Fasilitas Olahraga di Tanjungpinang Masih Minim, Atlet Kesulitan Bersaing di Level Tinggi

TANJUNGPINANG, katasiber – Di tengah harapan melahirkan atlet berprestasi dan menjadikan olahraga sebagai kebanggaan daerah, Kota Tanjungpinang justru masih berkutat pada persoalan mendasar: keterbatasan fasilitas olahraga yang memadai dan berstandar.
Kondisi ini bukan hanya menghambat proses pembinaan, tetapi juga berdampak langsung pada kesiapan atlet saat harus tampil di ajang regional hingga nasional.
Sekretaris Seksi Wartawan Olahraga (SIWO) PWI Kepri yang juga pemerhati olahraga, Abas, menilai Tanjungpinang sebagai ibukota provinsi Kepri masih tertinggal dalam penyediaan sarana olahraga yang representatif.
Banyak venue yang selama ini dipakai latihan maupun pertandingan, menurutnya, belum memenuhi standar keamanan maupun teknis.
“Banyak event digelar di Tanjungpinang, tapi evaluasi fasilitasnya minim. Bahkan ada venue yang sebenarnya tidak layak dipakai pertandingan,” ujar Abas, saat dialog di RRI Tanjungpinang, Jumat (2/1/2026), terkait Tanjungpinang tuan rumah Porprov Kepri 2026.
Salah satu contoh yang ia soroti adalah pelaksanaan cabang olahraga voli pada Porprov sebelumnya yang digelar di Lapangan voli Tugu Pensil Tepilaut.
Pertandingan dilaksanakan di ruang terbuka, tepat di tepi pantai, dengan kondisi angin kencang, cuaca panas, hingga ranting pohon yang kerap berjatuhan.
Situasi ini, kata Abas, bukan sekadar soal kenyamanan melainkan menyangkut keselamatan atlet.
“Lapangan tidak layak. Angin kuat, panas, ranting pohon jatuh ini bisa mencederai atlet,” tegasnya.
Hingga kini, Tanjungpinang belum memiliki gelanggang voli indoor berstandar. Padahal, kota ini ditunjuk sebagai salah satu tuan rumah Porprov Kepri 2026.
“Kita bicara tuan rumah Porprov, tapi fasilitas dasarnya saja belum siap,” tambahnya.
Minimnya fasilitas juga berdampak pada kemampuan adaptasi atlet. Saat latihan berlangsung di lapangan terbuka, kondisi berubah total ketika mereka harus bertanding di arena indoor pada ajang nasional seperti PON.
Pencahayaan, pantulan lantai, hingga atmosfer pertandingan semuanya berbeda.
“Kita latihan di outdoor, tapi tandingnya di indoor dengan lampu dan standar berbeda. Atlet kita tidak siap beradaptasi,” kata Abas.
Menurutnya, ketidaksiapan teknis ini ikut memengaruhi performa atlet Kepri di pentas besar.
Sebagai daerah kepulauan, Kepri memiliki potensi besar untuk mengembangkan cabang voli pantai.
Namun ironisnya, hingga kini belum ada satu pun arena voli pantai permanen dan berstandar di Tanjungpinang.
Abas mendorong pemerintah provinsi maupun kabupaten/kota untuk mengambil langkah strategis.
“Ini saatnya kepala daerah membangun fasilitas olahraga yang lengkap dan modern demi kemajuan daerah,” ujarnya.
Alasan klasik yang sering muncul selama ini adalah keterbatasan lahan.
Namun Abas melihat momentum baru seiring kebijakan pengembalian lahan HGU/HGB yang tidak diperpanjang kepada daerah.
Baginya, ini peluang emas yang tak boleh terlewatkan.
“Lahan ini bisa dioptimalkan untuk fasilitas olahraga, bukan dibiarkan terbengkalai,” tegasnya.
Bagi Abas, membangun fasilitas olahraga bukan hanya urusan fisik bangunan. Lebih dari itu, ia menyebutnya sebagai investasi jangka panjang bagi kualitas sumber daya manusia, kesehatan masyarakat, bahkan identitas daerah.
Tanpa sarana yang memadai, pembinaan atlet hanya akan berjalan setengah hati.
Dan Tanjungpinang, kata Abas, akan terus berada di baris belakang dalam peta olahraga nasional.
“Kalau fasilitasnya tidak kita siapkan sekarang, jangan berharap prestasi datang begitu saja,” tutupnya. (mas)


