Telur dari Kuala Sempang, Harapan Baru Peternak di Balik Program MBG

BINTAN, katasiber – Pagi hari di Desa Kuala Sempang, Kecamatan Seri Kuala Lobam, biasanya dimulai dengan rutinitas yang sama: memberi pakan ayam, membersihkan kandang, lalu memungut telur satu per satu.
Namun bagi Erdis Suhendri, Ketua Kelompok Mawar Jingga, rutinitas itu kini memiliki makna lebih.
Telur-telur yang dikumpulkan tak lagi sekadar menunggu pembeli datang mereka sudah punya tujuan pasti.
Program Makan Bergizi Gratis (MBG) menjadi titik balik bagi peternak ayam petelur di Kabupaten Bintan.
Bagi Erdis dan kelompoknya, program ini bukan hanya soal gizi anak-anak, tetapi juga tentang kepastian pasar bagi peternak lokal.
Dengan sekitar 600 ekor ayam petelur bantuan dari pemerintah pusat, Erdis mampu memproduksi lebih dari 400 butir telur per hari.
Telur berukuran nomor 3 itu kini sebagian terserap untuk mendukung pelaksanaan MBG.
“Paling tidak, program ini bisa membantu menstabilkan harga telur di lingkungan sekitar,” ujar Erdis, dikutip batampos.
Sebelum ada MBG, persoalan klasik peternak adalah pasar.
Harga kerap fluktuatif, penjualan tak menentu. Kini, situasinya perlahan berubah.
Selain memenuhi kebutuhan warga sekitar, telur dari kandang Erdis juga disuplai ke salah satu Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Kita utamakan dulu masyarakat sekitar, baru ke MBG,” katanya.
Suplai telur untuk program MBG dilakukan sekali dalam sepekan, sekitar 1.000 butir, disesuaikan dengan kemampuan produksi.
Jumlah itu mungkin tak besar, tetapi cukup memberi rasa aman bagi peternak kecil seperti Erdis.
“Kita sanggupi sesuai kemampuan,” tambahnya.
Bagi Erdis, MBG adalah program yang baik dan memiliki dampak langsung.
Namun ia berharap pengelolaannya terus diperbaiki, terutama dari sisi keterbukaan dan manajemen.
Menurutnya, kebutuhan bahan pangan untuk MBG sangat besar dan seharusnya bisa menjadi ruang tumbuh bagi lebih banyak masyarakat dan pelaku UMKM lokal.
“Akan lebih baik kalau melibatkan lebih banyak peternak dan UMKM untuk pengadaan bahan pokok,” ujarnya.
Ia optimistis, jika kebutuhan telur MBG dipenuhi dari peternak lokal, manfaatnya akan berlipat. Program berjalan lancar, peternak pun memperoleh kepastian pendapatan.
“Seperti kami ini, walau sedikit, telur bisa terserap. Jadi tidak susah lagi cari tempat menjual,” tutup Erdis.
Di kandang sederhana Kuala Sempang, telur-telur itu kini bukan sekadar hasil ternak. Ia menjadi simbol harapan bahwa program nasional, bila dikelola dengan baik, bisa menyentuh langsung denyut ekonomi masyarakat kecil. (bs)


