Marching Band Bertransformasi Menjadi Panggung Mode di Malaysia

Karya Anak Kepri Melenggang di Panggung Asia
KUALA LUMPUR – Penampilan marching band Tanjungpinang, Provinsi Kepri tak henti-hentinya memanjakan mata warga Malaysia di bulan September 2026 ini.
Marching band ini baru tampil memukau dan membanggakan nama Kepri di Kuala Lumpur, Malaysia saat mengikuti Asian Music Games (AMG) 2026 yang berlangsung 4–13 September 2026.
Saat itu, mereka mencatat raihan 3 medali emas dan 2 medali perak.
Medali-medali itu belum sempat dibawa pulang, kiprah insan marching band asal Kepulauan Riau ini kembali mendapat panggung di Negeri Jiran. Kali ini, bukan melalui arena kompetisi.
Melainkan melalui sebuah pertunjukan yang mempertemukan marching band, fashion, musik, koreografi, dan seni visual dalam satu panggung.
Sosok di balik karya tersebut adalah Dody J Purnama, putra Tanjungpinang, Kepulauan Riau, yang kembali mendapat undangan untuk berpartisipasi dalam Festival Budaya Malaysia 2026, pada 14–16 September 2026.
Festival Budaya Malaysia adalah festival marching band tahunan yang digagas oleh Dato’ Zulkifli Ishak.
Festival tersebut menjadi ruang bagi Dody untuk memperkenalkan konsep Marching Band Fashion Show Pertama Di Malaysia, dengan tema “Monochrome In The Redline.”
Gagasan tersebut merupakan sebuah konsep yang membawa marching band keluar sejenak dari lapangan kompetisi dan memasuki wilayah mode serta pertunjukan artistik.

Ketika Seragam Bicara
“Monochrome In The Redline” dibangun melalui kekuatan tiga warna: hitam, putih, dan merah.
Namun, ketiganya bukan sekadar pilihan warna.
Hitam menjadi simbol bayangan. Putih menjadi representasi cahaya. Sementara merah ditempatkan sebagai sebuah garis batas simbol energi, keberanian, dan keputusan untuk melampaui batas.
Pertunjukan dibuka dengan narasi yang membawa penonton menuju atmosfer intensitas dan karakter.
“Selamat datang di batas intensitas.
Di mana hitam bertemu putih…
di mana keheningan bertemu denyut sebuah barisan…
dan di mana setiap langkah menjadi sebuah pernyataan.”
Narasi kemudian membawa makna seragam ke tingkat yang berbeda.
“Ini bukan sekadar seragam.
Ini adalah sikap.
Ini adalah disiplin.
Ini adalah identitas.”
Di tangan kreatif, seragam marching band tidak lagi berhenti sebagai pakaian formal sebuah corps.
Ia menjadi bagian dari bahasa pertunjukan.
Barisan menjadi gaya. Gerak menjadi bahasa. Detail menjadi identitas.
Ketika hitam dan putih bertemu, merah hadir sebagai redline—garis yang bukan untuk menghentikan langkah, melainkan untuk dilampaui.
“Karena merah bukan sekadar warna.
Merah adalah energi.
Merah adalah keberanian.
Merah adalah garis yang kami pilih untuk dilampaui.”
Konsep tersebut kemudian membawa marching band ke sebuah perspektif berbeda.
Lapangan berubah menjadi panggung.
Seragam berubah menjadi fashion statement.
Gerakan menjadi koreografi.
Dan disiplin barisan diterjemahkan menjadi estetika.
Monokrom tidak lagi menjadi batas. Ia menjadi awal perjalanan menuju Redline.
Dari Lapangan Latihan ke Panggung Asia
Bagi Dody J Purnama, perjalanan ini merupakan bagian dari rangkaian panjang dedikasi di dunia marching band.
Namanya sebelumnya telah mendapat pengakuan di Malaysia melalui penghargaan “Marching Band Icon Malaysia 2022”.
Penghargaan tersebut menjadi salah satu catatan internasional dalam perjalanan seorang pelatih yang berangkat dari Tanjungpinang dan terus membawa karya marching band ke ruang yang lebih luas.
Kini, panggung itu kembali terbuka.
Setelah AMG 2026, sebuah ajang yang mempertemukan pelaku marching band dari berbagai negara di Asia, Dody kembali hadir di Malaysia melalui jalur yang berbeda: seni pertunjukan dan fashion.
Dua panggung tersebut memperlihatkan satu benang merah—bahwa marching band bukan hanya tentang kompetisi, tetapi juga tentang kreativitas, karakter, disiplin, dan kemampuan melahirkan gagasan baru.
Karya Daerah, Gaung Internasional
Perjalanan tersebut sekaligus membawa pesan yang lebih besar bagi Kepulauan Riau.
Bahwa karya yang lahir dari daerah tidak harus memiliki keterbatasan dalam menjangkau dunia.
Dari Tanjungpinang, sebuah kota kecil di Kepulauan Riau, karya dapat menyeberangi laut dan hadir di panggung internasional.
Dari sebuah kota di tepian Selat Malaka, sebuah karya kembali menyeberangi batas negeri.
Dari lapangan latihan yang sederhana, lahir gagasan yang kemudian tampil di hadapan publik Negeri Jiran.
Dan dari proses panjang seorang pelatih, lahir generasi yang memiliki kesempatan untuk berdiri di panggung Asia.
Karena itu, dukungan pemerintah, stakeholder, dunia pendidikan, komunitas, dan sektor swasta dinilai penting untuk terus membuka ruang bagi generasi muda agar dapat mengembangkan talenta, kreativitas, dan prestasi.
Bukan hanya untuk memenangkan kompetisi.
Tetapi untuk membangun karya yang memiliki jejak dan legacy.
Juara Bukanlah Garis Akhir
Dody menilai bahwa perjalanan seorang pelatih tidak berhenti ketika piala diraih.
Prestasi justru menjadi penanda bahwa sebuah proses panjang telah menghasilkan sesuatu.
“Talenta muda dapat ditempa menjadi prestasi. Bagi seorang pelatih, juara bukanlah garis akhir. Juara adalah bukti bahwa perjuangan telah berhasil mengubah potensi menjadi prestasi dan latihan menjadi legacy.”
Menurutnya, kehadiran di Asian Music Games dan Festival Budaya Malaysia menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Dua panggung dengan karakter berbeda, tetapi membawa pesan yang sama: bahwa kerja keras tidak mengenal batas negara.
Dari Tanjungpinang menuju Malaysia.
Dari lapangan menuju panggung.
Dari latihan menuju prestasi.
Dan dari sebuah generasi muda, menuju sebuah legacy.
Pada akhirnya, “Monochrome In The Redline” bukan hanya tentang hitam, putih, dan merah.
Ia adalah metafora tentang keberanian untuk melangkah melewati batas.
Tentang bagaimana sebuah karya daerah mampu menemukan tempatnya di panggung yang lebih luas.
Dan tentang keyakinan bahwa selama ada disiplin, kreativitas, dan keberanian untuk terus berkary.
Batas bukanlah akhir perjalanan.
Batas adalah garis yang menunggu untuk dilampaui.
Inilah karya anak Kepri.
Inilah perjalanan dari Tanjungpinang menuju panggung Asia.
Dan inilah—MONOCHROME IN THE REDLINE. (*/Martunas)
Editor : Sutana


