.
Ini juga yang terjadi dengan Situmeang dan Lumbangaol. Dua nenek moyang marga ini telah melakuka Parpadanan ratusan tahun silam dan masih terjaga hingga saat ini.
Berdasarkan kisah yang diturunkan lintas generasi, Sumpah (Padan) yang mereka tetapkan saat itu adalah tidak boleh menikah dan harus lebih sayang ke Parpadanannya.
Seperti inilah gambaran Padan Situmeang dan Lumbangaol :
Cerita Pertama
Seandainya datang Boru Lumbangaol dan Boru Situmeang ke rumah ibotonya marga Situmeang serta meminta beras, maka yang diutamakan adalah Boru Lumbangaol. Bukan Boru Situmeang.
Meski mereka datang ke rumah marga Situmeang, namun prioritas utama dalah Boru Lumbangaol. Demikian juga dengan sebaliknya, Boru Situmeang harus diutamakan dibantu jika mereka datang ke rumah marga Lumbangaol.
Beda hal jika mereka memiliki 2 takar beras, maka masing-masing bisa dapat satu. Namun jika beras tersisa cuman 1 takar, maka tetap Boru Lumbangaol diutamakan marga Situmeang dan Boru Situmeang yang diutamakan marga Lumbangaol.
Padahal, jika melihat hubungan marga, tentulah marga Situmeang mengutamakan Boru Situmeang demikian juga dengan Lumbangaol. Namun karena Padan itu, situasinya diubah.
Maka bisa kita pahami, Padan yang telah dibuat oppung di zaman dulu sangat berat. Hal itu juga yang membuatnya terjaga hingga saat ini.
Adakah Boru Lumbangaol yang cuek atau bengis jika bertemu marga Situmeang atau sebaliknya? Tidak. Karena dari dulu sudah diajarkan tentang kasih sayang itu melalui Padan.
Hingga saat ini belum pernah terjadi pernikahan Situmeang dengan Boru Lumbangaol dan sebaliknya. Itu karena Padan itu diturunkan dari generasi ke generasi sehingga terjaga hingga saat ini.
Cerita kedua
Seandainya ada keributan diantara Boru Situmeang dan Boru Lumbangaol lalu mengadu ke marga Situmeang.
Dalam keadaan emosi apapun, marga Situmeang tersebut tidak bisa menampar Boru Lumbangaol. Lebih baik dia menampar Boru Situmeang lalu menasehati mereka berdua.
Dalam hal ini, jika ada pertengkaran seperti itu bukan berarti harus main tampar. Maksudnya adalah, harus mengedepankan kasih sayang. Ingat ada Padan yang harus dijaga.
Cerita Ketiga
Seandainya ada marga Situmeang menikah dengan Boru Simanjuntak. Lalu, marga Simanjuntak menikah dengan Boru Lumbangaol, maka Situmeang dan Boru Lumbangaol tidak akan berani memanggil Amangbao dan Inangbao.
Marga Situmeang dan Marga Lumbangaon lebih baik Marinangbao kepada Boru Situmeang daripada Boru Lumbangaol, demikian sebaliknya.
Kejadian seperti ini pernah disampaikan marga Lumbangaol yang mengalaminya sendiri. Tunggane-nya (saudara laki-laki istrinya) menikah dengan Boru Situmeang. Harusnya manggil Inangbao kepada Boru Situmeang tersebut.
Tentu saja Padan ini telah dijelaskan terlebih dahulu kepada keluarga istrinya agar tidak salah kaprah.
Tidak diketahui kapan Padan itu dilakukan. Mungkin di generasi ke-4 atau ke-5. Sebenarnya, perkiraan waktu tak masalah, yang penting Padan itu harus dijaga.***
Oleh : Martunas Situmeang


