Selasa, September 27, 2022

Aplikasi pada Kuota Belajar Jadi Polemik

TANJUNGPINANG – Hingga Selasa (6/10), masih banyak siswa belum menerima paket internet, untuk digunakan belajar sistem daring atau online dari rumah.

Belajar jarak jauh masih diberlakukan, khusus di wilayah Provinsi Kepulauan Riau (Kepri), khususnya Kota Tanjungpinang. Namun, kuota internet yang dijanjikan pemeintah pusat, masih banyak siswa belum menerima.

Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) memberikan penjelasan lebih lanjut terkait penunjukan aplikasi yang tergabung dalam kuota belajar. Sebelumnya terdapat beberapa aplikasi yang tidak kredibel dan tidak dikenali oleh warga pendidikan.

“Kira-kira pada Juni-Juli, kami bersama operator seluler melakukan riset, aplikasi apa yang sering dipakai selama era pandemi ini, itu kami sebar ke 500 ribu guru dan orang tua siswa,” ujar Plt Kepala Pusat Data dan Informasi (Kapusdatin), Hasan Chabibie dalam diskusi daring, Minggu (4/10).

Dari riset tersebut, menurutnya yang paling tinggi penggunaannya adalah WhatsApp. Guru sering berinteraksi lewat siswanya melalui media tersebut. Lalu, yang paling banyak dipakai selanjutnya adalah video conference dan learning management system (LMS) dan sumber belajar lain termasuk YouTube.

“Jadi akhirnya kami pada saat menyusun sekian aplikasi dalam daftar wait list, yang diberikan kuota besar untuk bisa mengakses di sana terutama WA dan video conference itu kita masukkan di kuota belajar,” imbuhnya.

Dia kembali mengatakan bahwa 19 aplikasi yang terdaftar saat ini tidak tetap. Bahkan, pihaknya sudah mendapat surat dari berbagai aplikator pendidikan untuk bisa tergabung dalam program tersebut.

“Contoh ada dari Jogja mereka buat aplikasi, dia bilang mohon difasilitasi dan aplikasinya itu dipakai hampir 20 ribu orang seluruh Indonesia. Itu dia masuk wait list (daftar tunggu),” jelasnya.

Untuk menjadikan aplikasi itu masuk dalam wait list program kuota gratis, web atau aplikasi itu harus memiliki domain, nomor ip serta harus berbicara system to system, untuk kemudian pada saat mengakses domain itu kuota gratisnya yang terserap.

“Jadi misalnya ada pengembang lokal yang memiliki aplikasi pembelajaran yang bagus dan itu bisa menambah khazanah dari daftar wait list ini, semakin banyak semakin bagus. Saya mikirnya akan nyari 100, emang yang dipakai (warga pendidikan) 5 atau 6 (aplikasi) yang paling gede, tapi nggak menutup kemungkinan yang lain itu dipakai, meski yang lain kecil,” ujarnya.*

Sumber:sp/jpnn

Related Articles

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

spot_imgspot_imgspot_imgspot_img
spot_img
spot_imgspot_imgspot_imgspot_img

Latest Articles