Dari Kampung Pelita, Suara Warga Menentukan Arah Batam

BATAM, katasiber – Di sebuah ruangan sederhana di Kantor Lurah Kampung Pelita, Senin (12/1/2026), perencanaan pembangunan Kota Batam dimulai dari hal paling mendasar, mendengar suara warga.
Di situlah Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) tingkat kelurahan digelar sebuah forum yang bagi Wali Kota Batam, Amsakar Achmad, bukan sekadar agenda tahunan, melainkan ruang penting partisipasi masyarakat.
Amsakar hadir langsung dalam Musrenbang Kelurahan Kampung Pelita Tahun 2026.
Ia menegaskan bahwa pembangunan yang berhasil tidak lahir dari balik meja birokrasi semata, tetapi dari keterlibatan aktif warga yang menyampaikan kebutuhan dan aspirasinya secara langsung.
“Musrenbang ini penting karena menjadi wujud konkret partisipasi dan kepedulian masyarakat terhadap pembangunan di daerah,” ujar Amsakar.
Bagi Amsakar, Musrenbang bukan forum formalitas.
Ia adalah ruang dialog tempat pemerintah dan masyarakat duduk setara, berdiskusi secara sehat dan konstruktif.
Karena itu, ia mendorong seluruh peserta memanfaatkan momentum tersebut sebaik mungkin.
“Saya berharap momentum ini kita gunakan untuk berdiskusi. Silakan sampaikan sumbang saran secara objektif, demi kepentingan bersama,” katanya.
Dalam forum tersebut, Amsakar juga mengingatkan bahwa berbagai capaian pembangunan yang telah diraih Batam merupakan hasil kerja kolektif.
Sinergi antara pemerintah, DPRD, masyarakat, dan seluruh pemangku kepentingan menjadi fondasi utama kemajuan kota industri ini.
“Capaian yang kita raih tidak lepas dari peran masyarakat yang luar biasa serta perangkat daerah yang solid. Semua bergerak bersama,” tegasnya.
Namun, ia tidak menutup mata terhadap pekerjaan rumah yang masih tersisa. Persoalan pelayanan air bersih menjadi salah satu perhatian utama.
Amsakar mengakui, pemenuhannya masih dilakukan secara bertahap, namun komitmen penyelesaian tetap menjadi prioritas.
“Pelayanan air bersih memang belum sepenuhnya tuntas, tapi ini terus kita selesaikan secara bertahap,” ungkapnya.
Isu lain yang disoroti adalah pengelolaan sampah. Menurut Amsakar, persoalan ini tidak bisa diselesaikan pemerintah sendiri tanpa kesadaran masyarakat.
Ia mengajak warga menumbuhkan budaya malu membuang sampah sembarangan.
“Mulailah kita tanamkan budaya malu jika membuang sampah tidak pada tempatnya,” ajaknya.
Dari Musrenbang Kelurahan Kampung Pelita, harapan itu dirangkai: usulan yang lahir benar-benar mencerminkan kebutuhan warga, bukan sekadar daftar keinginan.
Forum ini diharapkan menjadi pijakan awal perencanaan pembangunan Kota Batam yang lebih tepat sasaran, partisipatif, dan berkelanjutan.
Di Kampung Pelita, pembangunan Batam dimulai dari satu hal sederhana—mendengar. (*/mas)


