OPINI

Imam Ahmad dan Penjual Roti

Oleh: Robby Patria

Di tengah hiruk-pikuk kehidupan yang sering membuat manusia merasa kuat oleh usahanya sendiri, ada satu amalan sederhana yang diam-diam menyimpan daya dahsyat: istigfar.

Kisah klasik tentang pertemuan seorang penjual roti dengan Imam Ahmad bin Hanbal menjadi salah satu cerita paling indah tentang bagaimana istigfar membuka jalan tak terduga.

Dikisahkan, suatu malam Imam Ahmad melakukan perjalanan jauh. Beliau dikenal sebagai ulama besar, ahli hadis, dan tokoh utama mazhab Hanbali.

Namun dalam kisah ini, beliau hadir bukan sebagai tokoh besar yang disambut meriah, melainkan sebagai musafir biasa yang mencari tempat untuk beristirahat.

Jangan bayangkan model di kita tokoh besar datang di suatu tempat disambut pakai kalung bunga dan kompang. Bahkan siswa siswa diminta berjejer di pinggir jalan menyambut sang tokoh.

Setibanya di sebuah kota, Imam Ahmad menuju masjid untuk bermalam. Namun penjaga masjid tidak mengenalinya dan melarangnya tidur di dalam. Imam Ahmad tidak marah, tidak pula memperkenalkan diri.

Dengan rendah hati, beliau keluar dari masjid. Sikap ini sendiri sudah menunjukkan akhlak seorang alim: tidak menuntut penghormatan, tidak merasa perlu dikenal.

Tak pula disiapkan seperti pesawat jet atau hotel berbintang di zaman sekarang ini.

Di luar masjid, seorang penjual roti melihat lelaki tua yang tampak kelelahan. Ia menawarkan tempat di tokonya untuk beristirahat. Tawaran itu diterima.

Malam itu, Imam Ahmad menyaksikan sesuatu yang tidak biasa. Sang penjual roti terus bekerja membuat adonan dan memanggang roti, tetapi lisannya tak pernah berhenti beristigfar.

“Astaghfirullah… astaghfirullah… astaghfirullah…”

Kalimat itu diulang-ulang, pelan namun konsisten. Imam Ahmad yang peka terhadap amalan hati dan lisan, merasa takjub. Setelah beberapa waktu, beliau bertanya, “Sejak kapan engkau melakukan ini?”

Penjual roti itu menjawab dengan sederhana, “Sudah lama. Sejak saya belajar bahwa istigfar membuka pintu rezeki dan menghapus dosa.”

Imam Ahmad lalu bertanya lagi, “Apa engkau merasakan hasilnya?”
Jawaban sang penjual roti inilah yang menjadi inti pelajaran: “Saya telah melihat semua doa saya dikabulkan Allah, kecuali satu.”

“Apa itu?” tanya Imam Ahmad.
“Saya ingin sekali bertemu dengan Imam Ahmad bin Hanbal,” katanya polos, tanpa mengetahui bahwa tamunya malam itu adalah orang yang ia doakan.

Mendengar itu, Imam Ahmad terharu. Beliau berkata, “Akulah Ahmad bin Hanbal. Demi Allah, aku ‘diseret’ untuk datang kepadamu.”

Kisah ini sederhana, namun maknanya sangat dalam. Istigfar bukan sekadar ucapan formal setelah salat atau pelengkap doa.

Ia adalah pengakuan kelemahan manusia di hadapan Allah. Dalam istigfar, ada kerendahan hati, ada kesadaran akan dosa, ada harapan akan rahmat.

Secara teologis, Al-Qur’an berulang kali mengaitkan istigfar dengan kelapangan rezeki dan pertolongan.

Nabi Nuh ‘alaihissalam berkata kepada kaumnya agar memperbanyak istigfar, niscaya Allah akan menurunkan hujan yang lebat dan menambah harta serta anak-anak mereka.

Istigfar menjadi jembatan antara langit dan bumi antara pengakuan dosa dan turunnya karunia.

Kekuatan istigfar dalam kisah ini juga menunjukkan satu hal penting: keikhlasan. Penjual roti itu tidak beristigfar agar dipuji, tidak pula agar dianggap saleh.

Ia melakukannya dalam kesendirian, di malam hari, saat hanya Allah yang menjadi saksi. Justru dalam ruang sunyi itulah, doa-doanya menemukan jalannya.

Menarik pula melihat sisi lain dari kisah ini: kerendahan hati Imam Ahmad. Seorang ulama besar bisa saja tersinggung ketika diusir dari masjid. Ia bisa saja memperkenalkan diri agar dihormati.

Namun beliau memilih diam. Dalam kerendahan itulah Allah mempertemukannya dengan seorang hamba sederhana yang lisannya basah oleh istigfar.

Kisah ini mengajarkan bahwa keberkahan tidak selalu berada di tempat yang tampak megah. Terkadang ia bersembunyi di toko kecil, di tangan pekerja sederhana, di lisan yang tak lelah menyebut “Astaghfirullah”.

Di sana ada ketulusan yang mungkin tak terlihat, tetapi nilainya tinggi di sisi Allah.
Bagi kehidupan modern yang penuh kecemasan utang, target kerja, tekanan sosial istigfar sering dianggap terlalu sederhana untuk menjadi solusi.

Namun justru dalam kesederhanaannya, ia menghadirkan ketenangan. Saat manusia mengakui dosanya, ia membebaskan dirinya dari kesombongan.

Saat ia memohon ampun, ia sedang membuka pintu harapan.

Pertemuan penjual roti dan Imam Ahmad adalah simbol bahwa doa yang tulus tidak pernah sia-sia.

Mungkin tidak selalu dikabulkan dengan cara yang kita bayangkan, tetapi Allah menghadirkannya dengan cara yang paling tepat.

Kadang kita tidak berjalan menuju doa itu; justru doa itulah yang menarik takdir mendekat kepada kita.

Istigfar bukan hanya penghapus dosa masa lalu, tetapi juga pembuka jalan masa depan.

Ia bukan sekadar lafaz, melainkan sikap hidup: rendah hati, sadar diri, dan penuh harap.

Dan siapa tahu, di tengah rutinitas kita hari ini, ada satu doa yang masih tertunda. Mungkin jawabannya tidak datang lewat cara besar dan gemerlap.

Bisa jadi, ia hadir melalui pertemuan sederhana sebagaimana seorang penjual roti yang tak henti beristigfar, lalu dipertemukan dengan ulama besar yang ia rindukan.***

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *