OPINI

Merawat Kenangan, Menyulam Masa Depan

Oleh: Robby Patria, alumni STIE YKPN Yogyakarta Lulus 2004

Di banyak kota di Indonesia, Yogyakarta sering dikenang bukan sekadar sebagai kota pelajar, tetapi sebagai ruang pembentukan karakter.

Di sanalah ribuan anak muda dari berbagai daerah datang dengan mimpi besar, belajar hidup sederhana, dan pulang dengan pengalaman yang tak tergantikan.

Bagi sebagian orang dari Kepulauan Riau, kenangan itu kembali hidup pada 4 Maret 2026 ketika Keluarga Alumni Yogya asal Kepri menggelar musyawarah besar sekaligus halal bihalal di Muhammadiyah Tanjungpinang.

Acara yang berlangsung di Gedung Muhammadiyah di Tanjungpinang itu mungkin tampak sederhana.

Namun bagi mereka yang pernah menempuh masa muda di Yogyakarta, pertemuan tersebut lebih dari sekadar agenda organisasi. Ia adalah perayaan ingatan.

Yogyakarta selalu memiliki tempat khusus dalam memori para alumninya. Di kota itu, mahasiswa dari berbagai penjuru Indonesia belajar bukan hanya dari ruang kelas, tetapi juga dari kehidupan sehari-hari: dari warung angkringan yang menjadi ruang diskusi hingga kos-kosan sederhana yang menjadi saksi mimpi besar anak-anak daerah.

Bagi mahasiswa asal Kepulauan Riau, perjalanan ke Yogyakarta pada masa kuliah sering kali berarti meninggalkan pulau dan laut yang akrab sejak kecil.

Mereka datang dengan harapan, membawa identitas daerah, dan pulang dengan wawasan yang lebih luas. Banyak di antara mereka kemudian kembali ke Kepri sebagai dosen, birokrat, aktivis, pengusaha, atau pemimpin masyarakat.

Karena itu, silaturahmi seperti yang digelar awal Maret ini menjadi penting. Ia menjadi ruang untuk menyambung kembali benang-benang persahabatan yang sempat terpisah oleh waktu dan kesibukan.

Di tengah perubahan zaman yang serba cepat, jaringan alumni memiliki peran strategis.

Bukan hanya sebagai nostalgia masa lalu, tetapi juga sebagai modal sosial untuk masa depan. Dari jaringan alumni sering lahir kolaborasi gagasan, dukungan profesional, bahkan gerakan sosial yang bermanfaat bagi masyarakat.

Musyawarah besar yang digelar para alumni Yogya asal Kepri juga memiliki makna lain: memperkuat identitas komunitas.

Sebuah organisasi alumni bukan hanya wadah berkumpul, tetapi juga ruang untuk merumuskan kontribusi nyata bagi daerah.

Provinsi Kepulauan Riau sendiri sedang menghadapi berbagai tantangan pembangunan mulai dari pendidikan, ekonomi maritim, hingga penguatan identitas budaya Melayu.

Dalam konteks ini, para alumni yang pernah menimba ilmu di kota pelajar memiliki bekal intelektual dan jaringan nasional yang bisa dimanfaatkan untuk membantu daerah berkembang.

Di sinilah arti penting mubes tersebut. Ia bukan hanya forum memilih kepengurusan baru, tetapi juga ruang untuk merumuskan arah organisasi ke depan: bagaimana alumni Yogya asal Kepri dapat memberi kontribusi nyata bagi masyarakat.

Namun tentu saja, yang paling hangat dari pertemuan seperti ini adalah percakapan-percakapan kecil yang sering kali lebih bermakna daripada agenda formal.

Percakapan tentang masa kuliah, tentang dosen yang legendaris, tentang perjuangan hidup dengan uang kiriman yang pas-pasan, hingga cerita tentang bagaimana mereka pertama kali mengenal kerasnya kehidupan di tanah rantau.

Kenangan-kenangan itu bukan sekadar nostalgia romantik. Ia adalah bagian dari perjalanan hidup yang membentuk karakter.
Yogyakarta mengajarkan kesederhanaan, toleransi, dan semangat intelektual. Kota itu mengajarkan bahwa ilmu tidak selalu lahir dari ruang kelas, tetapi juga dari perdebatan panjang di warung kopi atau diskusi spontan di trotoar kampus.

Maka ketika para alumni Yogya dari Kepulauan Riau berkumpul kembali di Tanjungpinang, yang mereka rayakan sebenarnya adalah perjalanan hidup itu sendiri.

Pertemuan seperti ini mengingatkan kita bahwa hubungan manusia tidak boleh putus hanya karena waktu dan jarak. Silaturahmi adalah cara untuk menjaga ingatan, memperkuat persaudaraan, dan merawat harapan bersama.

Dalam dunia yang semakin individualistik, pertemuan komunitas seperti ini menjadi semakin berharga.
Ia mengingatkan kita bahwa setiap perjalanan hidup selalu memiliki titik temu tempat di mana kenangan masa lalu dan harapan masa depan saling bersalaman.

Dan bagi mereka yang pernah hidup sebagai mahasiswa di Yogyakarta, titik temu itu selalu terasa istimewa.
Karena di sanalah mimpi-mimpi dulu pernah dimulai.***

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *