BATAMINTERNASIONAL

Batam Tancap Gas! Proyek WNTS Jawab Krisis Energi Setelah 10 Tahun Penantian

Batam Tancap Gas! Proyek WNTS Jawab Krisis Energi Setelah 10 Tahun Penantian.f-ist

BATAM, katasiber– Denting sirene yang bergema di Pulau Pemping, Selasa (10/2/2026), menandai lebih dari sekadar seremoni.

Ia menjadi simbol berakhirnya 10 tahun penantian panjang masyarakat wilayah perbatasan Batam terhadap kehadiran energi yang andal dan berkeadilan.

Hari itu, Wali Kota Batam Amsakar Achmad secara resmi melakukan groundbreaking pembangunan Pipa Gas West Natuna Transportation System (WNTS) menuju Pulau Pemping, Kecamatan Belakangpadang.

Di atas pulau kecil yang strategis di jalur perbatasan, pembangunan pipa gas ini menjadi penanda perubahan besar. Proyek strategis nasional tersebut bukan hanya infrastruktur energi, tetapi juga harapan bahwa pulau-pulau terluar tak lagi tertinggal dalam denyut pembangunan nasional.

Sebelum peletakan batu pertama dilakukan dengan penekanan tombol sirene dan pemasangan pipa secara simbolis, Amsakar bersama jajaran Kementerian ESDM, SKK Migas, dan Direksi PT PLN menyerahkan bantuan sosial kepada rumah ibadah dan panti asuhan setempat. Sebuah pesan bahwa pembangunan harus berjalan beriringan dengan kepedulian sosial.

Dalam sambutannya, Amsakar menyebut pembangunan pipa gas WNTS sebagai perwujudan nyata arahan Presiden Republik Indonesia terkait kemandirian dan ketahanan energi nasional.

“Mimpi yang telah kita rintis selama 10 tahun ini akhirnya terwujud. Ini adalah langkah taktis membangun kemandirian bangsa. Batam adalah wajah terdepan Republik Indonesia di bagian barat. Tidak masuk akal jika di usia Indonesia yang hampir 80 tahun, masyarakat di pulau strategis masih merasa belum merdeka karena persoalan energi,” tegas Amsakar.

Batam, lanjutnya, tengah bergerak cepat. Pertumbuhan kebutuhan listrik mencapai 15 persen per tahun, seiring realisasi investasi 2025 yang menembus Rp69,3 triliun atau 115,5 persen dari target.

Kawasan Nongsa Digital Park dan Kabil kini diproyeksikan menjadi rumah bagi sedikitnya sembilan pusat data berskala besar sektor yang haus energi dan menuntut keandalan tinggi.

“Batam diproyeksikan tumbuh 9,5 hingga 10 persen sesuai RPJMN 2029. Target pertumbuhan dua digit mustahil dicapai tanpa energi yang kuat. Pipa gas WNTS ini diharapkan mampu menutup defisit energi sekitar 25 BBTUD,” ujarnya.

Pembangunan pipa gas WNTS ditargetkan selesai pada Juli 2026. Gas dari Pulau Pemping nantinya akan dialirkan ke kawasan Tanjung Uncang, menjadi tulang punggung pasokan energi bagi industri dan masyarakat Kota Batam.

Namun, Amsakar menegaskan, pembangunan tidak boleh meninggalkan masyarakat lokal. Ia meminta pelaksana proyek untuk memperhatikan nelayan dan warga sekitar melalui program Corporate Social Responsibility (CSR) yang berkelanjutan.

“Prinsipnya sederhana: energi harus andal, masyarakat tidak boleh dirugikan, dan Batam harus memberi kontribusi maksimal bagi Indonesia,” pungkasnya.

Acara groundbreaking ini turut dihadiri Dirjen Migas Kementerian ESDM yang diwakili Muhammad Rizwi JH, Kepala SKK Migas Djoko Siswanto, Kepala Perwakilan Ombudsman RI Kepri Lagat Siadari, anggota DPRD Kota Batam Aweng Kurniawan dan Muhammad Yunus Muda, Direktur Manajemen Pembangkitan PT PLN Rizal Kalfari Marimbo, serta jajaran Forkopimda dan pimpinan OPD Kota Batam.

Di Pulau Pemping, pembangunan pipa gas ini bukan sekadar proyek. Ia adalah jawaban atas penantian panjang—bahwa dari pulau kecil di perbatasan, energi masa depan Indonesia mulai mengalir. (bs,)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *