Dari Laut untuk Kehormatan, Tradisi Kenaikan Pangkat yang Membekas di Tanjung Siambang

DOMPAK, katasiber – Pagi itu, ombak Pantai Agira di Tanjung Siambang, Dompak, Tanjungpinang, tak hanya membawa angin laut yang segar, tetapi juga semangat baru bagi para prajurit.
Di hamparan biru yang tenang, sebuah tradisi berbeda digelar bukan sekadar seremoni, melainkan pengalaman yang akan dikenang seumur hidup.
Dipimpin langsung oleh Pangkogabwilhan I Letjen TNI Kunto Arief Wibowo, upacara kenaikan pangkat personel Kogabwilhan I periode 1 April 2026 berlangsung dengan cara yang tak biasa.
Tidak ada barisan kaku atau panggung formal. Sebaliknya, laut menjadi saksi, sekaligus bagian dari prosesi.
Satu per satu, para prajurit yang menerima kenaikan pangkat melangkah ke air.
Dengan seragam PDL TNI Malvinas yang melekat, mereka menyelam, berenang, dan mencari tanda pangkat yang sengaja “disembunyikan” di laut.
Sebuah simbol sederhana, namun sarat makna bahwa setiap pangkat bukan sekadar diberikan, melainkan harus diperjuangkan.
Gelak tawa, sorak semangat, dan percikan air laut menyatu dalam suasana yang hangat.
Tidak ada sekat antara atasan dan bawahan. Yang ada hanyalah kebersamaan dan rasa bangga atas perjalanan yang telah dilalui.
Setelah menemukan tanda pangkat, para prajurit kembali ke tepi pantai. Dengan langkah mantap, mereka menyerahkannya kepada Panglima untuk disematkan sebuah momen sakral yang menjadi puncak dari seluruh rangkaian kegiatan.
Dalam arahannya, Kunto Arief Wibowo menegaskan bahwa tradisi ini bukan sekadar variasi, melainkan upaya membangun makna yang lebih dalam.
Bahwa perjalanan seorang prajurit penuh dengan tantangan, seperti halnya menyelam di laut membutuhkan keberanian, ketahanan, dan tekad yang kuat.
Sebanyak 11 personel menerima kenaikan pangkat pada periode ini, mulai dari perwira menengah hingga tamtama. Nama-nama seperti Kolonel Farid, Kolonel Boby, Kolonel Laut Mufidin, hingga prajurit seperti Praka Parlindungan dan Koptu Teguh menjadi bagian dari momen bersejarah tersebut.
Namun lebih dari sekadar daftar nama, yang terasa adalah semangat kolektif. Kenaikan pangkat bukan hanya tentang individu, tetapi juga tentang dedikasi bersama dalam menjaga kehormatan tugas.
Sebagai penutup, para prajurit kembali menceburkan diri ke laut kali ini bukan untuk mencari pangkat, melainkan merayakan.
Air laut menjadi saksi tawa, rasa syukur, dan kebersamaan yang kian erat.
Di Pantai Agira, kenaikan pangkat hari itu bukan hanya seremoni militer.
Ia menjelma menjadi cerita tentang perjuangan, kebersamaan, dan cara baru memaknai kehormatan sebagai prajurit. Sebuah tradisi yang sederhana, namun meninggalkan kesan mendalamseperti jejak ombak yang tak pernah benar-benar hilang. (bs)


