KARIMUN

Saat Bohari Dipeluk Letjen Kunto Arief Wibowo, Jong Melayu Menjadi Cerita Bangsa

Saat Bohari Dipeluk Letjen Kunto Arief Wibowo, Jong Melayu Menjadi Cerita Bangsa.f-ist-untuk katasiber.

KARIMUN, katasiber – Di tengah riuh tepuk tangan pembukaan Festival Jong Nusantara 2026, sebuah momen sederhana justru menjadi sorotan.

Bohari, atlet jong asal Tanjungpinang, tampak terdiam sejenak saat Panglima Komando Gabungan Wilayah Pertahanan I (Pangkogabwilhan I), Letjen TNI Kunto Arief Wibowo, merangkulnya.

Pelukan itu singkat, namun cukup membuat mata Bohari berkaca-kaca.
Momen tersebut terjadi di Pantai Indah, Desa Pangke, Kecamatan Meral Barat, Kabupaten Karimun, Sabtu (10/1/2026), saat Festival Jong Nusantara resmi dibuka oleh Letjen TNI Kunto Arief Wibowo bersama Bupati Karimun, Iskandarsyah.

Di antara deretan pejabat dan tamu undangan, Bohari berdiri sebagai representasi masyarakat pesisir yang setia menjaga tradisi.

Bohari bukan nama asing di arena lomba jong. Atlet sampang tradisional ini telah berulang kali meraih medali dalam berbagai kejuaraan jong di Bintan, Batam, hingga Tanjungpinang.

Namun, baginya prestasi bukanlah tujuan utama. Sebagai anak Melayu, kecintaannya pada jong adalah panggilan hati.

Di keseharian, Bohari bekerja sebagai petani di Tanjungpinang. Meski jadwal kerja padat, setiap kali ada lomba jong, ia selalu menyempatkan diri untuk turun ke arena.

Baginya, jong bukan sekadar perahu lomba, melainkan warisan leluhur yang tak boleh hilang ditelan zaman.

Jong Melayu sendiri merupakan perahu layar tradisional yang telah dikenal sejak ratusan tahun lalu dalam peradaban maritim Melayu.

Dahulu, jong digunakan masyarakat pesisir sebagai sarana pelayaran dan perdagangan antarpulau, sekaligus simbol kepiawaian pelaut Melayu dalam membaca angin dan arus laut di Selat Malaka dan perairan Nusantara.

Seiring perjalanan waktu, fungsi jong bertransformasi. Dari alat transportasi, ia menjelma menjadi tradisi budaya dan olahraga rakyat.

Festival Jong pun lahir sebagai ruang pelestarian menjaga pengetahuan lokal tentang layar, arah angin, dan teknik pelayaran agar tetap hidup di tangan generasi penerus.

Pelukan dari Panglima Kogabwilhan I menjadi pengakuan tersendiri bagi Bohari.

Sebuah isyarat bahwa apa yang ia lakukan berlayar, bertanding, dan bertahan adalah bagian dari menjaga identitas bangsa.

“Kalau bukan kita yang melestarikan perahu jong, budaya kita siapa lagi?” ucap Bohari lirih, namun penuh keyakinan.

Di tengah kibaran layar jong yang berwarna-warni, kisah Bohari menjadi pengingat: tradisi besar sering bertahan karena ketulusan orang-orang sederhana yang menjaganya dengan hati. (bas)

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *