Senin, Februari 6, 2023
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Bakamla Pastikan 2 Kapal Tanker Iran di Laut Natuna Rugikan RI

Jakarta – Komisi I DPR RI melakukan rapat dengar pendapat bersama Badan Keamanan Laut (Bakamla) RI l. Dalam rapat tersebut, Anggota Komisi I DPR RI Fraksi PDIP, TB Hasanuddin menyinggung soal kerugian Indonesia terkait aktivitas 2 kapal tanker Iran dan Panama beberapa waktu yang lalu.
Rapat dengar pendapat ini dilaksanakan Selasa, (2/2/2021), pukul 10.00 WIB di ruang rapat Komisi I DPR RI.

Awalnya TB Hasanuddin mempertanyakan terkait transaksi minyak yang bukan milik Indonesia oleh dua kapal asing di laut Natuna.

“Ketika kapal asing mentransfer BBM ke kapal asing, ini juga ternyata kita nggak bisa apa-apa, saya tanya kenapa? Jawab aja kalau ada transaksi narkoba, di pesawat yang melintas di wilayah Zona NKRI kita juga nggak bisa apa-apa, ini tidak bisa mendeklarasikan ‘ini wilayah saya jangan dipakai transaksi’, ternyata tidak bisa juga, di laut ternyata juga gitu ya? Karena ini milik, kecuali misalnya itu melibatkan kapal Indonesia,” kata TB Hasanuddin dalam rapat dengar pendapat.

TB Hasanuddin menyebut harus ada pendalaman dari sisi hukum terkait persoalan ini ke depannya. Dia mempertanyakan apakah Indonesia dirugikan terkait persoalan dua kapal asing beberapa saat yang lalu.

“Ini dari sisi hukum harus diperdalam begitu, jadi kalau dasarnya sesungguhnya pakai UUD, wilayah Kesatuan NKRI harus dikontrol oleh yang punya NKRI, tidak boleh ada kejahatan di wilayah itu, artinya TKP-nya ya TKP milik kita, wilayah kita, bahwa pelakunya bahwa kita tidak dirugikan ini menjadi hal-hal yang harus kita masukan juga dalam hal-hal ini,” ucapnya, seperti dilansir detikcom.

Kepala Bakamla (Kabakamla) Laksamana Madya (Laksdya) Aan Kurnia lantas menjawab hal tersebut. Dia memastikan Indonesia dirugikan dari kegiatan ship to ship kapal asing di Laut Natuna.

“Ada menarik dari Pak TB Hasanuddin ini kalau minyaknya bukan milik Indonesia lalu kapalnya yang satu bendera asing yang satu lagi juga bendera asing, ini kan nggak merugikan Indonesia? Kalau jawaban saya ini keliru besar pak, karena ini pelaksanaannya di laut teritorial kita,” jawab Aan, Pria yang lahir di Dabo Singkep, Lingga Kepulauan Riau (Kepri), 22 Juli 1965 ini.

Aan menyebut Indonesia dirugikan lantaran kegiatan transfer minyak itu dilaksanakan di laut teritorial Indonesia. Menurutnya ini jelas melecehkan kedaulatan Indonesia.
“Masalah rugi tidaknya dengan transfer bahan bakar yang bukan minyaknya Indonesia, tapi ini tetap rugi dan kita dilecehkan masalah kedaulatan karena pelaksanaan di laut teritorial,” ujarnya.

Lebih lanjut, Aan menyebut Indonesia juga dirugikan dalam segi bea masuk transaksi ship to ship itu. Tak hanya itu, hukuman kepada kedua kapal tersebut juga disebut kecil hanya paling tinggi Rp 200 juta.

“Itu harusnya ada bea nya untuk kita, itu berlaku UU RI, beda dengan di laut internasional, mohon ini digarisbawahi, jadi kasus kapal Iran dan kapal berbendera Panama ini transaksinya di perairan kepulauan, itu berlaku UU nasional, UU nomor 17 tentang pelayaran, itu kejahatan masuknya di situ,” jelas Aan.

“Tapi sanksinya yang tertinggi Rp 200 juta, padahal isinya sudah dihitung ini Rp 1,8 T, mungkin dia merem aja itu, yang tertinggi 200 juta selesai, dan terulang terulang lagi,” lanjutnya.

Sebelumnya diberitakan, persoalan ship to ship kapal asing ini terjadi pada Minggu (24/1). Saat itu, KN Pulau Marore-322 mengamankan dua kapal berjenis MT yang sedang melaksanakan ship to ship. Diduga, kedua kapal tersebut melakukan transfer BBM ilegal dan dengan sengaja menutup nama lambung kapal dengan kain serta mematikan AIS untuk mengelabui aparat penegak hukum Indonesia.

Kedua kapal tanker itu diduga melanggar hak lintas transit pada ALKI I dengan keluar dari batas 25 NM ALKI melakukan lego jangkar di luar ALKI tanpa izin otoritas terkait. Selain itu, kapal tersebut melaksanakan ship to ship transfer BBM ilegal, tidak mengibarkan bendera kebangsaan, AIS dimatikan, dan MT Freya melaksanakan oil spilling.(sp)

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Articles