BATAM

Berharap Turunnya Hujan, Pemprov Kepri Gelar Shalat Istisqa di Pulau Penyengat

Berharap Turunnya Hujan, Pemprov Kepri Gelar Shalat Istisqa di Pulau Penyengat.f-ist

TANJUNGPINANG – Langit yang telah lama enggan menurunkan hujan mendorong Pemerintah Provinsi Kepulauan Riau menempuh ikhtiar batin.

Di tengah kekeringan yang melanda hampir sebulan terakhir, ratusan Aparatur Sipil Negara (ASN) dan masyarakat berkumpul di Balai Adat Melayu Pulau Penyengat, Sabtu (28/3), untuk melaksanakan shalat istisqa.
Ibadah yang berlangsung khusyuk itu menjadi simbol harapan bersama agar hujan segera turun, membasahi bumi yang mulai mengering.

Pulau Penyengat yang dikenal sebagai pusat warisan budaya Melayu pun menjadi saksi doa-doa yang dipanjatkan dengan penuh kerendahan hati.

Shalat istisqa dipimpin oleh Ustadz Muhammad Salim sebagai imam, sementara khutbah disampaikan oleh Ustadz Rustam Efendi.

Dalam khutbahnya, umat diajak untuk memperbanyak istighfar dan memperbaiki diri sebagai bagian dari ikhtiar spiritual menghadapi ujian kekeringan.

Turut hadir dalam kegiatan tersebut, Gubernur Kepulauan Riau, Ansar Ahmad, yang mengikuti rangkaian ibadah bersama masyarakat.

Kehadirannya menjadi wujud kebersamaan antara pemerintah dan rakyat dalam menghadapi kondisi alam yang tidak menentu.

Dalam keterangannya, Gubernur Ansar menyampaikan bahwa berbagai langkah strategis telah dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi dampak kekeringan, mulai dari pengelolaan air hingga kesiapsiagaan menghadapi potensi krisis.

Namun demikian, menurutnya, ikhtiar tersebut perlu dilengkapi dengan pendekatan spiritual.

Shalat istisqa, kata dia, bukan hanya sekadar ritual, melainkan bentuk penghambaan dan pengakuan atas keterbatasan manusia di hadapan Sang Pencipta.

“Melalui doa bersama ini, kita berharap Allah SWT segera menurunkan hujan dan mengakhiri kekeringan yang sedang kita alami,” ujarnya.

Momentum ini sekaligus menjadi pengingat bagi masyarakat untuk memperbanyak istighfar, memohon ampun, serta menjaga keseimbangan alam sebagai bagian dari tanggung jawab bersama.

Di bawah langit Pulau Penyengat yang masih membentang cerah, doa-doa itu melangit—mengharap setetes rahmat yang dinanti, hujan yang membawa kehidupan. (bs)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *