MALAM KETIKA SEORANG PEMIMPIN TAK BISA TIDUR

Oleh : Robby Patria, dosen Pancasila dan Kewarganegaraan di UMRAH/Alumni Angkatan 222 PPNK Lemhanas RI
Pelajaran kepemimpinan dari Umar bin Khattab yang terasa relevan hingga hari ini untuk pemimpin di Indonesia yakni kesederhanaan. Bukan bertabur kemewahan di saat banyak jutaan rakyat masih miskin.
Di sebuah malam sunyi di Madinah, ketika sebagian besar penguasa dunia mungkin terlelap dalam kenyamanan istana, Umar bin Khattab justru berjalan sendirian menyusuri kota.
Tanpa pengawal. Tanpa seremoni. Tanpa sorotan.
Ia berjalan karena ada satu hal yang tak memberinya ketenangan: apakah masih ada rakyatnya yang kelaparan? Kalau di kita pemimpin turun ke daerah disambut dengan pawai warga. Bahkan jalan raya sampai macet karena saking ramainya rombongan pemimpin yang menemui warga.
Sejarah mencatat Umar sebagai negarawan besar, administrator ulung, dan pemimpin yang memperluas wilayah kekuasaan Islam.
Namun malam itu, ia menunjukkan sesuatu yang lebih dalam dari sekadar kapasitas politik ia menunjukkan kegelisahan moral seorang pemimpin.
Di pinggiran kota, ia menemukan sebuah rumah kecil. Dari dalam terdengar tangis anak-anak. Di atas tungku, sebuah periuk berisi air mendidih. Di dalamnya bukan beras, bukan gandum, melainkan batu.
Seorang ibu menanak batu untuk menghibur anak-anaknya yang kelaparan. Ia berharap mereka tertidur sambil menunggu sesuatu yang tak pernah benar-benar ada.
Adegan itu nyaris simbolik. Batu dalam periuk menjadi lambang sistem yang gagal menjangkau yang paling lemah. Air yang mendidih adalah harapan yang perlahan menguap. Dan anak-anak yang tertidur dalam lapar adalah potret masa depan yang terancam oleh ketidakpedulian.
Ketika ibu itu mengeluhkan kepemimpinan Umar, sang khalifah tidak membela diri. Ia tidak menyalahkan pejabat bawahannya. Ia tidak bersembunyi di balik laporan administratif.
Ia menangis.
Lebih dari itu, ia bertindak. Umar segera menuju baitul mal, memikul sendiri karung gandum di pundaknya. Ketika ajudannya menawarkan bantuan, ia menolak dengan satu kalimat yang mengguncang: “Apakah engkau akan memikul dosaku di hari kiamat?”
Kalimat itu bukan retorika. Itu adalah kesadaran bahwa kekuasaan bukan privilese, melainkan amanah.
Dalam dunia modern yang dipenuhi rapat koordinasi, data statistik, dan laporan kinerja, kisah ini terasa seperti cermin yang memantulkan pertanyaan tak nyaman: apakah para pemimpin hari ini masih merasakan kegelisahan yang sama?
Kita bisa lihat ada siswa SD yang bunuh diri di Nusa Tenggara Timur. Padahal hanya untuk membeli buku dan pena.
Di sisi bagian lain, bayangkan ada gubernur yang mobil dinasnya 8 miliar lebih. Sementara banyak jalan jalan berlubang di daerahnya.
Kita hidup dalam era transparansi digital. Angka kemiskinan bisa dipantau secara real-time. Bantuan sosial bisa dilacak melalui sistem daring. Namun data tidak selalu melahirkan empati. Angka tidak selalu menggugah nurani.
Umar tidak menunggu laporan resmi. Ia mencari sendiri denyut kehidupan rakyatnya. Ia ingin melihat tanpa filter, tanpa protokol, tanpa panggung.
Itulah perbedaan antara kekuasaan yang administratif dan kepemimpinan yang moral.
Kisah periuk berisi batu itu bertahan melintasi abad bukan karena dramanya semata, tetapi karena ia mengandung prinsip universal: pemimpin sejati merasa bertanggung jawab secara personal atas penderitaan kolektif.
Ia tidak hanya mengatur. Ia merasakan.
Dan mungkin di situlah relevansi terbesarnya hari ini. Di tengah ketimpangan sosial, krisis pangan di berbagai belahan dunia, dan jarak yang semakin lebar antara pengambil kebijakan dan rakyat kecil, cerita Umar menjadi pengingat bahwa legitimasi kekuasaan lahir dari keberpihakan.
Seorang pemimpin bisa saja memiliki jabatan tinggi, kewenangan luas, dan fasilitas lengkap. Tetapi tanpa kegelisahan moral, kekuasaan hanya menjadi struktur kosong.
Malam Madinah itu telah lama berlalu. Batu-batu di dalam periuk mungkin sudah tak tersisa. Namun pertanyaannya tetap hidup: apakah ada pemimpin yang masih sulit tidur karena memikirkan rakyatnya?
Karena pada akhirnya, sejarah tidak hanya mencatat siapa yang memerintah. Ia mencatat siapa yang peduli.
Dan pada malam itu, seorang khalifah memilih untuk berjalan dalam gelap agar tak ada lagi anak yang tertidur dalam lapar. **


