OPINI

Menjadi Benteng Pembangkit Melayu Nusantara

Oleh : Robby Patria

Muhibah budaya kembali menjembatani dua wilayah serumpun di Selat Malaka. Sebanyak 57 orang dari Pertubuhan Peradaban Melayu Kelantan, Malaysia, melakukan kunjungan ke Tanjungpinang dan Bintan dalam rangka mempererat hubungan kebudayaan dan kesusastraan Melayu.

Rombongan dipimpin langsung oleh sastrawan terkemuka Malaysia, Aziz Deraman, yang juga pernah menjabat sebagai Ketua Pengarah Dewan Bahasa dan Pustaka serta dikenal sebagai sahabat karib Perdana Menteri Malaysia, Anwar Ibrahim.

Perjalanan rombongan bukanlah perjalanan singkat. Mereka menempuh belasan jam perjalanan darat dari Kelantan menuju Johor, lalu melanjutkan perjalanan hingga tiba di Tanjungpinang. Lelah panjang perjalanan seolah terbayar lunas ketika kaki mereka menjejak Pulau Penyengat tanah bersejarah yang menjadi salah satu pusat tamadun Melayu dan tempat lahirnya karya-karya besar Raja Ali Haji.

Pulau Penyengat menjadi pembuka yang sarat makna. Di pulau kecil yang menyimpan jejak Kesultanan Riau Lingga itu, rombongan seakan menyusuri kembali akar sejarah dan bahasa yang menyatukan Melayu di dua negara. Dari sana, kunjungan berlanjut pada Senin (16/2/2026) ke Universitas Maritim Raja Ali Haji (UMRAH).

Di kampus yang mengusung nama pujangga besar Melayu itu, rombongan diterima oleh Direktur Pascasarjana UMRAH, Rumzi Samin. Kunjungan ini terasa istimewa karena berlangsung di tengah waktu libur, namun tetap difasilitasi dengan hangat oleh pihak universitas. Ucapan terima kasih disampaikan kepada Rektor UMRAH Agung Dhamar Syakti serta Kepala Biro Akademik, Perencanaan, dan Kerja Sama Ary Satya Dharma, yang memastikan agenda berjalan lancar.

Aziz Deraman dalam kesempatan itu mengatakan UMRAH harus menjadi benteng pembangkit Melayu Nusantara. Karena nama Raja Ali Haji adalah nama besar yang melahirkan karya menjadi dasar penggunaan bahasa Melayu menjadi bahasa Nasional Indonesia di deklarasikan pada Sumpah Pemuda 1928. Malaysia sampai saat ini masih menjadikan bahasa Melayu sebagai bahasa nasional.

Turut hadir pula Kepala Dinas Kebudayaan Provinsi Kepulauan Riau, Herry Andrianto, menegaskan bahwa kunjungan ini bukan sekadar silaturahmi biasa, melainkan bagian dari diplomasi budaya yang strategis.

Dalam pertemuan tersebut, Dato Aziz Deraman menyerahkan sejumlah buku karyanya kepada para dosen UMRAH yang hadir, di antaranya Rumzi Samin, Robby Patria, dan Tety Kurmalasari. Saya pun menyerahkan buku Tambelan yang ditulis tahun 2024 lalu.

Penyerahan buku itu bukan sekadar simbolis, melainkan penegasan pentingnya pertukaran gagasan dan literasi lintas negara. Buku menjadi jembatan intelektual yang melampaui batas geografis.

Setelah agenda akademik di UMRAH, dua bus rombongan melanjutkan perjalanan menuju kawasan wisata Lagoi di Bintan. Perjalanan itu dipimpin oleh Irwanto dari pejabat Dinas Kebudayaan Kepulauan Riau. Kunjungan ke Lagoi menunjukkan bahwa muhibah budaya ini juga berdimensi pariwisata.

Pertemuan kebudayaan selalu berpotensi mendorong kunjungan balik, memperkenalkan destinasi, dan memperkuat citra daerah sebagai pusat budaya Melayu yang hidup dan terbuka.

Puncak kegiatan berlangsung pada malam harinya di Hotel Melin Tanjungpinang. Di sana digelar diskusi kebudayaan dan pembacaan puisi yang menghadirkan budayawan Kepri, Rida K Liamsi, bersama Persatuan Penulis Kepri ada Husnizar Hood, Robby Patria, Rendra dan jajaran Dinas Kebudayaan Kepri.

Hadir pula pengurus Lembaga Adat Melayu Provinsi Kepulauan Riau, di antaranya Dato Zamzami dan Dato Admadinata, menambah khidmat suasana. Dan Masyarakat Sejarawan Indonesia Kepri hadir Anastasya Wiwiek bersama Dedi Arman.

Diskusi berlangsung hangat, membicarakan masa depan bahasa dan sastra Melayu di tengah tantangan globalisasi. Ada kesadaran bersama bahwa Melayu bukan sekadar identitas masa lalu, melainkan energi kebudayaan yang harus terus dihidupkan melalui karya dan kolaborasi.

Setelah sesi diskusi, panggung puisi menjadi ruang pertemuan rasa. Tiga penyair dari Kelantan tampil membacakan karya mereka, termasuk Dato Aziz Deraman sendiri. Dari Kepri, Ketua Perhimpunan Penulis Kepri, Husnizar Hood, turut membacakan puisi yang disambut tepuk tangan hangat hadirin.

Malam itu, sajak-sajak yang dibacakan seolah menghapus batas negara. Bahasa yang sama, diksi yang akrab, dan getar emosi yang serupa menjadi bukti bahwa kebudayaan Melayu tetap satu dalam jiwa, meski terpisah administrasi politik.

Keesokan harinya, rombongan harus kembali menempuh perjalanan panjang menuju Kelantan. Perpisahan terasa singkat, tetapi kesan yang ditinggalkan mendalam. Muhibah budaya seperti ini bukan hanya mempererat silaturahmi, tetapi juga membangun jaringan intelektual yang konkret.

Pertemuan antarbudayawan, akademisi, dan pegiat sastra membuka peluang kolaborasi riset, penerbitan bersama, hingga pertukaran narasumber.

Bahkan, Dato Aziz Deraman secara langsung mengundang tiga tokoh dari Kepri untuk hadir sebagai pembentang dalam simposium yang akan digelar di Kelantan.

Undangan itu menjadi tanda bahwa hubungan ini tidak berhenti pada seremoni, melainkan berlanjut pada kerja-kerja ilmiah dan kebudayaan yang lebih sistematis.

Bagi Tanjungpinang dan Kepulauan Riau, kunjungan ini memberi dampak positif yang lebih luas. Selain memperkuat posisi daerah sebagai pusat warisan Melayu, kegiatan ini juga mendukung sektor pariwisata dan ekonomi kreatif. Setiap kunjungan budaya membawa cerita, dokumentasi, dan promosi tidak langsung yang berharga.

Lebih dari itu, muhibah ini mengingatkan bahwa kebudayaan adalah diplomasi paling halus dan paling tahan lama. Ia tidak dibangun dengan negosiasi formal, tetapi dengan percakapan, buku, puisi, dan persahabatan.

Dalam dunia yang kerap terbelah oleh politik dan kepentingan ekonomi, hubungan serumpun seperti ini menjadi jangkar identitas sekaligus jembatan masa depan.

Di antara perjalanan panjang, diskusi hangat, dan bait-bait puisi yang mengalun malam itu, tersimpan harapan bahwa Melayu akan terus hidup bukan hanya sebagai warisan sejarah, tetapi sebagai kekuatan intelektual dan kultural yang menghubungkan Kelantan dan Kepulauan Riau dalam satu denyut yang sama.**

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *