Belajar Bertani Sejak Dini, TK Negeri Pembina 2 Tanjungpinang Kunjungi Kebun Semangka di Dompak

TANJUNGPINANG – Tawa ceria anak-anak TK Negeri Pembina 2 Senggarang, Tanjungpinang terdengar riuh di pondok kebun semangka.
Berlokasi di lahan Kedaulatan Pangan Kogabwilhan I di Dompak, kunjungan edukatif ini berlangsung pada Kamis (12/2/2026).
Sekolah yang beralamat di Jalan Daeng Kamboja Km 14 Tanjungpinang itu membawa para siswanya untuk mengenal dunia pertanian sejak usia dini. Di lokasi, rombongan didampingi petani muda Diky, Huda, Arya, dan Kocit, serta pengelola kebun semangka, Pak Agus, yang dikenal sukses menekuni budidaya semangka.
Kunjungan ini bertujuan memberikan edukasi langsung kepada anak-anak tentang pertanian.
Mulai dari mengenal lahan tanah, memahami apa itu tanaman semangka, hingga proses menanam, merawat, dan memanen hasil kebun.
Tak sekadar lahan produksi, kawasan Kedaulatan Pangan Kogabwilhan I kini berkembang menjadi eco-wisata edukatif.
Bahkan, lokasi ini kerap dimanfaatkan masyarakat sebagai arena perkemahan untuk menikmati suasana alam Dompak pada malam hari.
Program pembelajaran luar kelas di kawasan ini sebelumnya juga diikuti siswa SDIT Tunas Ilmu Tanjungpinang. Sebanyak 108 siswa kelas III dan IV turun langsung ke lahan pertanian pada Selasa (27/1/2026), khususnya di area tanaman cabai yang dikelola petani Ilik Bohari, didampingi petani muda Fajar dan Luki.
Mengenakan seragam merah putih, para siswa tampak antusias saat diarahkan menuju kebun.
Bagi sebagian besar dari mereka, ini menjadi pengalaman pertama melihat secara langsung bagaimana cabai, kacang tanah, dan komoditas pertanian lainnya ditanam serta dirawat.
SDIT Tunas Ilmu sendiri merupakan sekolah Islam terpadu yang berlokasi di Jalan Karya, Batu Sembilan, Tanjungpinang Timur. Kunjungan tersebut menjadi bagian dari pembelajaran kontekstual untuk menanamkan kesadaran akan pentingnya pertanian dan ketahanan pangan sejak dini.
Di lapangan, para petani milenial dengan sabar menjelaskan proses bertani, mulai dari teknik penanaman hingga sistem penyiraman modern.
Anak-anak tampak kagum ketika mengetahui air dialirkan dari kolam penampungan dan disalurkan menggunakan mesin.
“Wah, ternyata nyiram tanaman pakai mesin,” celetuk salah satu siswa, disambut anggukan kagum teman-temannya.
Meski ketua kelompok tani berhalangan hadir karena menghadiri Musrenbang di Dompak, suasana belajar tetap berlangsung hangat dan interaktif berkat pendampingan para petani muda.
Dalam beberapa waktu terakhir, kawasan pertanian ketahanan pangan Kogabwilhan I juga kerap dikunjungi sejumlah kepala daerah sebagai bentuk dukungan terhadap program ketahanan pangan nasional.
Bagi para siswa, kunjungan ini bukan sekadar jalan-jalan. Mereka belajar bahwa pangan tidak serta-merta hadir di meja makan, melainkan melalui proses panjang yang membutuhkan kerja keras dan kesabaran.
Di Dompak, di antara barisan tanaman hijau, benih-benih pengetahuan itu ditanam. Siapa tahu, dari langkah kecil hari ini, kelak tumbuh generasi yang mencintai pertanian dan peduli pada ketahanan pangan negeri. (bs)


