Di Balik Lampu Kota Batam, Dua Warga Dijemput untuk Kembali pada Harapan

BATAM — Lampu-lampu kota Batam bersinar terang, memantul di kaca gedung dan aspal jalanan. Di balik gemerlap itu, masih ada wajah-wajah yang luput dari perhatian.
Mereka berdiri di persimpangan, di bawah terik siang dan dingin malam, menggantungkan hidup dari belas kasih pengguna jalan.
Jumat (16/1/2026), Tim Reaksi Cepat (TRC) Pemerintah Kota Batam kembali menyusuri jalur-jalur hijau kota.
Bukan dengan sirene keras atau pendekatan represif, melainkan dengan langkah pasti yang membawa misi ganda: menjaga ketertiban kota, sekaligus merawat sisi kemanusiaan.
Di salah satu titik, petugas menjumpai seorang badut jalanan. Di balik kostum warna-warni dan riasan senyum, tersembunyi kisah hidup yang tidak selalu seceria penampilannya.
Tak jauh dari sana, seorang pengemis lanjut usia tampak duduk lemah, mengharap recehan dari kendaraan yang melintas.
Keduanya bukan sekadar “ditertibkan”. Mereka dijangkau.
Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika Kota Batam, Rudi Panjaitan, menjelaskan bahwa kegiatan ini merupakan agenda rutin Pemko Batam dalam menjaga ketertiban umum sekaligus estetika kota.
“Tim Reaksi Cepat melakukan penyisiran di sepanjang jalur hijau. Dari kegiatan tersebut, petugas menjangkau dua orang PMKS, masing-masing seorang pemeran badut jalanan dan seorang pengemis lanjut usia,” ujar Rudi.
Namun di balik kalimat resmi itu, tersimpan pesan yang lebih dalam. Penjangkauan ini bukan semata soal menyingkirkan keberadaan PMKS dari ruang publik, melainkan upaya mengembalikan mereka ke jalur kehidupan yang lebih layak.
Setelah didata, kedua warga tersebut dibawa ke UPTD Nilam Suri di Kecamatan Nongsa. Di sanalah mereka akan mendapatkan pembinaan, pendampingan, dan perhatian sosial dari pemerintah. Bukan hukuman, melainkan uluran tangan.
Langkah ini menjadi penegasan bahwa wajah kota yang tertib harus sejalan dengan wajah kota yang berperikemanusiaan.
Rudi menekankan, penanganan PMKS tidak bisa hanya dibebankan kepada pemerintah. Peran masyarakat juga sangat menentukan.
“Kami mengajak masyarakat agar tidak memberikan uang secara langsung di jalanan atau jalur hijau. Bantuan sebaiknya disalurkan melalui lembaga resmi pemerintah, agar penanganan persoalan sosial bisa lebih terarah, terukur, dan berkelanjutan,” katanya.
Di balik operasi TRC, tersimpan harapan besar: Batam bukan hanya kota yang indah dipandang mata, tetapi juga kota yang mampu memanusiakan manusia.
Sebab, di balik kostum badut dan tangan renta yang menengadah, ada cerita hidup yang layak didengar.
Dan di balik penjangkauan itu, terselip harapan agar mereka tidak kembali ke jalanan, melainkan melangkah masa depan yang lebih bermartabat. (*/mas)


