Seragam Gratis, Senyum Baru 52.835 Siswa Batam Menyambut Tahun Ajaran

BATAM – Tahun ajaran baru selalu membawa cerita tersendiri bagi keluarga.
Ada kebahagiaan ketika anak mulai mengenakan seragam baru, bertemu teman-teman, hingga menapaki lingkungan sekolah yang baru. Namun di balik kegembiraan itu, ada pula orang tua yang harus menghitung kembali pengeluaran untuk memenuhi berbagai kebutuhan sekolah.
Seragam, sepatu, tas, buku dan perlengkapan lainnya menjadi bagian dari biaya yang harus disiapkan setiap memasuki tahun ajaran baru.
Pemerintah Kota Batam mencoba mengurangi beban tersebut melalui program seragam sekolah gratis. Memasuki tahun ajaran 2026/2027, program yang menjadi salah satu prioritas Wali Kota Batam Amsakar Achmad dan Wakil Wali Kota Batam Li Claudia Chandra itu kembali dilanjutkan.
Sebanyak 52.835 peserta didik baru jenjang SD dan SMP di Batam menjadi penerima manfaat program tersebut.
Program ini bukan sekadar membagikan pakaian sekolah.
Di balik seragam yang diberikan secara gratis, terdapat pesan tentang pemerataan kesempatan pendidikan dan keberpihakan pemerintah kepada keluarga yang tengah mempersiapkan masa depan anak-anak mereka.
Wali Kota Batam Amsakar Achmad mengatakan, keberlanjutan program tersebut merupakan bentuk komitmen pemerintah dalam memastikan tidak ada orang tua yang merasa terbebani ketika anak memasuki tahun ajaran baru.
“Program ini merupakan komitmen kami bersama Ibu Li Claudia agar tidak ada orang tua yang terbebani biaya seragam ketika anaknya memasuki tahun ajaran baru. Pemerintah harus hadir memberikan solusi sekaligus memastikan seluruh anak dapat bersekolah dengan nyaman,” ujar Amsakar.
Puluhan Ribu Anak Mendapatkan Seragam
Untuk tahun ajaran 2026/2027, Pemko Batam menyiapkan 26.501 set seragam sekolah dan 26.501 baju Melayu bagi siswa SMP.
Sementara untuk jenjang SD, disiapkan 26.334 set seragam sekolah dan 26.334 baju Melayu.
Dengan demikian, sebanyak 52.835 siswa baru SD dan SMP akan mendapatkan dua set seragam masing-masing.
Program tersebut menjangkau siswa baru di sekolah negeri maupun sekolah swasta yang berpartisipasi.
Bagi sebagian keluarga, bantuan ini tentu bukan perkara kecil. Ketika kebutuhan seragam dapat dipenuhi pemerintah, orang tua memiliki ruang lebih untuk memenuhi kebutuhan pendidikan lainnya.
Uang yang semula harus dialokasikan untuk membeli seragam dapat digunakan untuk membeli buku, perlengkapan belajar, transportasi, maupun kebutuhan rumah tangga lainnya.
Di sisi lain, siswa juga dapat memulai kegiatan belajar dengan perlengkapan yang relatif lebih setara dengan teman-temannya.
Semangat pemerataan inilah yang ingin dibangun Pemko Batam melalui program tersebut.
Tidak Perlu Terburu-buru Membeli Seragam
Meski tahun ajaran baru 2026/2027 telah dimulai sejak 20 Juli 2026, distribusi seragam gratis belum dilakukan.
Saat ini pemerintah masih melakukan pendataan ukuran atau size masing-masing siswa penerima. Proses tersebut diperlukan agar seragam yang nantinya diberikan sesuai dengan kebutuhan siswa.
Distribusi seragam diperkirakan berlangsung pada akhir September atau awal Oktober 2026.
Karena itu, Amsakar mengimbau seluruh kepala sekolah SD dan SMP, baik negeri maupun swasta, agar tidak memaksakan siswa baru menggunakan seragam sekolah sebelum seragam gratis tersebut didistribusikan.
Pesan ini menjadi penting agar keluarga tidak kembali mengeluarkan biaya untuk membeli seragam yang nantinya akan diperoleh melalui program pemerintah.
Bukan Sekadar Seragam
Bagi Amsakar, perhatian pemerintah terhadap pendidikan tidak berhenti pada persoalan seragam.
Pada 2026, Pemko Batam juga menjalankan berbagai pembangunan dan rehabilitasi fasilitas pendidikan. Mulai dari pembangunan unit sekolah baru, ruang kelas, laboratorium, toilet, hingga perbaikan ruang belajar di sejumlah sekolah dasar dan sekolah menengah pertama.
Langkah tersebut menjadi bagian dari upaya menciptakan lingkungan belajar yang aman, nyaman dan mendukung peningkatan mutu pendidikan.
Sebab, pendidikan yang berkualitas tidak hanya membutuhkan anak-anak yang rajin belajar. Mereka juga membutuhkan ruang belajar yang layak, fasilitas yang memadai, guru yang berdedikasi, serta dukungan pemerintah dan keluarga.
Di sinilah program seragam gratis menemukan maknanya yang lebih luas.
Seragam menjadi simbol bahwa setiap anak memiliki hak yang sama untuk datang ke sekolah, belajar dan bermimpi tentang masa depan.
Bagi keluarga, program ini juga menjadi bentuk kehadiran pemerintah dalam kehidupan sehari-hari. Bantuan yang terlihat sederhana, tetapi menyentuh kebutuhan yang nyata.
Amsakar menegaskan, seluruh kebijakan tersebut diarahkan untuk membangun sumber daya manusia Batam yang unggul dan memiliki daya saing.
“Kami ingin setiap anak di Batam memperoleh kesempatan yang sama untuk berkembang. Pendidikan adalah fondasi kemajuan daerah. Karena itu, pemerintah akan terus hadir melalui berbagai program yang memberikan manfaat nyata bagi masyarakat,” kata Amsakar.
Dengan 52.835 siswa baru sebagai penerima manfaat, program seragam sekolah gratis bukan hanya tentang pakaian yang dikenakan saat berada di ruang kelas.
Lebih dari itu, program ini menjadi bagian dari ikhtiar membangun pendidikan yang lebih inklusif, meringankan beban keluarga, sekaligus membuka jalan agar anak-anak Batam dapat memulai perjalanan pendidikannya dengan lebih percaya diri.
Sebab dari seragam yang sederhana itu, tersimpan harapan yang jauh lebih besar: agar setiap anak Batam memiliki kesempatan yang sama untuk belajar, tumbuh dan meraih masa depan.


