Rabu, Februari 21, 2024
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Situmeang Jamita Mangaraja (Tondi) Bantu Keturunannya

SEKITAR 12 tahun lalu atau tahun 2011, seorang anak Marga Situmeang yang berumur 2 tahun memanjat pohon jambu milik tetangganya di Batam.

Waktu itu ayahnya sedang kerja dan ibunya memasak serta mencuci pakaian di rumah. Si anak tersebut diam-diam membuka pagar rumahnya dan pergi main-main tanpa sepengetahuan ibunya.

Saat itu, si anak itu masih sendiri karena anak pertama. Sedangkan adik-adiknya lahir 4 tahun kemudian.

Si anak ini orangnya lasak, tidak bisa diam. Orangnya suka bergaul meski belum kenal sama sekali. Dia dengan mudah kompak dengan siapa saja baik anak-anak, dewasa maupun orangtua.

Singkat cerita, ibu si anak itu harus menghentikan cuciannya karena mendengar bunyi ponsel. Rupanya yang menelepon adalah adiknya (tantenya si anak) yang saat itu sedang kuliah di Bandung.

“Gak apa-apa kan (si anak), katanya jatuh dari pohon,” tanya tantenya tersebut.

Ibu si anak ini sangat kaget mendengar itu dan langsung mencari anaknya tersebut sambil tetap komunikasi dengan adiknya. Dia mencari di dalam rumah, tidak ada. Dicari di samping rumah, tidak ada.

Dia pun langsung keluar rumah dan memanggilnya. Rupanya anaknya tersebut memang barusan jatuh dari pohon jambu. Jarak rumahnya dari pohon jambu tersebut sekitar 30 meter saja.

Anaknya itu sudah dibawa masuk ke rumah Bapa Udanya, yang persis di depan pohon jambu tersebut dan lukanya sedang dibersihkan.

Si ibu pun langsung membawanya ke bidan yang hanya berjarak 10 meter dari pohon jambu tersebut. Si anak tidak begitu parah dan hanya mengalami luka-luka ringan.

Setelah itu, si anak dibawa ke rumah. Sementara telepon sudah dimatikan sebelumnya. Ketika suasana sudah tenang, si ibu kembali menghubungi adiknya di Bandung.

“Dari mana kau tau dia jatuh? tanya si ibu ke adiknya.

“Oppungnya Situmeang (Jamita Mangaraja) yang membisikkannya samaku. Oppungnya marah sama kakak. Baru satu anaknya, itu pun tak bisa dijaga,” begitulah adiknya menuturkan apa yang dibisikkan Tondi Jamita Mangaraja kepadanya.

Jadi, Situmeang Jamita Mangaraja langsung datang ketika pomparannya hendak mengalami kecelakaan.

Ketika si anak itu jatuh ibunya tidak tahu. Malah diberitahukan ke adiknya yang ada di Bandung. Barulah dari Bandung ditelepon ke Batam.

Kenapa harus melalui adiknya?

Karena ibunya tidak Indigo. Tidak punya panindera keenam. Tidak bisa melihat makhluk halus dan tidak bisa juga mendengar bisikan makhluk halus.

Cerita itu adalah kisah nyata. Si anak tersebut kini sudah Kelas III SMP karena masuk sekolah lima tahun lebih saja.

Lalu, apa hubungannya dengan tulisan sebelumnya?

Jika saja ada orang indigo di lokasi jatuhnya si anak tersebut dan melihat Tondi ni Situmeang No.1, tentu dia akan melihat bahwa Ompung itu sedang marah.

Ompung itu marah bukan sama si anak tersebut atau marah pada orang yang melihatnya, melainkan marah pada ibu si anak karena dianggap tidak bisa menjaga pomparannya.

Padahal, si anak itu lah yang sangat lasak. Pagar rumah sudah ditutup rapat, namun tetap saja ada cara si anak untuk membukanya pelan-pelan agar tidak diketahui ibunya saat hendak keluar rumah.

Jadi, bapak si anak ini juga memiliki adik kandung sekitar 20 meter saja jarak rumah mereka di Batam itu. Si anak ini sering main-main ke rumah Bapa Udanya tersebut terlebih karena banyak jajan disana.

Bapa Udanya itu memiliki warung kecil yang menjual sayuran, ikan, sembako hingga kue-kue dan jajanan lainnya.

Jadi, si anak ini selalu cari kesempatan untuk kabur dari rumah apabila silap sedikit dari pengawasan.

Ketika si anak ini berusia satu setengah tahun, ibunya pergi untuk wawancara kerja. Saat itu ayahnya sudah duluan berangkat kerja.

Lalu, si anak dititip ke tetangganya untuk dijaga dan tentu saja diberi upah yang layak.

Sepulangnya dari wawancara, ibunya langsung ke rumah tetangganya tersebut untuk membawa anaknya sekaligus memberi upah jaga.

Si penjaga anak itu langsung minta ampun dan lain kali tidak mau lagi menjaganya. Dia tidak sanggup menjaganya.

“Tak mau lagi lah jaga anakmu ini. Lasaknya minta ampun. Dari tadi aku tak sempat kerja apa-apa, cuman jagain anakmu ini aja. Gak lagi lah, capek. Dia tak mau diam. Suka manjat-manjat jendela. Jantungan aku,”

Ibunya hanya bisa tertawa. Sebab, dia tahu jika anaknya memang hiper aktif dan selalu kecapekan menjaganya.

Beda dengan saat ini, ketika usianya sudah 14 tahun, bawaan si anak tersebut justru biasa saja. Yang jelas, si anak ini tidak tahu kejadian yang dialaminya di pohon jambu tersebut.

Masih ada cerita lain tentang kehadian Ompung Situmeang Jamita Mangaraja No.1 ini yang tiba-tiba datang membantu pomparannya yang dalam bahaya.

Kami akan buat tulisan berikutnya.

Tulisan ke-7

Oleh : Martunas Situmeang

 

Berikut link berita tentang Situmeang yang bisa dibaca…

Berita-berita tentang Situmeang akan terus kami lanjutkan

 

Link berita Situmeang

 

Tarombo Si Raja Naipospos 5 Anak 7 Marga

Tugu Situmeang Jamita Mangaraja Belum Dibangun

Tempat Sebenarnya Makam Situmeang Jamita Mangaraja

Generasi Situmeang No.9 Masih Hidup Saat Sudah Ada No.19

Situmeang Sudah Generasi ke-19

Situmeang Jamita Mangaraja Orangnya Temperamen

Situmeang Jamita Mangaraja (Tondi) Bantu Keturunannya

Situmeang (Tondi) No.1 Bantu Pomparannya yang Hendak Diracun

Situmeang Jamita Mangaraja No.1 Berperawakan Tinggi, Hitam, Sangar

Cara Martarombo Marga Situmeang

 

 

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Articles

zile libere 2024
never single again
Bir Tรผrk kฤฑzฤฑ amฤฑnฤฑ parmaklฤฑyor
disabled love
trio di teen nude si masturba
ู…ู…ุงุฑุณุฉ ุงู„ุฌู†ุณ ู…ุน ูุชุงุฉ ู…ุณู„ู…ุฉ
pussy piss spy cam