Menyusuri Jejak Sejarah dan Iman di Pulau Penyengat, Menag RI Safari Subuh Bersama Gubernur Kepri

TANJUNGPINANG, katasiber – Subuh di Pulau Penyengat terasa berbeda, Kamis (15/1).
Saat azan berkumandang dari Masjid Penyengat, cahaya fajar perlahan menyibak pulau kecil yang sarat sejarah itu.
Di antara jamaah yang hadir, tampak Menteri Agama Republik Indonesia Prof. Dr. K.H. Nasaruddin Umar, berdampingan dengan Gubernur Kepulauan Riau H. Ansar Ahmad, melangkah khusyuk mengikuti Safari Subuh.
Masjid Penyengat, yang menjadi saksi perjalanan peradaban Melayu dan dakwah Islam berabad silam, pagi itu kembali hidup oleh lantunan doa dan zikir.
Safari Subuh ini bukan sekadar ibadah rutin, tetapi juga menjadi momentum mempererat hubungan spiritual, sejarah, dan pengabdian kepada umat.
Usai menunaikan salat subuh berjamaah, Menag RI bersama Gubernur Kepri melanjutkan perjalanan ziarah ke Kompleks Pemakaman Para Raja di Pulau Penyengat. Di tempat peristirahatan tokoh-tokoh besar Melayu tersebut, Menag RI berziarah ke makam Raja Ali Haji Fisabilillah dan Daeng Celak.
Di hadapan pusara Daeng Celak, Menag RI tak mampu menyembunyikan rasa haru. Ia mengungkapkan bahwa nama Daeng Celak memiliki ikatan sejarah dengan silsilah keluarganya di Palopo, Sulawesi Selatan.
“Makam Daeng Celak yang saya ziarahi tadi merupakan salah satu nama yang menjadi silsilah keluarga saya di Palopo. Alhamdulillah, di sini akhirnya saya bisa berziarah ke makam nenek moyang saya,” ujar Menag RI dengan nada penuh syukur.
Pulau Penyengat, bagi Menag RI, bukan hanya tempat wisata religi, tetapi ruang refleksi tentang peradaban, perjuangan dakwah, dan kesinambungan sejarah Islam Nusantara yang patut dijaga dan diwariskan.
Rangkaian kegiatan kemudian berlanjut ke Kantor Wilayah Kementerian Agama (Kanwil Kemenag) Provinsi Kepulauan Riau. Dalam suasana penuh keakraban, Menag RI bersilaturahmi dengan seluruh jajaran pegawai Kemenag Kepri.
Bersama Gubernur Kepri Ansar Ahmad dan Kepala Kanwil Kemenag Kepri Zoztafia, Menag RI melakukan penanaman pohon sebagai simbol komitmen Kementerian Agama dalam menjaga kelestarian lingkungan melalui gerakan “Hijaukan Bumi”.
Aksi ini menjadi pengingat bahwa menjaga alam adalah bagian dari ibadah dan tanggung jawab moral umat beragama.
Tak hanya itu, Menag RI juga meninjau Gedung Pelayanan Terpadu Satu Pintu (PTSP) Kanwil Kemenag Kepri, menandatangani penyerahan lahan dari Kementerian Agama kepada Kanwil Kemenag Kabupaten Kepulauan Anambas, serta menandatangani pembangunan MAN Natuna.
Ia juga menyempatkan diri menyapa dan berdialog langsung dengan para Aparatur Sipil Negara (ASN) di lingkungan Kemenag Kepri.
Dalam arahannya, Menag RI Nasaruddin Umar mengingatkan seluruh ASN untuk meneladani nilai-nilai luhur Asmaul Husna dalam menjalankan tugas pelayanan kepada masyarakat.
“Sebagai bagian dari Kementerian Agama, saya berharap seluruh pegawai selalu menanamkan citra yang baik dan positif dalam menjalankan tugas melayani masyarakat,” tegasnya.
Ia menekankan pentingnya keikhlasan, kesabaran, dan pengabdian tanpa pamrih. Menurutnya, pelayanan terbaik justru diuji saat seseorang tidak mendapatkan pujian, bahkan menerima cemoohan.
“Berikan pelayanan maksimal tanpa mengharapkan imbalan. Tetap tersenyum saat mendapat cemoohan, sebagaimana sifat As-Sabur. Saya yakin, dengan menerapkan sifat-sifat Allah tersebut, seluruh pegawai Kemenag Kepri akan mendapatkan pahala yang berlipat ganda,” ujarnya.
Menutup arahannya, Menag RI mengajak seluruh ASN Kemenag Kepri untuk terus membersihkan hati, menjauhi praktik korupsi dan hal-hal yang diharamkan, serta menjadikan setiap tugas sebagai bentuk pengabdian semata-mata karena Allah SWT.
Safari Subuh di Pulau Penyengat pun menjadi lebih dari sekadar agenda kunjungan kerja. Ia menjelma menjadi perjalanan spiritual menyambung sejarah, meneguhkan iman, dan menguatkan komitmen pengabdian bagi negeri dan umat. (bs)


