Angin Utara Mengamuk, Nelayan Tertahan, Harga Ikan Melambung Tinggi

KEPRI katasiber,- Deru angin memecah sunyi perairan Kawal, Bintan dan perairan di Kepri umumnya.
Gelombang menggulung tinggi, memantulkan cahaya matahari pagi yang pucat.
Di kejauhan, deretan kapal nelayan dan kelong tampak berjejer rapi, bukan karena baru pulang melaut, melainkan terpaksa berlindung dari amukan laut.
Kepulauan Riau kini berada di puncak musim angin utara.
Bagi masyarakat pesisir, musim ini bukan sekadar perubahan cuaca, melainkan penanda datangnya masa sulit.
Angin kencang dan gelombang tinggi membuat laut tak lagi ramah bagi nelayan, terutama nelayan kecil dan tradisional.
Di sejumlah perairan, kapal-kapal besar pun memilih bersandar. Apalagi nelayan kelongl, mereka nyaris tak punya pilihan selain menunggu cuaca membaik.
“Musim angin utara ini selalu berat bagi kami,” ujar, Amsah, salah satu nelayan kelong di Bintan.
Baginya dan nelayan kecil lainnya, laut bukan hanya tempat mencari nafkah, tetapi juga medan pertaruhan nyawa.
“Biasanya hasil tangkapan memang berkurang. Banyak juga nelayan yang tidak berani melaut karena angin terlalu kuat,” katanya.
Sebagian nelayan yang masih turun ke laut mencoba bertahan dengan mengincar jenis ikan yang relatif lebih mudah didapat saat musim angin utara, seperti ikan selar. Namun upaya itu tetap penuh risiko.
Perahu harus menantang gelombang, sementara hasil yang dibawa pulang belum tentu sepadan dengan bahaya.
“Kalau masih memungkinkan, kita turun. Tapi kalau anginnya kuat sekali, kita prioritaskan keamanan,” ujarnya.
Dampak laut yang mengganas itu tak berhenti di dermaga. Getarannya merambat hingga ke pasar-pasar tradisional.
Dilansir Batampos, Di Pasar Viktoria, Sekupang, Batam, para pembeli mulai mengelus dada. Harga hasil laut merangkak naik seiring menipisnya pasokan.
Cumi-cumi yang sebelumnya dijual sekitar Rp100 ribu per kilogram kini melonjak hingga Rp170 ribu per kilogram. Ikan tongkol berada di kisaran Rp38 ribu hingga Rp40 ribu per kilogram.
Ikan karang seperti kerapu dan kakap merah pun ikut terkerek. Lapak-lapak ikan tak seramai biasanya. Pedagang mengeluhkan barang yang datang semakin sedikit, sementara permintaan tetap tinggi.
Kepala Dinas Perikanan Kota Batam, Yudi Admajianto, membenarkan kondisi tersebut. Menurutnya, musim angin utara selalu berdampak langsung terhadap produksi perikanan tangkap.
“Memang saat angin utara produksi ikan laut menurun. Terutama cumi-cumi, karena penangkapannya masih manual, istilahnya ‘nyumi’. Kalau angin kuat tentu sangat terganggu,” jelasnya.
Penangkapan sotong yang mengandalkan lampu dan umpan udang juga ikut terhambat. Nelayan kecil dan penangkap ikan karang merasakan dampak serupa.
Di tengah cuaca yang belum menentu, pemerintah daerah terus mengimbau nelayan agar mengutamakan keselamatan dan memperhatikan prakiraan cuaca sebelum melaut.
Sementara itu, di pesisir Kepri, kapal-kapal masih setia bersandar.
Para nelayan menatap laut dari kejauhan, menunggu saat angin bersahabat kembali. Sebab bagi mereka, ketika laut tenang, bukan hanya jala yang ditebar, tetapi juga harapan untuk dapur yang kembali mengepul. (bs)


