OPINI

242 yang Sepi, Kehilangan Daya Tarik

Robby Patria, dosen UMRAH

Saya tertarik membaca Harian Kompas, Jumat (9/1/2025), kota Bandung mencatat lonjakan Pendapatan Asli Daerah menembus Rp3 triliun lebih tahun 2025. Ibu kota Jawa Barat itu panen wisman dan wisnus.

Begitu juga Yogyakarta dan Bali yang dikunjungi jutaan wisatawan memberi dampak positif terhadap perkembangan dan kemajuan daerah.

Oh ya ini hanya contoh bukan untuk dibandingkan dengan pusat pemerintahan Tanjungpinang.

Kalau mau maju jangan malu mencontoh atau belajar dari daerah lain biar bisa meniru agar lebih maju dari yang ditiru. Malaysia pernah meniru model pendidikan di Indonesia dan mereka pun maju.

Kita lihat tiga ibu kota provinsi yang maju dan digerakkan oleh sektor pariwisata yakni Denpasar Bali, Bandung dan Yogyakarta tentu di luar Jakarta dan Surabaya.

Bandung dan Yogyakarta memberi pelajaran penting tentang bagaimana sebuah kota bisa hidup dari pariwisata tanpa harus bergantung pada sumber daya alam.

Kota Bandung, misalnya, mencatat Pendapatan Asli Daerah (PAD) lebih dari Rp3 triliun pada 2025, dengan kontribusi besar dari pajak kendaraan bermotor. hotel, restoran, hiburan, dan kegiatan ekonomi kreatif.

Event nasional seperti Fun Run, festival musik, pameran kreatif, hingga konferensi internasional menjadikan Bandung bukan sekadar kota tujuan, melainkan kota pengalaman. Wisatawan datang bukan hanya untuk melihat, tetapi untuk berpartisipasi.

Bandingkan dengan Kota Tanjungpinang. Sebagai ibu kota Provinsi Kepulauan Riau, kota ini justru menunjukkan gejala stagnasi. Data kunjungan wisatawan tahun 2025 yang hanya sekitar 62 ribu orang wisman.

Kota ini tampak “hidup” sebagai pusat birokrasi, tetapi “mati suri” sebagai kota tujuan wisata. Pertanyaannya: mengapa sama-sama ibu kota provinsi bisa memiliki nasib yang sangat berbeda? Jawaban paling mudah untuk mengeles karena Bandung Ibu kota penduduk provinsi terbesar di Indonesia. Ya bisa jadi.

Saya kira yang lebih penting lagi, apa rumus ilmiah agar Tanjungpinang bisa mengejar atau setidaknya mendekati Bandung, Bali dan Yogyakarta?

Dalam teori ekonomi perkotaan, sebuah kota akan berkembang bila mampu menciptakan agglomeration effect yakni penumpukan aktivitas ekonomi yang saling menguatkan (Glaeser, 2011).

Bandung dan Yogyakarta maupun Bali berhasil membangun ekosistem tersebut: kampus, komunitas kreatif, UMKM, event, transportasi, dan ruang publik saling terhubung.

Tanjungpinang belum sampai ke tahap itu. Kota ini masih terjebak sebagai administrative city, bukan destination city. Aktivitas ekonomi bertumpu pada belanja pemerintah dan gaji aparatur, bukan pada pergerakan wisatawan. Ketika jam kantor selesai, kota ikut meredup. Contoh kota tua di Jalan Merdeka tetap saja redup walaupun disulap oleh Pemerintah Provinsi Kepri dengan membangun trotoar dan menghias ruko.

Satu kuncinya ini soal daya beli yang rendah. Siapa mau belanja jika ekonomi warga lesu. Anda sulap pun model Hongkong kecil, daya beli warga menurun tak ada yang mau belanja. Bangkitkan ekonomi warga, maka daya beli akan tinggi dan ekonomi pasar akan tumbuh termasuk bidang pariwisata.

Dari perspektif teori pariwisata modern, daya tarik kota tidak harus selalu berupa alam spektakuler. Richards (2018) menyebut konsep creative tourism, di mana wisatawan tertarik pada pengalaman budaya, interaksi sosial, dan narasi lokal. Di sinilah ironi Tanjungpinang: kota ini justru kaya sejarah dan budaya Melayu, tetapi miskin pengemasan.

Saya sempat berbincang dengan budayawan Indonesia di Tanjungpinang, katanya, objek wisata daerah ini minim cerita.

Harusnya dibangun cerita yang menarik supaya turis punya kenangan ketika pulang dari daerah ini dan bisa menceritakan ke teman temannya soal Tanjungpinang.

Bagaimana Pulau Penyengat harusnya didorong menjadi kisah yang menarik melalui cerita asmara antara raja, kisah sumur tua di balai adat, kisah masjid dari putih telur dan lain lain yang bisa dibuatkan naratif yang kuat dan tertancap di benak setiap wisatawan.

Kekuatan cerita membuat wisnus akan penasaran dan pergi ke Pulau Penyengat.

Sama seperti kita ke Bali akan disuguhkan cerita cerita klasik di sana. Termasuk mencuci muka dengan air dan lain lain.

Narasi narasi ini yang tidak kuat tidak dirancang baik oleh pemerintah. Padahal tidak memerlukan biaya yang besar. Di Bali wisnus akan diceritakan kisah drama tarian kecak maupun tarian lainnya yang penuh kisah masa lalu. Dan itu belum kita temukan Di Tanjungpinang maupun di Batam.

Ada banyak kisah kisah sejarah di Pulau Bintan yang bisa dieksplorasi agar menarik bagi wisman. Kemanjuran kopi Sekanak, juga terkait tulisan ringan budayawan Rida K Liamsi di pajang di sana.

Sehingga mereka akan melihat kisah kisah soal kopi zaman kerajaan yang dinarasikan sangat baik oleh Rida K Liamsi. Ini contoh saja bagaimana cerita mempengaruhi orang untuk ke sana kembali.

Rumus Pengembangan Pariwisata Kota

Jika dirumuskan secara sederhana, pengembangan pariwisata daerah dapat ditulis sebagai: Pariwisata Berkelanjutan = (Atraksi × Aksesibilitas × Amenitas) × Narasi × Event × Kelembagaan.

Tanjungpinang lemah bukan pada atraksi semata, melainkan pada perkalian faktor-faktor lain yang tidak bekerja secara simultan. Misalnya soal atraksi. Atraksi ada, tapi tak hidup.

Tanjungpinang memiliki Pulau Penyengat, situs Kesultanan Riau-Lingga, Masjid Sultan Riau, dan jejak sastra Raja Ali Haji. Namun, atraksi ini bersifat pasif: wisatawan datang, melihat, lalu pergi. Tidak ada storytelling yang kuat, tidak ada tur tematik, tidak ada pengalaman imersif seperti pertunjukan budaya rutin atau tur sejarah berbasis narasi.

Bandingkan dengan Yogyakarta, yang menjadikan sejarah sebagai “pertunjukan hidup” melalui paket wisata keraton, kampung batik, hingga festival budaya yang terjadwal.

Dalam teori destination competitiveness (Ritchie & Crouch), aksesibilitas bukan hanya soal bandara atau pelabuhan, tetapi juga kemudahan bergerak di dalam kota. Tanjungpinang kalah di sini. Transportasi publik minim, konektivitas pelabuhan kota destinasi wisata tidak ramah wisatawan, dan informasi wisata kurang terintegrasi secara digital.

Wisatawan modern mencari alasan untuk stay longer. Hotel di Tanjungpinang relatif standar, pusat kuliner tidak dikurasi sebagai pengalaman, dan ruang publik terbatas. Kota tidak menawarkan night economy sesuatu yang justru menjadi kekuatan Bandung dan Yogya.

Perbanyak Event

Salah satu pembeda paling nyata adalah keberanian Bandung dan Yogyakarta maupun Bali menjadikan event sebagai strategi utama.

Dalam teori event-led development, event bukan sekadar hiburan, tetapi instrumen ekonomi untuk menarik arus manusia, uang, dan perhatian (Getz, 2008).

Tanjungpinang hampir tidak memiliki kalender event berskala nasional yang konsisten. Festival budaya Melayu ada, tetapi sporadis dan kurang dipromosikan.

Padahal, kota ini bisa membangun identitas sebagai “Kota Event Budaya Melayu” dengan agenda tahunan misalnya : festival sastra Raja Ali Haji, maraton lintas sejarah Melayu, festival kuliner pesisir, hingga heritage week berskala ASEAN. Tanpa event, kota kehilangan denyut. Wisatawan tidak punya alasan datang pada waktu tertentu.

Dalam perspektif teori institusional Douglass North, budaya bisa menjadi informal institution yang mempercepat atau menghambat pembangunan. Budaya Melayu Tanjungpinang selama ini lebih diposisikan sebagai simbol upacara, slogan, pakaian adat bukan sebagai modal ekonomi.

Padahal, Yogyakarta menunjukkan bagaimana budaya bisa dikomersialisasi tanpa kehilangan martabat. Batik, seni pertunjukan, kuliner tradisional, dan bahasa lokal menjadi bagian dari ekonomi wisata.

Saya pernah ke Pekalongan, maka kita akan disuguhkan bagaimana pengrajin batik di sana membatik. Di Jogja pun kita bisa melihat proses membatik. Ini nilai edukasi yang melekat di ingatan turis yang berkunjung.

Tanjungpinang perlu berani melakukan hal serupa: menjadikan budaya Melayu sebagai pengalaman yang bisa “dibeli” tanpa merendahkan maknanya. Tur bahasa dan sastra Melayu, kelas memasak kuliner pesisir, hingga residensi seniman Melayu internasional adalah contoh konkret.

Masalah paling krusial justru terletak pada kelembagaan. Elinor Ostrom menekankan bahwa keberhasilan pengelolaan sumber daya bersama sangat ditentukan oleh kolaborasi aktor lokal.

Pariwisata Tanjungpinang masih didominasi pendekatan top-down: dinas, anggaran, proyek.

Bandung dan Yogya bergerak dengan governance network: pemerintah, komunitas, kampus, dan pelaku usaha berjalan bersama. Komunitas lari bisa menciptakan Fun Run berskala nasional, komunitas seni bisa menghidupkan ruang kota.

Tanjungpinang belum memberi ruang cukup bagi komunitas untuk menjadi motor wisata. Tanpa partisipasi warga, pariwisata akan selalu terasa artifisial.

Dari Kota Suri ke Kota Cerita
Tanjungpinang bukan kota miskin potensi, melainkan miskin visi dan keberanian. Kota ini terlalu lama memposisikan diri sebagai ibu kota administratif, bukan sebagai kota cerita.

Padahal, di era ekonomi pengalaman (experience economy), kota yang menang adalah kota yang mampu bercerita tentang dirinya sendiri.

Jika Bandung menjual kreativitas dan Yogya menjual tradisi hidup, Tanjungpinang seharusnya menjual narasi peradaban Melayu sebagai akar bahasa Indonesia, simpul sejarah maritim, dan wajah kebudayaan pesisir Nusantara.

Tanjungpinang dikenal dulunya memiliki para penyair yang handal seperti digambarkan Raja Ali Haji. Tapi sampai saat ini di masa modern kita susah menemukan taman taman para penyair tak diciptakan lagi oleh pemerintah.

Saya atau Kita membayangkan di tepi laut rutin ada jadwal baca puisi, baca Gurindam, pameran buku, dan kegiatan lain. Tapi semua itu sunyi. Jika pemerintah mau, sebenarnya tak payah.

Di UMRAH ada jurusan sastra, maka gandeng universitas tersebut untuk meramaikan taman taman para penyair sastra maka akan menarik minat warga untuk ke sana. Misalnya cukup secangkir kopi mereka yang membaca puisi. Atau insentif lainnya membuat mereka bergairah untuk aktif membaca, membedah atau kegiatan lain.

Akhirnya tanpa perubahan paradigma itu, angka kunjungan wisata akan tetap kecil, PAD stagnan, dan kota akan terus hidup di siang hari birokrasi, tetapi sepi sisi ekonomi. Tanjungpinang akan tetap menjadi ibu kota provinsi namun tanpa denyut sebagai kota tujuan.

Oh ya selamat ulang tahun 242. Usia yang tak muda lagi sebagai kota yang bersejarah. Sekarang tergantung Anda, mau diapakan kota ini biarkan saja dengan rutinitas saat ini atau kita berubah lebih agresif? *

Spread the love

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *