Menakar Ulang Strategi Dan Evaluasi Pembinaan LPTQ Kepri Paska-MTQ Nasional 2026

Alhamdulillah, panggung kristal MTQ Nasional XXXI di Semarang akhirnya selesai dengan khidmat. Barakallah, Kafilah Kepri pulang dengan prestasi yang sangat luar biasa menggetarkan langit, yaitu berhasil meloloskan satu-satunya finalis di cabang Tilawah Tunanetra Putri.
Sungguh sebuah capaian efisiensi yang luar biasa, di tengah kemegahan panggung Simpang Lima yang gemerlap, kita akhirnya sadar bahwa lampu sorot yang paling terang sekalipun tidak mampu menyinari kekosongan pembinaan di rumah sendiri.
Ironi yang begitu syahdu, Negeri Segantang Lada yang katanya bermarwah Melayu Qur’ani ini tiba-tiba kehabisan napas di lautan Tilawah nasional. Padahal dulu, tahun 2014 kita pernah Juara Umum, langganan 5 besar, 10 besar dari 2014, 2016, 2018, 2020, 2022, hingga 2024.
Dulu kita juara, sekarang kita menjadi penonton yang paling khusyuk. Mungkin inilah cara Allah SWT menegur kita dengan sangat lembut, agar kita tidak sombong di atas panggung seremonial, tapi lupa sujud di atas sajadah pembinaan.
Mari kita hisab dengan jujur, tanpa jubah pencitraan. Konon katanya anggaran MTQ kita sangat berkah, habis untuk lampu kelap-kelip ratusan juta, kembang api yang meluncur indah ke langit seolah-olah sedang Isra Mi’raj, dan panggung megah yang lebih mirip resepsi walimatul ursy.
MasyaAllah, sangat syar’i sekali. Sementara itu, Training Center untuk qari-qariah kita dipangkas menjadi secepat kilat, seperti shalat yang dikejar waktu imsak.
Di sisi lain, rombongan non-teknis yang berangkat ke Semarang membengkak bak pahala jamaah yang tidak diundang. Untuk apa? Tentu untuk wisata religi, untuk foto-foto sambil bertakbir di hotel berbintang.
Astaghfirullah, paradigma ini sungguh terlalu ikhlas untuk disebut boros, maka mulai detik ini yang wajib berangkat hanyalah peserta dan pelatih. Titik. Yang lain cukup mendoakan dari mushalla saja, pahalanya lebih deras.
Kita juga lupa, bahwa Al-Qur’an itu tidak turun di hotel bintang lima, melainkan di gua yang sunyi. Pembinaan kita yang super instan, sistem kebut semalam menjelang lomba, mana mungkin melahirkan Hafiz yang mutqin? Kita punya ratusan Pondok Pesantren, ribuan TPQ, Madrasah dari Batam, Tanjungpinang, Bintan, Karimun, Lingga, Natuna sampai Anambas, aset umat yang berdebu karena tidak pernah disapa anggaran.
Jika lampu kristal seremonial itu diredupkan sedikit saja, dananya cukup untuk menghidupkan MTQ antar-pesantren se-Kepri secara istiqamah dua tahun penuh.
Bukankah lebih berkah menyuntik dana ke akar rumput daripada menyiram panggung yang hanya mekar semalam?
Penyakit kronis kita yang paling akut adalah gila hormat juara umum tingkat kabupaten dan kota. Allahu Akbar, piala gubernur diperebutkan dengan lobby-lobby yang lebih sengit dari perebutan surga, seolah-olah piala kaca itu adalah kunci masuk Jannah.
Setelah piala dipajang di lemari bupati dan wali kota, selesai sudah perjuangan. Pembinaan mati, bibit layu, dan semangat pun wafat dengan husnul khatimah.
Kita lupa bahwa musuh kita bukan tetangga pulau sebelah, melainkan provinsi lain yang pembinaannya sudah berlari dua tahun di depan. Selama orientasi kita masih gengsi lokal, jangan heran jika di tingkat nasional kita hanya menjadi penggembira yang paling rajin beristighfar.
Lalu marilah kita bermuhasabah soal marwah dewan juri, karena MTQ ini pertanggungjawabannya bukan kepada gubernur, melainkan langsung kepada Allah Azza wa Jalla.
Sudahkah penjurian kita di daerah itu adil, atau masih ada aroma wangi-wangian titipan, balas budi, dan bisikan “tolong menangkan anak kita”? Sungguh mulia sekali juri yang memenangkan peserta karena kedekatan nasab, bukan karena kualitas tartil.
Ketika juri lokal memuaskan syahwat kekuasaan daerah, saat itulah kita sedang menggali liang lahat prestasi kita sendiri. Di tingkat pusat, hakim nasional menilai tanpa kompromi, tanpa kenal wajah.
Maka jangan salahkan Semarang jika yang jago kandang akhirnya tumbang di kandang orang. Solusinya sederhana tapi perih, datangkan Juri Pusat dari Jakarta untuk memimpin MTQ daerah, dan sertifikasi ulang juri lokal kita agar tidak hanya hafal lagu, tapi juga hafal rasa takut kepada Allah.
Kita terlalu bangga membangun gedung megah, infrastruktur menjulang, tapi lupa membangun manusia Qur’ani.
Zaman sudah berubah, daerah lain sudah memakai analisis kompetitor, psikologi kompetisi, manajemen nutrisi dan mental, sedangkan kita masih berdoa dengan metode “semoga keajaiban datang”. Ya Rabbi, keajaiban itu memang ada, tapi tidak untuk kaum yang malas berikhtiar.
Kegagalan di Semarang adalah cermin retak yang Allah hadirkan, agar kita sadar bahwa pembangunan fisik tanpa pembangunan ruhiyah hanyalah istana pasir yang indah dipandang, tapi rapuh diterpa ombak persaingan nasional.
Di tengah pedasnya kritik ini, kita wajib menundukkan kepala dan menghaturkan jazakumullah khairan katsiran kepada pengurus LPTQ Kepri..
Mereka bekerja tanpa gaji, tanpa honor tetap, hanya dengan modal keikhlasan yang jika ditimbang di akhirat mungkin lebih berat dari panggung MTQ itu sendiri.
Demi Allah, kita saksikan peluh mereka di Semarang tidak sedikit. Namun justru karena kita mencintai keikhlasan mereka, maka evaluasi total ini menjadi fardhu ain.
Jangan biarkan keringat ikhlas itu menguap menjadi kesia-siaan yang berulang setiap dua tahun. LPTQ bukan tempat serapan anggaran yang dibungkus ayat suci, melainkan benteng terakhir moral Melayu.
Ketulusan harus kini disandingkan dengan manajemen profesional yang modern, bukan sekadar tawakkal tanpa ikhtiar.
Sudahlah, hentikan segala dalih klasik nan suci seperti “provinsi lain persiapannya lebih baik” atau “peta persaingan sudah berubah”. Itu adalah kalimat zikir para pecundang yang enggan bercermin.
. Kegagalan di Semarang adalah tamparan cinta dari Allah agar kita segera mengetuk palu evaluasi. Pemda, LPTQ, Kemenag, Ormas Islam, duduklah bersama, singkirkan ego sektoral yang lebih tebal dari kitab tafsir.
Panggil kembali para guru ngaji kampung, pelatih sepuh yang dulu pernah mengantarkan kita menjadi Juara Umum dengan ikhlas tanpa panggung lampu.
Cukup sudah baliho dengan jargon muluk-muluk, saatnya amal nyata, bukan sekadar kosmetik seremonial.
Akhirnya, asa belum padam, karena rahmat Allah itu lebih luas dari daftar juara.
Biarlah jatuhnya kita di Semarang menjadi titik sujud, titik balik untuk mengikat kembali tali sepatu perjuangan yang sempat terlepas. Mari kita langitkan doa paling tulus ke hadirat Ilahi Rabbi, semoga Allah mengampuni kelalaian kolektif kita, memberkahi setiap tetes peluh pejuang Qur’an di Bumi Segantang Lada, dan menanamkan kembali keikhlasan di dada para pemangku amanah.
Kita bulatkan tekad untuk kembali merebut marwah di MTQ Nasional XXXII tahun 2028 di Serambi Mekkah, Aceh. Tidak ada yang mustahil jika kita bergerak bersama karena-Nya, bukan karena piala.
Astaghfirullahal’adzim, mohon maaf lahir batin jika tulisan ini terasa perih, karena memang kebenaran itu terkadang pahit seperti jamu, tapi menyembuhkan. Tulisan ini hanyalah ketukan kecil di pintu nurani, bukan palu hakim.
Semoga Allah SWT masih berkenan menjaga lidah kita agar tetap mengaji, menjaga Kepri agar tetap membumikan Al-Qur’an, bukan hanya membumikan anggaran seremonial. Amin Ya Rabbal ‘Alamin. ***
Penulis: Buralimar, Warga Batam


