Senin, Februari 6, 2023
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Branding

Oleh : Ria Ukur Rindu Tondang, S.E., M.Ak.

“KESAN pertama begitu menggoda” kata iklan parfum tertentu. Kata-kata itu membuat kita penasaran untuk mencium aroma yang ditawarkan.
Benarkah parfum itu begitu menggoda, atau godaan itu begitu besar karena otak kita sudah terkontaminasi akibat info menarik dari produk tersebut yang sudah kita terima sebelumnya?


Ketika wisatawan begitu tertarik berwisata ke Bali, apakah semata-mata karena keindahannya, atau karena brand image yang sudah terbentuk dalam benak kita?

Rasanya lebih banyak akibat brand image yang sudah tertanam di otak kita, karena kalau masalah keindahan alam, culture dan factor pendukung lainnya, sepertinya masih banyak wilayah lain yang juga baik, namun tingkat ketertarikan wisatawan masih rendah karena brand image nya belum terbentuk.

“Kesan Pertama Begitu Menggoda” adalah bagian dari marketing dalam rangka membangun branding yang melekat diingatan orang.

Branding merupakan pencitraan agar suatu produk dapat menarik dan melekat dipikiran orang.

Dengan demikian tujuan dari branding adalah untuk membangun brand image yang positif agar selalu bagus dibenak konsumen.

Branding yang baik akan membuat konsumen tertarik dan secara berulang menggunakan produk yang dibranding tersebut.

Branding dan Marketing adalah dua hal yang berhubungan erat, meskipun memiliki perbedaan.
Branding adalah pembangunan citra perusahaan yang biasanya membutuhkan waktu yang lama karena harus melewati berbagai uji konsistensi kualitas oleh konsumen.

Sedangkan marketing lebih kepada bagaimana bisa menjual produk kepada konsumen dalam waktu cepat. Marketing massif yang dibarengi dengan kualitas produk yang baik akan mempercepat branding positif atas suatu produk.

Branding akan lebih mudah dilakukan ketika produk yang dibranding itu unik dan berbeda dengan produk lain.

Unsur pembeda inilah yang membuat produk itu menonjol, sehingga mudah melekat (disimpan di otak), dan akan dibeli konsumen pada saat pertama.

Jika produk yang mau dibranding misalnya suatu daerah, maka yang harus ditonjolkan adalah ciri khas daerah tersebut yang berbeda dari wilayah lain.

Jika kita mengambil contoh Kota Tanjungpinang, maka yang bisa ditonjolkan adalah kenyaman dan ketenangannya sebagai tempat tinggal Healing (kota tua), dimana pada jam 10 malam lalu lalang kendaraan sudah jarang.

Pemerintah bisa membranding Tanjung Pinang sebagai kota peristirahatan yang sangat nyaman, aman, bersih dan murah.

Mengingat lokasinya yang sangat dekat dengan luar negeri (Malasya dan Singapura) dengan biaya hidup yang lumayan tinggi, maka Tanjungpinang akan sangat menarik bagi orang-orang yang bosan dengan hiruk-pikut kebisingan kota mereka, dengan biaya yang murah.

Potensi lain yang bisa digali misalnya dibidang pendidikan dengan mengisisiasi kerjasama antara lembaga pendidikan dan badan usaha, baik lokal maupun Negara tetangga terdekat, (Singapura dan Malaysia) yang kebetulan membutuhkan banyak tenaga kerja dari Indonesia.

Biaya hidup yang murah berpadu dengan kualitas pendidikan yang baik, serta jaminan potensi kerja yang besar setelah lulus kuliah, pasti akan menarik banyak pelajar untuk menimba ilmu di Tanjungpinang.

Ekonomi akan maju jika banyak orang tua menyekolahkan anaknya di kota ini. Sebagai contoh, jika universitas Raja Ali Haji (PTN) yang berlokasi di Tanjungpinang bisa dikembangkan kualitasnya, maka jumlah mahasiswa yang semula hanya berjumlah 7.658 orang, bisa meningkat sampai puluhan ribu orang.

Jika jumlah tersebut digabungkan dengan beberapa PTS lain seperti STIE dan STISIPOL dan STIKES dll, maka jumlah pelajarnya bisa mencapai 15.000 orang.

Jika setiap mahasiswa/I menghabiskan uang Rp 2 juta/orang/ bulan, maka uang yang berputar dimasyarakat sudah mencapai Rp30 miliar per bulan.

Kita sungguh yakin jika sektor pariwisata dan pendidikan bisa dikembangkan di kota Tanjungpinang, maka makin sejahteralah kota tersebut.

Hal-hal seperti ini kiranya bisa menjadi perhatian dari pemerintah untuk mengembangkan dan meningkatkan PAD daerahnya.

Jangan monoton memperhitungkan dari hal-hal yang sudah biasa orang lakukan. Sesekali alangkah baiknya berpikir out of the box.
Ayo siapa yang setuju?.***

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Articles