Kunjungan Uskup Agung se-Sumatra di Tanjungpinang, Menyapa Warisan Melayu dan Harmoni Toleransi Kepri

TANJUNGPINANG, katasiber – Tanggal 11 Maret 2026, menjadi hari yang bersejarah dan penuh makna, bagi Bobby Jayanto, tokoh masyarakat Kepri.
Pada hari itu, ia menyambut rombongan para Uskup Agung dari berbagai keuskupan di Sumatra melakukan kunjungan silaturahmi ke Kota Tanjungpinang, Provinsi Kepulauan Riau.
Kunjungan ini bukan hanya menjadi agenda perjalanan rohani, tetapi juga menjadi momentum mempererat persaudaraan lintas budaya dan agama.
Rombongan uskup yang hadir berasal dari sejumlah keuskupan besar di Sumatra, antara lain Keuskupan Palembang, Medan, Padang, Tanjungkarang, dan Pangkal Pinang.







Kedatangan para tamu agung tersebut disambut dengan penuh kehangatan saat merapat di Pelabuhan Pulau Penyengat, salah satu pulau bersejarah di Kepulauan Riau.
Di pelabuhan, rombongan disambut oleh tokoh masyarakat Melayu, Raja Abdul Rahman, bersama masyarakat setempat.
Suasana penyambutan semakin semarak dengan tabuhan kompang yang dimainkan oleh ibu-ibu Majelis Taklim, menciptakan nuansa khas budaya Melayu yang sarat dengan nilai adat dan keramahan.
Sebagai bentuk penghormatan, para Uskup Agung dikenakan tanjak, penutup kepala khas Melayu yang melambangkan kehormatan dan persahabatan.
Setelah prosesi penyambutan, rombongan diajak berkeliling Pulau Penyengat untuk mengenal lebih dekat warisan sejarah dan budaya Melayu yang telah melegenda.
Salah satu destinasi utama yang dikunjungi adalah makam ulama dan sastrawan besar Melayu, Raja Ali Haji.
Di tempat ini, para tamu juga diperkenalkan dengan karya sastra monumental Gurindam Dua Belas yang hingga kini menjadi simbol kearifan budaya Melayu dan dikenal luas di dunia.
Kunjungan kemudian dilanjutkan ke Balai Adat, tempat rombongan disuguhi penjelasan mengenai tradisi, sejarah, dan nilai-nilai adat Melayu yang masih terjaga hingga saat ini.
Para uskup tampak terpesona dengan kekayaan budaya tersebut, terutama nilai-nilai moral yang terkandung dalam Gurindam Dua Belas.
Setelah menyelesaikan rangkaian kunjungan di Pulau Penyengat, rombongan melanjutkan perjalanan untuk meninjau Gereja Tua Paroki Tanjungpinang.
Gereja tersebut menjadi salah satu saksi perjalanan panjang kehidupan umat Katolik di daerah tersebut.
Perjalanan kemudian diteruskan menuju salah satu ikon wisata religi di Tanjungpinang, yaitu Vihara Patung Seribu.
Vihara ini dikenal sebagai salah satu vihara terbesar di Asia Tenggara dan menjadi simbol keberagaman serta kekayaan budaya spiritual di Kepulauan Riau.
Setelah seluruh rangkaian kunjungan selesai, rombongan Uskup Agung melanjutkan perjalanan menuju kawasan Lagoi sebelum akhirnya kembali ke Batam.
“Ucapan terima kasih pun disampaikan kepada Romo Prambodoh serta Paroki Kota Tanjungpinang yang telah memberikan kepercayaan dan kesempatan untuk mendampingi kunjungan tersebut,” kata Bobby.
“Semoga perjalanan para Uskup Agung kembali ke daerah masing-masing berjalan lancar dan selamat,” ujar tuan rumah dalam penutupan kegiatan tersebut.
Kunjungan ini menjadi cerminan nyata tingginya nilai toleransi antarumat beragama di Provinsi Kepulauan Riau.
Kehidupan masyarakat yang harmonis, saling menghormati, dan terbuka terhadap perbedaan telah menjadi kekuatan sosial yang terus terjaga hingga saat ini.
Di tengah keberagaman, masyarakat Kepri menunjukkan bahwa persaudaraan dan kebersamaan tetap menjadi fondasi utama dalam membangun kehidupan yang damai. (bs)


