Di Bawah Cahaya Isra Mi’raj, Ansar Menguatkan Iman dan Merawat Kepedulian Sosial
BATAM, katasiber – Sabtu malam (17/1/2026) di Masjid Bukit Indah Sukajadi, Batam, suasana terasa berbeda. Jamaah memenuhi ruang utama masjid, larut dalam lantunan zikir dan doa.
Di mimbar kehormatan, Gubernur Kepulauan Riau Ansar Ahmad hadir bukan sekadar sebagai pejabat, tetapi sebagai sesama hamba yang mengajak umat merenungi perjalanan agung Nabi Muhammad SAW.
Peringatan Isra Mi’raj malam itu menjadi ruang sunyi untuk bercermin. Tentang iman yang perlu dikuatkan, tentang kepedulian sosial yang harus dirawat, dan tentang salat yang menjadi tiang kehidupan.
Dengan suara tenang, Ansar mengingatkan bahwa Isra Mi’raj bukan sekadar kisah luar biasa, melainkan sumber hikmah yang relevan sepanjang zaman.
“Perjalanan Nabi Muhammad SAW hingga ke langit ketujuh untuk menerima perintah salat lima waktu adalah bukti ketaatan, kesabaran, dan kasih sayang Allah SWT kepada umat-Nya,” ucapnya di hadapan jamaah yang khusyuk menyimak.
Bagi Ansar, peristiwa agung ini adalah penguat iman. Ia mengajak umat menjadikannya sebagai pedoman dalam menghadapi dinamika kehidupan modern yang kerap menggerus ketenangan batin.
“Isra Mi’raj hendaknya mempertebal keimanan, meningkatkan kecintaan kepada Allah SWT, serta menumbuhkan kesabaran dan keikhlasan dalam menjalani kehidupan sehari-hari,” pesannya.
Namun refleksi spiritual itu tidak berhenti di langit. Ansar menarik makna Isra Mi’raj ke bumi, ke realitas sosial masyarakat Kepulauan Riau.
Menurutnya, iman yang kuat harus melahirkan kepedulian yang nyata.
Ia pun memaparkan berbagai ikhtiar Pemerintah Provinsi Kepri dalam memperkuat kehidupan keagamaan dan kesejahteraan umat.
Dari bantuan hibah rumah ibadah, insentif guru TPQ dan penyuluh agama non-ASN, hingga pengiriman mubaligh ke wilayah hinterland agar dakwah menjangkau pulau-pulau terluar.
Tak hanya itu, Pemprov Kepri juga mendorong penguatan ekonomi umat melalui subsidi margin 0 persen, pengembangan ekosistem keuangan syariah lewat Halal Center, serta program kemandirian pesantren (Hebitren) yang dirintis sejak 2021.
Semua itu, menurut Ansar, adalah bagian dari ikhtiar membangun masyarakat yang seimbang antara spiritualitas dan kesejahteraan.
Malam itu semakin bermakna ketika tausiyah disampaikan oleh Abdil Muhadir Ritongga. Ia mengajak jamaah meneladani akhlak Rasulullah SAW dan menjadikan salat sebagai pilar utama pembentukan pribadi dan masyarakat berakhlak mulia.
Di antara saf jamaah, terlihat tokoh masyarakat, ibu-ibu majelis taklim, hingga para pejabat daerah duduk sejajar.
Sebuah potret kebersamaan yang sederhana namun sarat makna.
Dari Masjid Bukit Indah Sukajadi, pesan Isra Mi’raj kembali ditegaskan: bahwa iman bukan hanya untuk disimpan di dada, tetapi untuk dihidupkan dalam kepedulian sosial.
Di bawah cahaya peristiwa langit itu, Ansar mengingatkan, membangun daerah tidak cukup dengan kebijakan dan program. Ia harus dimulai dari hati yang terhubung kepada Tuhan, dan tangan yang terulur kepada sesama. (mas)



