Pagi yang Sibuk di Kebun Dompak, Demi Semangka Lebih Semok dan Gemuk

DOMPAK, katasiber – Pagi Kamis (15/1/2026), udara di kawasan lahan binaan Kogabwilhan I Tanjungpinang terasa sejuk.
Matahari baru saja menampakkan sinarnya, menyinari hamparan tanaman semangka yang mulai berbunga.
Di sela-sela tanaman merambat itu, enam petani tampak tekun bekerja.
Sejak pukul enam pagi, mereka sudah turun ke lahan melakukan penyerbukan bunga semangka secara manual, atau yang dikenal dengan istilah polinasi manual.
Aktivitas ini harus dilakukan pagi hari dan tidak boleh lewat dari pukul 09.00 WIB agar hasilnya maksimal.
Pak Sukar, Arya, Diky, Huda, hingga Kocil terlihat bergotong royong. Dengan telaten, mereka memetik bunga jantan, lalu menempelkannya pada bunga betina yang memiliki bakal buah.
Tujuannya satu: memastikan setiap tanaman berbuah sempurna dan menghasilkan semangka berukuran besar, tentu yang jumbo dan berbobot.
Metode ini perlahan mengubah wajah pertanian semangka di Dompak, Tanjungpinang.
Anak-anak muda pun mulai tertarik menekuni budidaya semangka karena hasilnya yang menjanjikan.
Pasar yang luas dan harga jual yang bersaing menjadikan semangka sebagai komoditas potensial, meski tak semua petani mampu memanen secara maksimal.
Padahal, lahan di kawasan ini sebagian merupakan bekas tambang bauksit. Namun fakta di lapangan membuktikan, dengan pengelolaan yang tepat, lahan seluas satu setengah hektare mampu menghasilkan hingga 70 ton semangka dalam sekali panen.
Keberhasilan itu tak lepas dari penerapan polinasi manual. Dengan metode ini, petani di Dompak mampu meningkatkan hasil panen hingga dua bahkan tiga kali lipat dibandingkan pertanian semangka yang hanya mengandalkan penyerbukan alami.
Polinasi dilakukan dengan cara mengumpulkan bunga jantan dari tanaman semangka berbiji, lalu menempelkannya ke bunga betina semangka nonbiji.
Proses ini umumnya dilakukan saat tanaman berumur 21 hingga 28 hari setelah tanam, dengan waktu paling efektif antara pukul 06.00 hingga 09.00 pagi.
Petani semangka, Diky, menjelaskan bahwa pada dasarnya penyerbukan bisa terjadi secara alami melalui bantuan angin, air, atau serangga. Namun cara tersebut dinilai kurang efektif karena tidak merata.
“Kalau alami, tidak semua bunga terpolinasi dengan baik. Dampaknya, banyak tanaman yang tidak berbuah maksimal,” jelasnya.
Hal senada disampaikan Huda. Menurutnya, polinasi manual memberikan kepastian bahwa setiap tanaman mengalami proses penyerbukan dengan sempurna, sehingga hasil panen meningkat signifikan.
“Dengan polinasi manual, hasilnya bisa dua kali lipat dibandingkan hanya mengandalkan alam,” ujarnya.
Aji, petani semangka lainnya, bahkan menyebut metode ini jauh lebih menguntungkan.
“Lebih baik kawin manual daripada kawin alami. Kalau alami, tergantung serangga membawa serbuk sari. Manual itu lebih pasti, dan hasilnya jauh lebih banyak,” katanya.
Selain polinasi, para petani juga menekankan pentingnya faktor pendukung lain seperti pengolahan lahan yang baik, pemilihan varietas bibit unggul, teknik penanaman yang tepat, serta perawatan dan penyiraman yang teratur.
Dengan kombinasi kerja keras, pengetahuan, dan inovasi sederhana, petani Dompak membuktikan bahwa keterbatasan lahan bukan penghalang untuk menghasilkan panen melimpah. (bas)


