Transportasi Gratis untuk Pelajar Hinterland: Menyambung Harapan, Memeratakan Akses Pendidikan di Batam

BATAM, katasiber – Di sudut-sudut wilayah hinterland Batam, perjalanan menuju sekolah bukan sekadar rutinitas harian.
Bagi banyak pelajar di kawasan Barelang dan pulau-pulau penyangga, jarak yang jauh, moda transportasi terbatas, serta biaya perjalanan yang tidak sedikit sering kali menjadi tantangan tersendiri.
Namun pagi itu, suasana berbeda terasa. Senyum para pelajar merekah, ketika empat unit bus sekolah berwarna cerah resmi diserahkan Pemerintah Kota Batam untuk mereka.
Program transportasi gratis bagi pelajar hinterland ini bukan sekadar pengadaan armada, melainkan langkah strategis untuk memastikan kesetaraan akses pendidikan bahwa setiap anak, di pusat kota maupun di pulau-pulau, memiliki peluang belajar yang sama.
Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, menegaskan bahwa penyediaan bus sekolah gratis merupakan bagian dari komitmen besar pemerintah dalam membangun sumber daya manusia (SDM) Batam secara berkelanjutan.
“Anak-anak kita di hinterland harus mendapat pelayanan yang sama.
Akses transportasi yang layak adalah kunci agar mereka dapat mengikuti pendidikan dengan baik,” ujar Amsakar saat menyerahkan bus sekolah dan atribut juru parkir di Halaman Kantor Dishub Kota Batam, Selasa (30/12/2025).
Acara tersebut turut dihadiri unsur Forkopimda, Deputi Bidang Infrastruktur BP Batam Moris, Kepala Dishub Batam Leo Putra, serta jajaran OPD terkait.
Momentum tersebut bukan hanya seremoni, tetapi simbol perhatian pemerintah pada dua fondasi penting pembangunan: pendidikan dan pelayanan transportasi.
Perjalanan Panjang Menuju Kesetaraan
Bagi pelajar hinterland, perjalanan menuju sekolah sering kali dimulai sebelum matahari terbit.
Ada yang menumpang perahu, berganti ojek, lalu berjalan kaki sebelum akhirnya tiba di ruang kelas. Tidak sedikit siswa yang harus mengeluarkan biaya tambahan setiap hari, bahkan ada yang kerap terlambat karena kendala transportasi.
Hadirnya bus sekolah gratis menjadi jawaban atas persoalan tersebut.
Amsakar menuturkan bahwa pengadaan armada tersebut melalui perencanaan matang dalam anggaran daerah dan diperuntukkan khusus bagi pelajar di kawasan Barelang. Seluruh layanannya diberikan secara gratis, agar tidak menambah beban keluarga.
“Ini investasi untuk masa depan Batam. Kita ingin memastikan tidak ada anak yang berhenti sekolah hanya karena akses transportasi,” ujarnya.
Lebih dari sekadar fasilitas, bus sekolah ini menjadi jembatan harapan. Dengan transportasi yang lebih aman dan teratur, anak-anak dapat belajar dengan tenang tanpa memikirkan ongkos perjalanan.
Pendidikan sebagai Proyek Peradaban
Program transportasi gratis ini berjalan seiring berbagai kebijakan berpihak pada pelajar yang telah diwujudkan Pemko Batam.
Mulai dari pembagian seragam gratis, beasiswa siswa berprestasi, hingga bantuan pendidikan untuk mahasiswa keluarga kurang mampu.
Tidak hanya itu, pemerintah juga memberikan beasiswa khusus bagi anak hinterland yang diterima di perguruan tinggi negeri sebuah bentuk keberpihakan nyata agar anak-anak dari wilayah pesisir tidak tertinggal dalam persaingan akademik.
“Semua ini kita rancang untuk menyiapkan generasi muda Batam yang unggul dan berdaya saing di masa depan,” tegas Amsakar.
Pembangunan SDM, menurutnya, adalah investasi paling berharga yang hasilnya tidak hanya terasa hari ini, tetapi akan menentukan wajah Batam di masa mendatang.
Pada kesempatan yang sama, Pemko Batam juga menyerahkan atribut resmi kepada juru parkir.
Langkah ini mencerminkan komitmen dalam memperkuat tata kelola perhubungan sekaligus meningkatkan profesionalisme aparatur lapangan.
Bagi Amsakar, tata kelola pemerintahan yang baik tidak hanya berbicara soal regulasi, tetapi juga mentalitas dan kesejahteraan para petugas yang bekerja langsung bersama masyarakat.
“Kita ingin juru parkir bekerja dengan nyaman, tertib, dan profesional.
Apresiasi ini juga menjadi dorongan agar pengelolaan parkir ke depan semakin baik,” katanya.
Dengan pembenahan transportasi, pelayanan publik, dan infrastruktur sosial, pemerintah berharap tercipta ekosistem kota yang inklusif dan berkeadilan.
Keberadaan bus sekolah gratis bagi pelajar hinterland bukan hanya program teknis, tetapi cerminan keberpihakan terhadap masyarakat pinggiran. Setiap kilometer jalan yang dilalui bus itu membawa makna: mimpi yang lebih dekat, jarak pendidikan yang kian terjembatani.
Di balik kaca jendela bus, anak-anak Barelang kini memandang masa depan dengan keyakinan baru bahwa mereka, sama seperti anak-anak di pusat kota, memiliki kesempatan yang setara untuk belajar, tumbuh, dan berprestasi.
Melalui program ini, Pemko Batam menegaskan satu pesan sederhana namun kuat:
pendidikan harus bisa dijangkau oleh semua, tanpa kecuali. (bs)


