Pak Suhardi

Oleh: Robby Patria
Ada pertemuan yang kita kira biasa saja, padahal itulah yang terakhir. 16 Juni 2026, di sebuah ruang RS AL Tanjungpinang , kami masih sempat bercanda lebih kurang dua jam di dalam ruangan rawat itu. Obrolan tak habis habis.
Bahkan beliau sempat meneken proposal mahasiswi yang sudah lulus ujian proposal selesai melakukan perbaikan.
Saya ikut membantu ia duduk dari tempat tidur. Tak ada tanda tanda serius sakitnya.
Pak Suhardi tersenyum, tertawa. Tak ada firasat, tak ada tanda. Hanya kehangatan seorang guru yang masih ingin berbagi tawa meski tubuhnya sedang berjuang.
Kemudian sahabat saya Zakaria yang tinggal dekat rumahnya kembali melaporkan ke saya, “ Pak Suhardi masuk rumah sakit lagi. Sesaknya,”katanya.
Saya tak terlalu merisaukan. Lalu pada Rabu rekan dosen Dr Doddy melihat beliau di RS AL. Dan mengirim foto almarhum yang terbaring di rumah sakit dengan kondisi yang lebih lemah.
Rencananya, hari ini Kamis (2/7/2026) kami ingin menjenguk kembali. Tapi takdir menutup pintu sebelum langkah kami sampai. Rupanya, senyum itulah salam perpisahannya.
Bahwa percakapan ringan itu ternyata percakapan penutup. Betapa kematian datang tanpa mengetuk, mengambil orang-orang baik di saat kita masih menyimpan banyak rencana bersama mereka.
Pak Suhardi bukan sekadar rekan. Ia dosen senior PBSI FKIP UMRAH yang masuk mengajar sejak 2007, seorang yang tak pernah pelit memberi tunjuk ajar.
Sejak saya menjadi dosen luar biasa pada 2010, di sanalah kami berinteraksi, belajar, dan tumbuh bersama.
Semester lalu kami masih menyelesaikan bimbingan beberapa mahasiswa hingga mereka wisuda.
Semester ini pun namanya masih hidup dalam rencana. Saya sempat berpesan kepada seorang mahasiswi,”Nanti, jika Pak Suhardi sudah sehat, temuilah beliau. Sistematika penulisanmu sudah benar, dan soal perubahan judul, konsultasikan kembali kepada beliau.”
Mahasiswi itu mengangguk setuju.
Pesan itu kini menggantung di udara. “Nanti jika beliau sudah sehat” adalah kalimat harapan yang tak akan pernah menemukan jawabannya di dunia ini.
Inilah yang paling sedih dari kehilangan seorang pendidik: ia pergi dengan meninggalkan tugas yang belum selesai, ilmu yang masih ingin ia wariskan, dan anak-anak didik yang masih menanti bimbingannya.
Tapi barangkali di sanalah letak keabadian seorang guru. Ia tak benar-benar pergi selama ilmunya masih mengalir, selama tunjuk ajarnya masih dipegang oleh mereka yang pernah ia bimbing.
Setiap mahasiswa yang menyelesaikan tulisannya dengan benar, setiap kali nama Pak Suhardi disebut dalam ruang kuliah PBSI, di situ ia masih hidup.
Di akhir hayatnya wajah Pak Suhardi terlihat tersenyum. Seperti kebiasaan selama hidup yang selalu tersenyum dengan mahasiswa dengan rekan dosen hingga tetangganya.
“Almarhum tak banyak cakap lebih sering tersenyum,” ujar tetangganya Firdaus.
Selamat jalan, Pak Suhardi. Terima kasih atas belasan tahun tunjuk ajar yang tak terhitung nilainya.
Semoga Allah menempatkan di tempat terbaik di sisi-Nya, mengampuni segala khilaf dan dosanya, dan menjadikan setiap ilmu yang beliau tanamkan sebagai amal yang tak pernah putus. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi ketabahan dan keikhlasan.
Al-Fatihah. ***


