Rabu, Februari 21, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Persepsi Guru tentang Menurunnya Adab Sopan Santun Siswa Kepada Guru di MTs Negeri Bintan

Oleh : Jumaiyah, S.Pd
MTs Negeri Bintan JL. Tenggiri, Kijang Kota, Kecamatan Bintan Timur, Kabupaten Bintan, Kepulauan Riau
Jumaiyahhasan@gmail.com
ABSTRAK :
Tujuan penelitian ini mendeskripsikan tentang persepsi guru terhadap menurunnya adab sopan santun siswa kepada guru di Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Bintan.
Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif kuantitatif dengan subjek penelitian adalah beberapa guru MTs Negeri Bintan. Jumlah guru yang dijadikan subjek penelitian adalah sebanyak 15 guru.
Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah menggunakan angket dan analisisnya menggunakan reliabilitas dengan menggunakan angket.
Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa persepsi guru MTs Negeri Bintan tentang menurunnya adab sopan santun siswa kepada guru berada pada tahap yang serius dan mengkhawatirkan dan perlu adanya perbaikan yang  dilakukan serta pemberian sanksi kepada siswa yang melanggar pelanggaran yang menimbulkan penurunan adad sopan santun saat ini.
Kata Kunci : Persepsi, Sopan Santun, Siswa
Abstract: The aim of this research was to describe teachers’ perceptions towards the decrease of students’ etiquette to the teachers in Madrasah Tsanawiyah (MTs) Negeri Bintan.
This research was quantitative descriptive research with teachers as the subjects. The subjects of this research were 15 teachers of MTs Negeri Bintan. 
Questionnaire tecniques was administered as data collecting technique and the reability by using questionnaire was used as data analysis.
The results of this study indicate that the perception of MTs Negeri Bintan teachers about the decline in students’ manners to teachers is at a serious and worrying stage and there needs to be improvements made and sanctions for students who violate violations that cause a decline in manners today.
Keywords : perception, etiquette, students
I. PENDAHULUAN 
Adab sopan santun merupakan hal yang penting yang harus dimiliki oleh setiap individu dan telah diajarkan sejak kecil.
Adab kesopanan diajarkan secara turun temurun di dalam keluarga, karena sopan santun merupakan hal yang menjadi hal yang dinilai oleh orang lain mengenai bagaimana seseorang bersikap dalam kehidupannya sehari-hari.
Sopan santun menjadi norma tidak tertulis namun tertanam pada diri setiap individu. Adap sopan santun selain didapatkan dari lingkungan keluarga juga diajarkan dan ditanamkan di lingkungan sekolah/madrasah.
Nilai sopan santun tidak lepas dari pendidikan dan merupakan salah satu sasaran dari tercapainya tujuan pendidikan yang selama ini ada di Indonesia.
Dalam Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang Fungsi dan Tujuan Pendidikan yang selama ini ada di Indonesia disebutkan sebagai berikut :
Pendidikan Nasional berfungsi mengembangkan kemampuan dan membentuk watak serta peradaban bangsa yang bermanfaat dalam rangka mencerdaskan bangsa, bertujuan untuk berkembangnya potensi peserta didik agar menjadi manusia yang beriman dan bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa, berakhlak mulia, sehat, beriklim, cakap, kreatif mandiri dan menjadi warga negara yang demokratis serta bertanggung jawab (UU RI Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3 : https://pusdiklat.perpusnas.go.id)
Penurunan adab sopan santun siswa tidak hanya terjadi pada lingkungan masyarakat secara luas, namun wilayah yang lebih sempit seperti sekolah/madrasah juga mengalami penurunan adab sopan santun.
Penurunan sopan santun dapat dilihat dari generasi muda dalam hal ini peserta didik yang cenderung kehilangan etika sopan santun terhadap teman sebaya, orang yang lebih tua, guru dan bahkan orang tua.
Peserta didik semakin hari semakin menunjukkan ketidaksopanan terhadap guru, peserta didik tidak lagi menganggap guru sebagai panutan, sebagai seorang yang memberikan pendidikan dan mentransfer ilmu dan pengetahuan yang seharusnya dihormati dan disegani.
Banyak peristiwa yang terjadi yang menunjukkan penurunan adab sopan santun peserta didik terhadap guru.
Sebagai contoh kasus siswa SMKN 1 Woha Kabupaten Bima (NTB) yang memukul guru karena ditegur usai ketahuan merokok dalam kelas saat jam Pelajaran (Suarantb.com).
Perilaku siswa dalam kasus di atas menujukkan adanya pelanggaran adab sopan santun. Dilihat dari kasus tersebut guru merupakan salah satu kompenen penting dalam pelaksanaan penanaman sopan santun.
Untuk melaksanakan penanaman sopan santun tersebut, maka pandangan guru sebagai pendidik sangat penting.
II. METODE PENELITIAN
Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode penelitian deskriptif dengan pendekatan kuantitatif.
Menurut Sumadi Suryabrata (2012:75)  “penelitian deskriptif adalah untuk membuat pencandraan (deskripsi) secara sistematis, faktual, dan akurat mengenai fakta-fakta dan sifat-sifat populasi atau daerah tertentu”.
Menurut Muhammad Nasir (2013:54) “penelitian deskriptif adalah untuk membuat deskripsi, gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual, dan akurat, mengenai fakta-fakta, sifat-sifat serta hubungan antara fenomena yang diteliti”
Berdasarkan pendapat tersebut dapat didefinisikan bahwa metode penelitian deskriptif adalah metode penelitian yang membuat deskripsi secara sistematis, faktual dan akurat berdasarkan fenomena yang sedang diteliti.
Penelitian ini menggunakan populasi dan sampel yaitu guru yang ada di MTs Negeri Bintan sebanyak 15 orang, yang terdiri dari 10 orang guru perempuan dan 5 orang guru laki-laki.
Pengambilan dan pengumpulan data pada penelitian ini dilakukan dengan Teknik pokok menggunakan angket/kuesioner dan teknik pendukung berupa wawancara dan dokumentasi.
III. HASIL DAN PEMBAHASAN
Persepsi guru tentang menurunnya adab sopan santun siswa kepada guru di MTs Negeri Bintan.
1. Tabel I. Distribusi Hasil Angket Indikator Pemahaman Tentang Menurunnya Adab Sopan Santun Siswa Kepada Guru di MTs Negeri Bintan
No.  Kategori                       Kelas Interval    Frekuensi     Presentase
1.    Paham                         12-15                   7              46,66 %
2.    Kurang paham              8-11                    6               40 %
3.    Tidak paham                4-7                       2              13,33 %
Jumlah                                                           15             100 %
Berdasarkan hasil dari pengelolaan data tentang indikator pemahaman tentang menurunnya adab sopan santun siswa kepada guru didapatkan yakni 46,66% responden kategori paham.
Hal ini responden telah memiliki pemahaman tentang Menurunnya Adab Sopan Santun Siswa Kepada Guru di MTs Negeri Bintan dikarenakan responden sudah mampu menjalankan tugas mereka sebagai guru yang salah satunya mendidik dan mengajarkan mengenai adab.
Selanjutnya 40% responden kategori kurang paham dalam hal ini responden telah memiliki pemahaman yang cukup karena responden dapat menjalankan tugasnya sebagai contoh yang baik di lingkungan sekolah dan 13,33% responden kategori tidak paham berdasarkan kategori tersebut reseponden memiliki tingkat kepatuhan dan pemahaman yang kurang dalam menjalankan tugasnya sebagai teladan yang baik bagi peserta didik.
2. Tabel II.  Distribusi hasil Angket Indikator Tanggapan Tentang Menurunnya Adab Sopan Santun Siswa Kepada Guru di MTs Negeri Bintan
No. Kategori            Kelas Interval       Frekuensi         Presentase
1.   Setuju                  12-15                 10                      66 %
2.   Kurang setuju       8-11                    3                       20%
3.   Tidak setuju          4-7                     2                    13,33 %
Jumlah                                                 15                  100 %
Berdasarkan hasil dari pengelolaan data tentang indikator tanggapan  tentang menurunnya adab sopan santun siswa kepada guru didapatkan yakni 66% responden kategori setuju.
Hal ini ditunjukkan dengan sudah bisa menegur peserta didik yang melakukan pelanggaran adab sopan santun.
Selanjutnya 20% responden berkategori kurang setuju karena responden kebinggungan menegur peserta didik yang bersikap tidak sopan kepada guru, apabila sudah ditegur terkadang diabaikan oleh peserta didik dan di kemudian hari dilakukan kembali dan 13,33% responden ketegori tidak setuju karena kurang terkadang sanksi yang diberikan kepada peserta didik kurang tegas dan sering diabaikan oleh peserta didik.
3. Tabel III. Distribusi Hasil Angket Indikator Harapan Pemberian Sanksi Tentang Menurunnya Adab Sopan Santun Siswa Kepada Guru di MTs Negeri Bintan
No. Kategori               Kelas Interval        Frekuensi      Presentase
1.   Sesuai                     12-15                    9                 60 %
2.   Kurang sesuai          8-11                      4                 26,66 %
3.   Tidak sesuai             4-7                       2                 13,33 %
Jumlah                                                      15                100 %
Berdasarkan hasil dari pengelolaan data tentang indikator harapan didapatkan yakni 60 % responden kategori sesuai harapan dalam hal ini responden memiliki harapan tinggi terhadap adanya sanksi yang diberlakukan oleh sekolah sehingga dapat meningkatkan kesopan santunan peserta didik di lingkungan sekolah.
Dan 26,66 % responden kategori kurang setuju dalam hal ini responden memiliki harapan sedang atau kurang sesuai tentang pemberian sanksi terhadap menurunnya adab sopan santun siswa kepada guru di lingkungan sekolah dimana responden masih memiliki harapan agar apa yang menjadi visi sekolah yang ingin menjadikan siswa-siswinya berbudi pekerti luhur dapat tercapai dan dapat mengurangi pelanggaran sopan santun yang dilakukan oleh peserta.
Dan 13,33 % responden kategori tidak sesuai harapan, berdasarkan kategori tersebut responden tidak memiliki harapan terhadap adanya sanksi yang diberikan dapat membuat siswa jera dan tidak melakukan pelanggaran itu lagi di kemudian hari.
Sopan santun merupakan sebagai perilaku individu yang menjunjung tinggi nilai-nilai menghormati, menghargai, tidak sombong dan berakhlak mulia (Antoro:2010).
Perwujudan dari adab sopan santun ini adalah perilaku yang menghormati orang lain melalui komunikasi yang menggunakan bahasa yang tidak meremehkan atau merendahkan orang lain.
Sopan santun secara umum adalah peraturan hidup yang timbul dari hasil pergaulan dalam kelompok sosial (Puspa Djuwita: 2017)
Dari hasil analisis data penelitian menunjukkan bahwa penurunan adab sopan santun sudah menjadi hal sering terjadi di lingkungan sekolah, hal ini ditunjukkan dari jumlah responden yang dalam indikator pemahaman sebesar 46,66%, dimana para guru tersebut telah sadar dan peduli terhadap semakin menurunnya adab sopan santun di sekolah.
Menurunnya adab siswa saat ini sangat menjadi perhatian di dunia pendidikan. Banyak hal yang dapat menyebabkan penurunan adab sopan santun di sekolah diantaranya teknologi informasi, kurangnya pengawasan orang tua, dan kurangnya keteladanan dalam berlingkungan sosial.
Hasil penelitian juga menunjukkan presentase sebesar 66 % responden setuju dengan aksi pemberian teguran kepada peserta didik yang melakukan pelanggaran terhadap adab sopan santun dan presentase terhadap harapan responden agar adanya sanksi dari sekolah terkait pelanggaran adab sopan santun juga menunjukkan presentase yang tinggi yaitu 60 %.
Hal ini menunjukkan bahwa perlu adanya sanksi yang diberikan kepada peserta didik yang melakukan pelanggaran adab sopan santun yang diharapkan dapat membuat jera pelaku sehingga tidak mengulangi pelanggaran yang sama dan bisa dijadikan contoh bagi peserta didik lain agar tidak sampai melakukan hal yang sama.
Penurunan adab sopan santun yang semakin tinggi menjadi tantangan tersendiri bagi guru, tugas guru sebagai pendidik yang berfungsi dalam menyampaikan informasi menjadi berperan ganda dalam memperbaiki adab sopan santun peserta didik.
Menurunnya adab siswa dapat memiliki dampak jangka panjang terhadap kehidupan masyarakat.
Beberapa dampak yang bisa terjadi diantaranya menurunnya kemampuan berkomunikasi yang baik, gangguan hubangan antara peserta didik dan guru, kurangnya rasa hormat terhadap guru, ketergantungan pada media sosial, kekerasan, dan bahasa sehari-hari yang digunakan menjadi bahasa kasar (https://www.kompasiana.com).
Beberapa cara perlu dilakukan oleh guru sebagai pendidik dalam meningkatkan adab sopan santun di lingkungan sekolah, diantaranya memberikan informasi sekaligus contoh dalam penerapan adab sopan santun yang baik di sekolah, menegur peserta didik yang melakukan pelanggaran adab sopan santun serta memberikan sanksi tegas kepada peserta didik yang telah melanggar adab sopan santun dalam tingkatan yang parah.
IV. KESIMPULAN DAN SARAN
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan oleh peneliti dapat disimpulkan bahwa persepsi guru tentang menurunnya adab sopan santun siswa kepada guru merupakan suatu norma sosial yang dianjurkan namun kurang dilaksanakan sepenuhnya oleh warga sekolah.
Beberapa dampak yang bisa terjadi diantaranya menurunnya kemampuan berkomunikasi yang baik, gangguan hubangan antara peserta didik dan guru, kurangnya rasa hormat terhadap guru, ketergantungan pada media sosial, kekerasan, dan bahasa sehari-hari yang digunakan menjadi bahasa kasar.
Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar guru telah paham dan setuju dengan adanya penurunan adab sopan santun oleh peserta didik dan guru juga setuju jika ada sanki yang diberikan bagi peserta didik yang melanggar adab sopan santun sesuai dengan visi dan misi sekolah.
Berdasarkan simpulan yang telah dipaparkan diatas, maka saran yang dapat penulis berikan sebagai berikut :
1. Kepada sekolah lebih bisa memberikan contoh yang baik kepada siswa seperti sikap guru terhadap sesama guru, dengan karyawan sekolah, dan dengan siswa itu sendiri, membuat adanya janji siswa yang diucapkan saat upacara bendera, memberikan penghargaan kepada siswa yang berperilaku baik di sekolah.
2. Kepada orang tua, hendaknya orang tua ikut mengawasi apa saja yang dilakukan oleh anak di luar dan didalam rumah.
3. Kepada siswa, sebaiknya siswa lebih memperhatikan dari orang-orang sekitar bagaimana berperilaku yang baik.
Jumaiyah, S. Pd
Antoro, D. S. (2010). Pembudayaan Sikap Sopan Santun di Rumah dan Sekolah. Jurnal Pendidikan.
https://pusdiklat.perpusnas.go.id. (n.d.). Undang – Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 Pasal 3.
Juwita, P. (2017). Pembinaan Etika Sopan Santun Peserta Didik Kelas V Melalui Pembelajaran Pendidikan Kewarganegaraan di Sekolah Dasar. – Jurnal PGSD: Jurnal Ilmiah Pendidikan Guru Sekolah Dasar, 27-36.
Nadlifah, I. H. (2023). Kurangnya Adab Terhadap Guru Menjadi Penyebab Tidak Berkahnya Ilmu.  https://www.kompasiana.com.
Nazir, M. (2013). Metode Penelitian. Bogor: Ghalia Indonesia.
Sumadi, S. (2012). Metodologi Penelitian. Jakarta: Rajawali.
Uki. (2023). Siswa Pukul Guru Dikembalikan ke Orang Tua dan Dibina 14 Hari di Polsek Woha. NTB: Suarantb.com.
Artikulli paraprak
Artikulli tjetër

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Articles

zile libere 2024
never single again
Bir Türk kızı amını parmaklıyor
disabled love
trio di teen nude si masturba
ممارسة الجنس مع فتاة مسلمة
pussy piss spy cam