Ansar dan Kelantan, Menautkan Kembali Jejak Melayu-Islam dari Pulau Penyengat
PENYENGAT – Di tengah semilir angin laut dan suasana teduh Pulau Penyengat, sebuah pertemuan sarat makna berlangsung hangat pada Kamis (7/5).
Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, menyambut langsung kedatangan Menteri Besar Kelantan, Mohd Nassuruddin Daud, dalam kunjungan silaturahmi yang bukan sekadar agenda diplomatik biasa.
Pulau Penyengat dipilih bukan tanpa alasan. Pulau kecil yang menjadi pusat peradaban Melayu dan Islam itu seakan menjadi saksi hidup eratnya hubungan sejarah antara masyarakat Melayu di Kepulauan Riau dan Kelantan, Malaysia.
Dari tanah bersejarah inilah, semangat persaudaraan serumpun kembali diteguhkan.
Pertemuan berlangsung dalam nuansa akrab dan penuh kekeluargaan. Pertukaran cendera mata antara kedua pemimpin menjadi simbol penghormatan sekaligus penanda kuatnya hubungan budaya yang telah terjalin lintas generasi.
Bagi Ansar Ahmad, kunjungan tersebut memiliki makna mendalam. Ia menilai hubungan Kepulauan Riau dan Kelantan bukan hanya sebatas kedekatan geografis, melainkan terhubung oleh akar sejarah, bahasa, budaya, hingga nilai-nilai keislaman yang sama.
“Merupakan suatu kehormatan besar bagi kami. Kunjungan ini tidak hanya mencerminkan hubungan baik antarwilayah, tetapi juga menjadi manifestasi nyata dari ikatan sejarah, budaya, dan keagamaan yang telah terjalin sejak berabad-abad lamanya,” ujar Ansar.
Di hadapan rombongan dari Kelantan, Ansar menegaskan bahwa dunia Melayu sejak dahulu dibangun di atas fondasi Islam yang kuat.
Kesamaan identitas itu, menurutnya, menjadi modal penting untuk membangun kerja sama yang lebih luas di masa depan, baik dalam bidang sosial, budaya, maupun keagamaan.
Pulau Penyengat sendiri memiliki posisi istimewa dalam sejarah Melayu. Dari pulau inilah lahir karya-karya besar sastra dan pemikiran Islam Melayu, termasuk jejak Raja Ali Haji dengan Gurindam Dua Belas yang hingga kini menjadi warisan intelektual dunia Melayu.
Karena itu, kunjungan Menteri Besar Kelantan ke Penyengat bukan hanya perjalanan seremonial, melainkan seperti menyusuri kembali simpul sejarah yang pernah menyatukan masyarakat Melayu di kawasan Nusantara.
“Sebagaimana kita maklumi, Kepulauan Riau dan Kelantan berada dalam satu lingkup peradaban Melayu yang sama, yang ditopang oleh nilai-nilai Islam sebagai teras utama kehidupan masyarakat,” lanjut Ansar.
Ia berharap, hubungan yang terjalin tidak berhenti pada silaturahmi semata, tetapi berkembang menjadi kolaborasi nyata yang membawa manfaat bagi masyarakat kedua wilayah.
“Kami berharap, muhibah dan silaturahmi yang telah dilaksanakan ini menjadi titik awal bagi terjalinnya kerja sama yang lebih erat dan berkelanjutan dalam berbagai bidang strategis, khususnya penguatan nilai-nilai keislaman yang moderat dan inklusif,” tutupnya.
Dalam rangkaian kegiatan tersebut, Ansar juga menunjukkan perhatian terhadap pengembangan kawasan wisata budaya Melayu.
Ia menyerahkan bantuan berupa tong sampah dan alat kebersihan kepada pengelola kawasan wisata KM 52 Bintan yang diterima bersama Kelompok Sadar Wisata Penyengat.
Langkah kecil itu menjadi simbol bahwa menjaga warisan Melayu bukan hanya melalui narasi sejarah dan budaya, tetapi juga lewat kepedulian terhadap lingkungan dan keberlanjutan destinasi wisata bersejarah.
Dari Pulau Penyengat, pesan tentang persaudaraan Melayu kembali digaungkan bahwa di tengah perubahan zaman, akar budaya dan nilai keislaman tetap menjadi jembatan yang menyatukan masyarakat serumpun di dua negeri. (bs)

Ansar dan Kelantan, Menautkan Kembali Jejak Melayu-Islam dari Pulau Penyengat.f-ist


