Saat Laut Mengamuk, Nelayan Kelong Bintan Menambatkan Harapan di Darat

KAWAL, katasiber – Puluhan pompong nelayan kelong tampak terparkir rapi di dermaga belakang Pasar Kawal, Kabupaten Bintan.
Mesin-mesin dimatikan, kelong diparkir di tempat yang aman, laut seolah ditinggalkan sementara.
Musim utara kembali datang, membawa angin kencang dan ombak besar yang memaksa para nelayan berhenti melaut.
Hampir dua bulan terakhir, sejak angin utara tiba, nelayan kelong kehilangan mata pencaharian utama.
Cuaca ekstrem membuat aktivitas menangkap ikan, bilis, dan sotong menjadi terlalu berisiko. Berdasarkan perkiraan, angin utara baru akan mereda sekitar April 2026 mendatang.
Agar dapur tetap berasap, para nelayan pun memutar haluan hidup. Darat menjadi tumpuan sementara.
Ada yang menjadi buruh tani, buruh bangunan, hingga bercocok tanam jagung di lahan seadanya.
Pekerjaan apa pun dijalani, selama bisa memenuhi kebutuhan keluarga.
Sebagian nelayan memilih menjadi tukang bangunan.
Tenaga yang biasa dipakai melawan arus laut kini digunakan mengangkat semen dan batu. Bagi nelayan yang memiliki sedikit modal, musim utara dimanfaatkan untuk memperbaiki pompong agar lebih kuat dan siap kembali ke laut saat angin selatan datang.
Tak hanya pompong, kelong pun menjadi sasaran perbaikan. Kayu-kayu yang mulai lapuk diganti, baut-baut berkarat dilepas satu per satu.
Mereka ingin memastikan kelong kembali kokoh saat musim melaut tiba.
Ansah, salah seorang nelayan kelong di Kawal, memilih fokus memperbaiki kelong miliknya. Ia mengganti baut-baut yang sudah keropos agar struktur kelong lebih aman.
“Kalau tidak ada pekerjaan selama musim utara, biasanya perbaikan kelong dulu,” ujarnya.
Bagi nelayan Kawal, musim utara bukan sekadar jeda dari laut, melainkan ujian ketahanan hidup.
Di tengah keterbatasan, mereka tetap bertahan, menanti angin bersahabat agar bisa kembali mengarungi laut, menjemput rezeki yang sempat tertunda. (bas)


