Malam Sekalung Budi untuk Dato’ HM Juramadi Esram, Pengabdian Panjang Sang Penjaga Budaya Kepri

TANJUNGPINANG, katasiber – Gedung Lembaga Adat Melayu (LAM) Kepulauan Riau, Jumat malam (16/1), tampak berbeda dari biasanya. Lampu-lampu temaram berpadu dengan nuansa adat Melayu yang khidmat.
Para tokoh budaya, sejarawan, sastrawan, hingga pejabat daerah hadir dalam satu ikatan rasa yang sama: menyampaikan terima kasih dan penghormatan kepada Dato’ HM Juramadi Esram.





Malam itu bukan sekadar seremoni. Ia adalah malam sekalung budi, malam penghargaan atas perjalanan panjang seorang anak negeri yang mendedikasikan hidupnya untuk kebudayaan Melayu Kepulauan Riau.
Nama HM Juramadi Esram telah lama lekat dalam denyut nadi kebudayaan Kepri. Puluhan tahun ia menapaki jalan sunyi pelestarian budaya, dari menulis, meneliti, membina generasi muda, hingga terlibat aktif dalam berbagai forum kebudayaan.
Jejak pengabdiannya membentang luas, menembus ruang akademik hingga ke tengah masyarakat.
Sebagai puncak acara, Dato’ HM Juramadi Esram dianugerahi Anugerah Jembia Emas, sebuah penghargaan prestisius bagi tokoh yang dinilai berjasa besar dalam menjaga marwah dan kelangsungan budaya Melayu.
Dengan suara tenang namun penuh haru, Juramadi Esram menyampaikan rasa terima kasihnya kepada seluruh pihak yang telah menginisiasi kegiatan tersebut.
“Saya sangat berterima kasih atas kegiatan yang diinisiasi Dato’ Rida dan kawan-kawan. Insyaallah, penghargaan Anugerah Jembia Emas ini akan semakin memotivasi saya untuk terus berkiprah di kebudayaan, khususnya kebudayaan Kepulauan Riau,” ujarnya.
Baginya, penghargaan ini bukanlah garis akhir, melainkan pengingat akan tanggung jawab yang kian besar. Budaya, menurut Juramadi, bukan sekadar warisan masa lalu, tetapi amanah masa depan yang harus terus dijaga dan dihidupkan.
Malam sekalung budi ini terselenggara berkat kolaborasi berbagai lembaga kebudayaan dan komunitas intelektual Kepri, antara lain:
Yayasan Jembia Emas – Dato’ Rida K Liamsi
Yayasan Warisan Bintan – Dato’ H. Huzrin Hood
Masyarakat Sejarawan Indonesia (MSI) Kepri – Dr. Wiwik Swastiwi
Persatuan Penulis Kepri – Dato’ Husnizar Hood
Balai Pelestarian Kebudayaan Kepri – Jumhari, M.Si
Dinas Kebudayaan Kepri – Hery Andriyanto, M.M
Kolaborasi ini mencerminkan satu kesadaran kolektif bahwa menjaga budaya tidak bisa dikerjakan sendiri, melainkan harus dirawat bersama-sama.
Sepanjang acara, kisah-kisah pengabdian Juramadi Esram diperdengarkan. Tentang ketekunannya meneliti sejarah Melayu, kesabarannya membina penulis muda, hingga konsistensinya menyuarakan pentingnya identitas budaya di tengah arus globalisasi.
Di mata banyak hadirin, Juramadi Esram bukan hanya seorang budayawan, melainkan penjaga ingatan kolektif orang Melayu Kepri.
Malam pun kian larut. Namun, di Gedung LAM Kepri, hangatnya penghormatan belum padam.
Tepuk tangan panjang mengiringi langkah Dato’ HM Juramadi Esram, seakan menjadi doa bersama agar ia terus diberi kesehatan dan kekuatan untuk menjaga pusaka budaya negeri segantang lada.
Malam sekalung budi ini bukan sekadar mengenang jasa, tetapi meneguhkan bahwa di Kepulauan Riau, kebudayaan masih memiliki rumah, dan para penjaganya tetap dihormati setinggi-tingginya. (bas)


