Dari Rekonstruksi Pembunuhan Nelayan di Kijang, Wasiat Terakhir Amizan untuk Kakaknya

KIJANG, katasiber – Di halaman sepi sebuah rumah kosong eks pekerja PT Antam di Kijang, Bintan Timur, langkah-langkah aparat kepolisian dan para tersangka perlahan menyusun ulang detik-detik terakhir kehidupan Amizan (31).
Rekonstruksi kasus pembunuhan yang digelar Satreskrim Polres Bintan itu bukan sekadar rangkaian adegan hukum tetapi juga membuka kembali luka keluarga yang belum sempat sembuh.
Di antara warga yang menyaksikan, berdiri seorang remaja perempuan berusia 14 tahun.
Namanya Wulandari. Dengan mata berkaca-kaca, ia menatap adegan demi adegan yang diperagakan para tersangka orang-orang yang merenggut sosok ayah yang selama ini menjadi sandaran hidupnya.
Ada 33 adegan diperagakan dalam rekonstruksi tersebut. Tiga tersangka — Sahril alias Cali (26), La Sahrul (23), dan Yusrin (22) memperlihatkan peran masing-masing dalam peristiwa tragis pada malam itu.
Kanit 1 Pidum Satreskrim Polres Bintan, Iptu Yofi Akbar, menjelaskan bahwa adegan puncak berada pada adegan ke-21.
Di sanalah, tusukan demi tusukan mengakhiri nyawa Amizan.
Sebelum kejadian, mereka sempat menenggak minuman beralkohol bersama.
“Setelah minum, tersangka Sahril langsung menikam perut korban. Korban berusaha melawan dan mencoba lari, namun dihalangi dua tersangka lainnya,” ujar Yofi.
Motif dendam dan persoalan utang piutang memperkeruh emosi. Alkohol mempercepat keberanian. Malam itu, amarah berubah menjadi kematian.
Namun yang paling menyesakkan bagi keluarga bukan hanya cara Amizan pergi melainkan kata-kata terakhirnya sebelum tragedi.
Beberapa jam sebelum kejadian, Amizan sempat berpesan kepada kakaknya, Robiana (39).
“Aku serahkan anak ini sama kamu. Kalau nanti aku pulang kampung, anggaplah Wulan seperti anakmu sendiri,” kenang Robiana lirih, dilansir suaraserumpun.
Seolah sebuah firasat yang tak pernah dimengerti pada waktunya.
Sore hari, Amizan masih sempat berjalan-jalan bersama keluarga di Taman Kota Kijang.
Wulan sempat meminta uang pada ayahnya. Amizan hanya tersenyum dan berkata ia tak punya banyak uang.
“Kalau kamu mau makan, jual saja handphone itu,” ucap Amizan kala itu — kalimat yang kini terus terngiang di telinga Wulan.
Tak lama kemudian, Amizan memeluk keluarga kecilnya. Pelukan terakhir yang ternyata menjadi salam perpisahan.
Malam yang Tak Pernah Terlupakan
Robiana mengaku sempat melarang adiknya pergi menemui ketiga tersangka malam itu.
“Saya sudah bilang, jangan pergi. Tapi dia bilang, itu kawan lamanya,” tuturnya.
Sesampainya di rumah, firasat buruk menyelimuti keluarga. Dan benar malam itu, kehidupan mereka berubah selamanya.
Usai rekonstruksi, Wulan tak mampu lagi menahan tangis. Di hadapan aparat dan warga, ia menyampaikan satu harapan sederhana namun penuh luka.
“Saya ingin mereka dihukum seberat-beratnya. Nyawa dibalas nyawa,” ucapnya terisak.
Di balik kalimatnya, ada trauma, kehilangan, dan masa depan yang terpaksa ia jalani tanpa seorang ayah.
Kasus ini bukan hanya catatan kriminal. Ia adalah kisah tentang keluarga yang kehilangan tulang punggung, seorang anak yang kehilangan pelukan ayah,
dan pesan terakhir yang berubah menjadi amanah seumur hidup.
Di lokasi rekonstruksi itu, hukum bekerja tetapi duka tidak pernah selesai. (*/bs)


